Atasi Disparitas Harga Batubara, Rapsel Ali Usul Begini

Keluhan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengenai adanya perbedaan harga dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) dengan harga internasional ditanggapi Anggota Komisi VI DPR Muhammad Rapsel Ali. Dia berharap, Pemerintah memberi solusi atas hal dikeluhkan APBI itu. Dalam hal ini, ia mengatakan harus ada penganggaran yang memadai di APBN.

“Negara harus tegaskan di APBN, pembelian batubara dan LNG (liquefied natural gas) nasional Rp 500 triliun per tahun untuk mendukung langkah operasional PLN,” ucap Rapsel, dalam keterangannya, yang diterima redaksi, Jumat (7/1).

Sebelumnya, Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia dalam Market Review IDX Channel mengeluhkan masalah harga jual untuk kebutuhan DMO yang jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar internasional. Harga pasar internasional saat ini mencapai angka 174 dolar Amerika Serikat (AS) per metrik ton. Sementara untuk DMO dipatok hanya 70 dolar AS per metrik ton.

Kata Hendra, disparitas harga yang teramat besar itu membuat masalah sering muncul. Kendati demikian, dia mengklaim, kewajiban perusahaan tambang batubara mengalokasikan 25 persen produksinya ke industri dalam negeri, termasuk untuk ketenagalistrikan tetap mereka jalankan. Pemenuhan DMO batubara sebagai bentuk komitmen dalam membantu pemenuhan kebutuhan listrik nasional.

Mendengar komitmen para pengusaha, Rapsel menyatakan, negara harus menghargai dengan langkah-langkah konkret melalui APBN. “Silakan Pemerintah memilih opsi Penyertaan Modal Negara (PMN) atau Smart Financing,” ucapnya. [USU]

]]> Keluhan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengenai adanya perbedaan harga dalam pemenuhan kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) dengan harga internasional ditanggapi Anggota Komisi VI DPR Muhammad Rapsel Ali. Dia berharap, Pemerintah memberi solusi atas hal dikeluhkan APBI itu. Dalam hal ini, ia mengatakan harus ada penganggaran yang memadai di APBN.

“Negara harus tegaskan di APBN, pembelian batubara dan LNG (liquefied natural gas) nasional Rp 500 triliun per tahun untuk mendukung langkah operasional PLN,” ucap Rapsel, dalam keterangannya, yang diterima redaksi, Jumat (7/1).

Sebelumnya, Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia dalam Market Review IDX Channel mengeluhkan masalah harga jual untuk kebutuhan DMO yang jauh lebih rendah dibandingkan harga pasar internasional. Harga pasar internasional saat ini mencapai angka 174 dolar Amerika Serikat (AS) per metrik ton. Sementara untuk DMO dipatok hanya 70 dolar AS per metrik ton.

Kata Hendra, disparitas harga yang teramat besar itu membuat masalah sering muncul. Kendati demikian, dia mengklaim, kewajiban perusahaan tambang batubara mengalokasikan 25 persen produksinya ke industri dalam negeri, termasuk untuk ketenagalistrikan tetap mereka jalankan. Pemenuhan DMO batubara sebagai bentuk komitmen dalam membantu pemenuhan kebutuhan listrik nasional.

Mendengar komitmen para pengusaha, Rapsel menyatakan, negara harus menghargai dengan langkah-langkah konkret melalui APBN. “Silakan Pemerintah memilih opsi Penyertaan Modal Negara (PMN) atau Smart Financing,” ucapnya. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories