Atasi Banjir Tak Bisa Sepotong-sepotong Proyek Rumah Panggung Hambat Normalisasi Sungai

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebaiknya membatalkan rencana pembangunan 40 rumah panggung di Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Sebab, hal itu kontraproduktif dengan program normalisasi sungai.

Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur menyampaikan, rumah panggung rencananya dibangun dengan tinggi kaki-kakinya 3,5 meter. Hal ini bertujuan agar tidak ada lagi perabotan rumah warga yang terendam saat banjir.

Pembangunan rumah panggung akan dilakukan di RT13, 11, 5 dan 6 di RW 04 Kampung Melayu, Jakarta Timur. Anggarannya Rp 78 juta per rumah. Program ini dibiayai Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jakarta. Tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Rumah panggung tersebut akan memiliki tiga lantai. Paling bawah untuk tempat produksi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) seperti pembuatan kue kering yang menjadi ciri khas usaha warga di Kampung Melayu. Dua lantai lagi untuk aktivitas tempat tinggal.

Kawasan Kebon Pala selama ini menjadi langganan banjir. Pada Februari lalu, banjir menerjang wilayah tersebut sampai 2 meter. Ratusan warga selalu mengungsi saat banjir terlalu lama surut. Wilayah Kebon Pala mencakup RW 004, 005, 006, 007 dan 008 Kelurahan Kampung Melayu. Wilayah-wilayah tersebut memiliki permukaan tanah yang sejajar dengan bibir Kali Ciliwung.

Banjir di wilayah itu terjadi akibat luapan Kali Ciliwung. Banjir di Kebon Pala bergantung pada ketinggian air di pintu air Katulampa Bogor dan Depok.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono menilai, rumah panggung tidak efektif menyelesaikan masalah banjir.

“Enggak bisa mengatasi banjir sepotong-sepotong, enggak bisa sesuai selera. Normalisasi, tidak ada cara lain. Kalau daerah banjir, tak ada cara lain kecuali normalisasi,” sebutnya.

Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta, Rani Mauliani juga memandang pembangunan rumah panggung di Kampung Melayu bukan solusi utama dalam mengatasi banjir. Pihaknya mewanti-wanti tiang dan fondasi rumah panggung bakal rapuh jika kerap direndam banjir.

“Rumahnya sudah tinggi, terus masih banjir selalu, ya lama-lama fondasi bagian bawah juga kan berisiko rapuh kalau terus-terusan sering diterjang banjir,” katanya.

 

Selain itu, lanjutnya, rumah panggung tidak bisa menjamin warga bisa melakukan aktivitas jika kolong rumahnya terendam.

“Mungkin iya barang-barang aman dari rendaman banjir. Terus bagaimana aktivitas hari-harinya kalau nggak bisa turun, alias ngejogrok di atas tanpa bisa melakukan aktivitas,” sambungnya.

Rani menekankan pentingnya penyelesaian banjir dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Masalah banjir jangan hanya diatasi dengan solusi janga pendek.

Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi NasDem, Nova Harivan Paloh juga mempertanyakan efektivitas pembangunan rumah panggung untuk mengatasi banjir.

“Program untuk masalah banjir ini terkait di kiri kanan aliran sungai. Itu perlu pembesaran kali,” katanya.

Nova menilai, rumah panggung juga tidak terlalu banyak membantu warga. Karena, jika sungai meluap, air akan menggenangi kolong tersebut, warga tidak bisa beraktivitas.

Tuntut Normalisasi Sungai

Warga Kebon Pala, Niko Setiawan berharap, agar normalisasi Kali Ciliwung segera dilanjutkan. Kegiatan normalisasi terakhir kali terjadi tahun 2017. “Terakhir normalisasi pada 2015, selesai 2017. Itu mencakup RW 01, 02, dan 03 atau yang biasa disebut wilayah Kampung Pulo,” kata Niko, kemarin.

Namun, sampai kini desas desus normalisasi hanya sebatas pengukuran dan penggarisan saja. Tak pernah ada wacana lebih lanjut untuk melakukan pembebasan lahan milik warga.

 

“Memang sejak zaman (Gubernur) Fauzi Bowo ada penggarisan, pengukuran sering tuh. Itu juga sering berubah sampai tiga kali penggarisannya. Tapi ya emang nggak ada omongan normalisasi segala macam,” ungkap Niko.

Haryanti, warga Kebon Pala, mengaku pasrah rumahnya sering kebanjiran. “Ya mau gimana lagi, sudah begini keadaannya,” ujar Haryanti.

Haryanti mengatakan, sempat ada wacana warga akan digusur, tetapi kini kabar itu tidak jelas. “Dulu ada rencana digusur, tapi enggak jadi tuh. Sekarang berhenti dan enggak ada kelanjutan,” ucap dia.

Menurutnya, warga di Kebon Pala selalu siaga jika ada peringatan akan datang banjir. Air dari Katulampa sampai ke Kebon Pala antara 8-9 jam, sedangkan dari Depok antara 5-6 jam.

“Jadi masih ada waktu bagi warga bersiap-siap menerima air kiriman dari Bogor maupun Depok,” ujarnya.

Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria mengaku terbuka dengan semua masukan soal proyek rumah panggung di Kampung Melayu.

“Itu kan untuk menghindari banjir. Setiap warga boleh memberikan pendapat. Silakan nanti kita diskusi terkait konsep penanganan banjir upamanya di Kebon Pala, Condet, Kalibata. Kami sangat terbuka dengan masukan,” katanya.

Riza menyatakan, semua program penanggulangan banjir bukanlah keputusan sepihak dari Pemprov DKI atau hanya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“Kami mendengarkan semua pihak dan para ahli. Dan kami diskusikan dengan DPRD, tidak ada keputusan sepihak, semua bersama DPRD,” sebutnya. [OSP]

]]> Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebaiknya membatalkan rencana pembangunan 40 rumah panggung di Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Sebab, hal itu kontraproduktif dengan program normalisasi sungai.

Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur menyampaikan, rumah panggung rencananya dibangun dengan tinggi kaki-kakinya 3,5 meter. Hal ini bertujuan agar tidak ada lagi perabotan rumah warga yang terendam saat banjir.

Pembangunan rumah panggung akan dilakukan di RT13, 11, 5 dan 6 di RW 04 Kampung Melayu, Jakarta Timur. Anggarannya Rp 78 juta per rumah. Program ini dibiayai Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jakarta. Tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Rumah panggung tersebut akan memiliki tiga lantai. Paling bawah untuk tempat produksi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) seperti pembuatan kue kering yang menjadi ciri khas usaha warga di Kampung Melayu. Dua lantai lagi untuk aktivitas tempat tinggal.

Kawasan Kebon Pala selama ini menjadi langganan banjir. Pada Februari lalu, banjir menerjang wilayah tersebut sampai 2 meter. Ratusan warga selalu mengungsi saat banjir terlalu lama surut. Wilayah Kebon Pala mencakup RW 004, 005, 006, 007 dan 008 Kelurahan Kampung Melayu. Wilayah-wilayah tersebut memiliki permukaan tanah yang sejajar dengan bibir Kali Ciliwung.

Banjir di wilayah itu terjadi akibat luapan Kali Ciliwung. Banjir di Kebon Pala bergantung pada ketinggian air di pintu air Katulampa Bogor dan Depok.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono menilai, rumah panggung tidak efektif menyelesaikan masalah banjir.

“Enggak bisa mengatasi banjir sepotong-sepotong, enggak bisa sesuai selera. Normalisasi, tidak ada cara lain. Kalau daerah banjir, tak ada cara lain kecuali normalisasi,” sebutnya.

Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta, Rani Mauliani juga memandang pembangunan rumah panggung di Kampung Melayu bukan solusi utama dalam mengatasi banjir. Pihaknya mewanti-wanti tiang dan fondasi rumah panggung bakal rapuh jika kerap direndam banjir.

“Rumahnya sudah tinggi, terus masih banjir selalu, ya lama-lama fondasi bagian bawah juga kan berisiko rapuh kalau terus-terusan sering diterjang banjir,” katanya.

 

Selain itu, lanjutnya, rumah panggung tidak bisa menjamin warga bisa melakukan aktivitas jika kolong rumahnya terendam.

“Mungkin iya barang-barang aman dari rendaman banjir. Terus bagaimana aktivitas hari-harinya kalau nggak bisa turun, alias ngejogrok di atas tanpa bisa melakukan aktivitas,” sambungnya.

Rani menekankan pentingnya penyelesaian banjir dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Masalah banjir jangan hanya diatasi dengan solusi janga pendek.

Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi NasDem, Nova Harivan Paloh juga mempertanyakan efektivitas pembangunan rumah panggung untuk mengatasi banjir.

“Program untuk masalah banjir ini terkait di kiri kanan aliran sungai. Itu perlu pembesaran kali,” katanya.

Nova menilai, rumah panggung juga tidak terlalu banyak membantu warga. Karena, jika sungai meluap, air akan menggenangi kolong tersebut, warga tidak bisa beraktivitas.

Tuntut Normalisasi Sungai

Warga Kebon Pala, Niko Setiawan berharap, agar normalisasi Kali Ciliwung segera dilanjutkan. Kegiatan normalisasi terakhir kali terjadi tahun 2017. “Terakhir normalisasi pada 2015, selesai 2017. Itu mencakup RW 01, 02, dan 03 atau yang biasa disebut wilayah Kampung Pulo,” kata Niko, kemarin.

Namun, sampai kini desas desus normalisasi hanya sebatas pengukuran dan penggarisan saja. Tak pernah ada wacana lebih lanjut untuk melakukan pembebasan lahan milik warga.

 

“Memang sejak zaman (Gubernur) Fauzi Bowo ada penggarisan, pengukuran sering tuh. Itu juga sering berubah sampai tiga kali penggarisannya. Tapi ya emang nggak ada omongan normalisasi segala macam,” ungkap Niko.

Haryanti, warga Kebon Pala, mengaku pasrah rumahnya sering kebanjiran. “Ya mau gimana lagi, sudah begini keadaannya,” ujar Haryanti.

Haryanti mengatakan, sempat ada wacana warga akan digusur, tetapi kini kabar itu tidak jelas. “Dulu ada rencana digusur, tapi enggak jadi tuh. Sekarang berhenti dan enggak ada kelanjutan,” ucap dia.

Menurutnya, warga di Kebon Pala selalu siaga jika ada peringatan akan datang banjir. Air dari Katulampa sampai ke Kebon Pala antara 8-9 jam, sedangkan dari Depok antara 5-6 jam.

“Jadi masih ada waktu bagi warga bersiap-siap menerima air kiriman dari Bogor maupun Depok,” ujarnya.

Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria mengaku terbuka dengan semua masukan soal proyek rumah panggung di Kampung Melayu.

“Itu kan untuk menghindari banjir. Setiap warga boleh memberikan pendapat. Silakan nanti kita diskusi terkait konsep penanganan banjir upamanya di Kebon Pala, Condet, Kalibata. Kami sangat terbuka dengan masukan,” katanya.

Riza menyatakan, semua program penanggulangan banjir bukanlah keputusan sepihak dari Pemprov DKI atau hanya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“Kami mendengarkan semua pihak dan para ahli. Dan kami diskusikan dengan DPRD, tidak ada keputusan sepihak, semua bersama DPRD,” sebutnya. [OSP]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories