AS Prihatin Soal Perbatasan Ukraina, Rusia Masa Bodoh

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengaku prihatin atas militerisasi Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina. Tepatnya di perbatasan utara dan timurnya serta di semenanjung Krimea. Moskow tidak membantah pergerakan pasukan itu tetapi bersikeras tidak mengancam siapa pun.

Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan, jumlah pasukan Rusia di perbatasan Ukraina jauh lebih besar dibanding saat Rusia menganeksasi Rusia atas Krimea pada 2014.

“Amerika Serikat semakin prihatin dengan meningkatnya agresi Rusia di timur Ukraina, termasuk pergerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina,” kata Psaki kepada wartawan di Washington, Kamis (8/4).

“Ini semua adalah tanda yang sangat mengkhawatirkan,” imbuhnya dikutip CNBC, Jumat (9/4). Hal ini disampaikan Psaki setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengunjungi garis depan timur, tempat pertempuran antara tentara Ukraina dan separatis yang didukung Rusia meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Menanggapi hal tersebut, Rusia bersikap masa bodoh. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, negaranya siap merespons setiap sanksi baru yang hendak dijatuhkan Paman Sam kepada negaranya. Dia menyatakan semua upaya menekan Moskow pasti gagal.

Lavrov menggambarkan kebijakan AS terhadap Rusia sebagai sikap bodoh yang bakal berujung tanpa ada efek apapun pada Rusia.

“Tindakan seperti itu telah mengajari kami satu hal: Kami perlu mengandalkan diri kami sendiri karena AS dan sekutunya bukanlah mitra yang dapat diandalkan. Tentu saja kami akan menanggapi setiap langkah yang tidak bersahabat,” kata Lavrov di sela-sela kunjungannya ke Kazakhstan pada Kamis (8/4).

Selain AS, Jerman juga menyatakan kekhawatirannya atas pengerahan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina. Kanselir Jerman Angela Merkel meminta Moskow untuk mengurangi pengerahan pasukannya. Dalam pembicaraan di telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (8/4), Merkel memintanya untuk mengurangi pasukan di perbatasan guna mengurangi ketegangan.

Konflik di perbatasan Ukraina yang meletus setelah aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014, mereda ketika perjanjian gencatan senjata baru diberlakukan Juli 2020. Namun, bentrokan, terutama yang melibatkan tembakan artileri dan mortir, telah terjadi lagi sejak awal tahun, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan. Separatis Ukraina diduga mendapat dukungan politik dan militer Rusia, yang dibantah Moskow. [DAY]

]]> Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengaku prihatin atas militerisasi Rusia di sepanjang perbatasan Ukraina. Tepatnya di perbatasan utara dan timurnya serta di semenanjung Krimea. Moskow tidak membantah pergerakan pasukan itu tetapi bersikeras tidak mengancam siapa pun.

Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan, jumlah pasukan Rusia di perbatasan Ukraina jauh lebih besar dibanding saat Rusia menganeksasi Rusia atas Krimea pada 2014.

“Amerika Serikat semakin prihatin dengan meningkatnya agresi Rusia di timur Ukraina, termasuk pergerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina,” kata Psaki kepada wartawan di Washington, Kamis (8/4).

“Ini semua adalah tanda yang sangat mengkhawatirkan,” imbuhnya dikutip CNBC, Jumat (9/4). Hal ini disampaikan Psaki setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengunjungi garis depan timur, tempat pertempuran antara tentara Ukraina dan separatis yang didukung Rusia meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Menanggapi hal tersebut, Rusia bersikap masa bodoh. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, negaranya siap merespons setiap sanksi baru yang hendak dijatuhkan Paman Sam kepada negaranya. Dia menyatakan semua upaya menekan Moskow pasti gagal.

Lavrov menggambarkan kebijakan AS terhadap Rusia sebagai sikap bodoh yang bakal berujung tanpa ada efek apapun pada Rusia.

“Tindakan seperti itu telah mengajari kami satu hal: Kami perlu mengandalkan diri kami sendiri karena AS dan sekutunya bukanlah mitra yang dapat diandalkan. Tentu saja kami akan menanggapi setiap langkah yang tidak bersahabat,” kata Lavrov di sela-sela kunjungannya ke Kazakhstan pada Kamis (8/4).

Selain AS, Jerman juga menyatakan kekhawatirannya atas pengerahan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina. Kanselir Jerman Angela Merkel meminta Moskow untuk mengurangi pengerahan pasukannya. Dalam pembicaraan di telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (8/4), Merkel memintanya untuk mengurangi pasukan di perbatasan guna mengurangi ketegangan.

Konflik di perbatasan Ukraina yang meletus setelah aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014, mereda ketika perjanjian gencatan senjata baru diberlakukan Juli 2020. Namun, bentrokan, terutama yang melibatkan tembakan artileri dan mortir, telah terjadi lagi sejak awal tahun, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan. Separatis Ukraina diduga mendapat dukungan politik dan militer Rusia, yang dibantah Moskow. [DAY]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories