Aplikasi JakLingko Dikeluhkan Warga Tak Teliti, Penumpang Kena Tarif Lebih Mahal

Alih-alih membayar ongkos lebih murah, pengguna transportasi umum malah kudu bayar ongkos lebih mahal dengan adanya aplikasi JakLingko. Warga pun mengeluhkan implementasi sistem tarif integrasi antarmoda transportasi tersebut. PT JakLingko harus segera memperbaiki kelemahan aplikasi tersebut.

Pengguna transportasi umum di wilayah Jakarta dapat menikmati tarif integrasi antarmoda transportasi, mulai Kamis (11/8). Penerapan tarif integrasi ini merupakan realisasi Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor Nomor 733 Tahun 2022 tentang Besaran Paket Tarif Layanan Angkutan Umum Massal.

Namun sayang, banyak warga menemukan kendala dalam implementasinya seperti sistem error dan pengenaan tarif yang justru jadi lebih mahal. Salah satunya diungkapkan akun @ekispace_ di kolom komentar @jaklingkoindonesia, akun Instagram PT JakLingko Indonesia yang mengelola tarif integrasi.

“Barusan saya coba beberapa skenario, ada yang tarifnya malah jadi makin mahal min. Contoh saya input asal dari Stasiun LRT Boulevard Utara tujuan ke Halte Transjakarta CBD Ciledug (koridor 13),” tulis @ekispace_.

Dirincikannya, menuju rute itu, tarif LRT Jakarta Rp 5.000, Transjakarta koridor 4C, 13C dan 13 dengan tarif Rp 3.500 sehingga totalnya Rp 8.500.

“Dengan mengakses penerapan tarif integrasi baru ini, tarif termurah dari rute Boulevard Utara-CBD Ciledug yang saya temukan di aplikasi JakLingko malah jadi lebih mahal, Rp 9.250. Semoga dapat terus dievaluasi dan diperbaiki ya min,” harapnya.

Namun @ekispace_ mengakui, untuk beberapa skenario lain, tarifnya memang menjadi murah. Dicontohkannya, dari Lebak Bulus ke MalI Kelapa Gading hanya Rp 8.750, padahal normalnya Rp 20.500. Tarif tersebut bisa didapat jika mengikuti rute yang disarankan oleh aplikasi. Yakni, MRT dari Lebak Bulus ke Benhil, transit Transjakarta rute 4C dari Karet ke Pemuda Rawamangun, transit LRT Jakarta dari Velodrome ke Boulevard Utara.

“Saya sarankan jangan lupa saat memilih berbagai opsi rute yang disediakan di aplikasi, harus dicermati detail rencana rutenya,” pesannya.

 

Hanya saja, @ariobimo menilai, pilihan rute di aplikasi tidak praktis, jadi muter-muter. “Contoh saya mau ke Harmoni dari Fatmawati, harusnya kan bisa naik MRT dari Fatmawati turun di Stasiun ASEAN, ganti ke koridor 1 di CSW. Lah ini kok disuruh turun di Bunderan Senayan, naik Transjakarta sampe Sawah Besar. Padahal jelas-jelas saya input-nya Halte Harmoni Busway,” keluh @ariobimo.

Selain kritik, ada warganet lain memberi usulan supaya tarif integrasi menyediakan langganan, baik mingguan, bulanan atau tahunan.

“Min saya ada usul gimana kalo kartu JakLingko dibuat annual pass, sebulan misal Rp 100 ribu buat pekerja yang rutin pakai transportasi umum, bebas naik apa aja,” kata @roy_md.

“Kalo di luar negeri ada min tiket langganan mingguan, bulanan, tahunan (annual pass). Jadi lebih hemat biaya dan praktis juga, bisa coba jadi masukkan ke tim ya,” timpal @maulana_irfan07.

Tak hanya itu, ada yang mengusulkan agar KRL masuk skema tarif integrasi. “@jaklingkoindonesia cobalah ajak itu kerja sama si @commuterline, kasihan itu penggunanya kalau harus pakai Transjakarta juga pulang pergi,” pinta @llakidlla.

Direktur Utama PT JakLingko Indonesia Muhamad Kamaluddin mengatakan, implementasi tarif integrasi merupakan penugasan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Agar pelaksanaannya semakin optimal, pihaknya mengandalkan aplikasi JakLingko.

“Pengguna transportasi dapat merasakan manfaat tarif integrasi melalui aplikasi JakLingko,” kata Kamal, di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, di aplikasi JakLingko, pengguna hanya meng-input lokasi tujuan dan memilih rekomendasi rute sesuai tujuan. Jika menggunakan lebih dari satu moda, pengguna akan ditawarkan tarif integrasi dengan ongkos tarif yang telah disesuaikan maksimal Rp 10 ribu. Namun, apabila pengguna hanya menggunakan satu moda saja, tarif yang berlaku akan sama dengan yang berlaku di masing-masing operator saat ini.

Contohnya, bila hanya menggunakan Transjakarta, penumpang tetap dikenakan Rp 3.500. Namun, jika terdapat kombinasi perjalanan Transjakarta dan MRT Jakarta, maka akan dikenai tarif integrasi yang perhitungannya menjadi lebih terjangkau dari ongkos normalnya.

Sebagai informasi, tarif integrasi yang saat ini berlaku adalah apabila pengguna memesan tiket perjalanan melalui aplikasi JakLingko dengan lebih dari satu moda transportasi, yaitu Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

 

Besarnya tarif kombinasi dihitung berdasarkan jarak dengan biaya awal menaiki moda pertama Rp 2.500, untuk selanjutnya dikenakan Rp 250 per kilometer, dengan plafon tarif maksimal Rp 10 ribu dalam satu kali perjalanan menggunakan aplikasi JakLingko. Sementara itu, jika pengguna hanya menggunakan satu moda transportasi, maka berlaku tarif yang sama di masing-masing operator seperti saat ini.

Beberapa contoh rute dengan kombinasi moda transportasi di antaranya, dari stasiun MRT Bundaran HI menuju Halte CBD Ciledug BRT (Bus Rapid Transit), tarif normalnya Rp 10.500, dengan tarif integrasi menjadi Rp 6.750.

Contoh lainnya, dari stasiun LRT Jakarta Boulevard Selatan menuju Stasiun MRT Cipete Raya, tarif normal Rp 16.500, dengan tarif integrasi menjadi Rp 7.500.

Menurutnya, khusus untuk moda Transjakarta, pada tahap awal tarif integrasi berlaku di ruas BRT. Yaitu, Transjakarta dengan scan-in tiket di halte koridor. Untuk non-BRT seperti Metrotrans, Minitrans, dan Mikrotrans dengan scan-in tiket di armada (umumnya terdapat di samping sopir), belum dapat dilakukan dan masih dalam tahap pengembangan.

Sementara, untuk Mikrotrans masih berlaku tarif Rp 0 atau gratis dan tarif pada jam khusus 05:00-07:00 WIB, berlaku tarif existing atau Rp 2.000, tidak berpengaruh terhadap pemberlakuan tarif integrasi. ■

]]> Alih-alih membayar ongkos lebih murah, pengguna transportasi umum malah kudu bayar ongkos lebih mahal dengan adanya aplikasi JakLingko. Warga pun mengeluhkan implementasi sistem tarif integrasi antarmoda transportasi tersebut. PT JakLingko harus segera memperbaiki kelemahan aplikasi tersebut.

Pengguna transportasi umum di wilayah Jakarta dapat menikmati tarif integrasi antarmoda transportasi, mulai Kamis (11/8). Penerapan tarif integrasi ini merupakan realisasi Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor Nomor 733 Tahun 2022 tentang Besaran Paket Tarif Layanan Angkutan Umum Massal.

Namun sayang, banyak warga menemukan kendala dalam implementasinya seperti sistem error dan pengenaan tarif yang justru jadi lebih mahal. Salah satunya diungkapkan akun @ekispace_ di kolom komentar @jaklingkoindonesia, akun Instagram PT JakLingko Indonesia yang mengelola tarif integrasi.

“Barusan saya coba beberapa skenario, ada yang tarifnya malah jadi makin mahal min. Contoh saya input asal dari Stasiun LRT Boulevard Utara tujuan ke Halte Transjakarta CBD Ciledug (koridor 13),” tulis @ekispace_.

Dirincikannya, menuju rute itu, tarif LRT Jakarta Rp 5.000, Transjakarta koridor 4C, 13C dan 13 dengan tarif Rp 3.500 sehingga totalnya Rp 8.500.

“Dengan mengakses penerapan tarif integrasi baru ini, tarif termurah dari rute Boulevard Utara-CBD Ciledug yang saya temukan di aplikasi JakLingko malah jadi lebih mahal, Rp 9.250. Semoga dapat terus dievaluasi dan diperbaiki ya min,” harapnya.

Namun @ekispace_ mengakui, untuk beberapa skenario lain, tarifnya memang menjadi murah. Dicontohkannya, dari Lebak Bulus ke MalI Kelapa Gading hanya Rp 8.750, padahal normalnya Rp 20.500. Tarif tersebut bisa didapat jika mengikuti rute yang disarankan oleh aplikasi. Yakni, MRT dari Lebak Bulus ke Benhil, transit Transjakarta rute 4C dari Karet ke Pemuda Rawamangun, transit LRT Jakarta dari Velodrome ke Boulevard Utara.

“Saya sarankan jangan lupa saat memilih berbagai opsi rute yang disediakan di aplikasi, harus dicermati detail rencana rutenya,” pesannya.

 

Hanya saja, @ariobimo menilai, pilihan rute di aplikasi tidak praktis, jadi muter-muter. “Contoh saya mau ke Harmoni dari Fatmawati, harusnya kan bisa naik MRT dari Fatmawati turun di Stasiun ASEAN, ganti ke koridor 1 di CSW. Lah ini kok disuruh turun di Bunderan Senayan, naik Transjakarta sampe Sawah Besar. Padahal jelas-jelas saya input-nya Halte Harmoni Busway,” keluh @ariobimo.

Selain kritik, ada warganet lain memberi usulan supaya tarif integrasi menyediakan langganan, baik mingguan, bulanan atau tahunan.

“Min saya ada usul gimana kalo kartu JakLingko dibuat annual pass, sebulan misal Rp 100 ribu buat pekerja yang rutin pakai transportasi umum, bebas naik apa aja,” kata @roy_md.

“Kalo di luar negeri ada min tiket langganan mingguan, bulanan, tahunan (annual pass). Jadi lebih hemat biaya dan praktis juga, bisa coba jadi masukkan ke tim ya,” timpal @maulana_irfan07.

Tak hanya itu, ada yang mengusulkan agar KRL masuk skema tarif integrasi. “@jaklingkoindonesia cobalah ajak itu kerja sama si @commuterline, kasihan itu penggunanya kalau harus pakai Transjakarta juga pulang pergi,” pinta @llakidlla.

Direktur Utama PT JakLingko Indonesia Muhamad Kamaluddin mengatakan, implementasi tarif integrasi merupakan penugasan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Agar pelaksanaannya semakin optimal, pihaknya mengandalkan aplikasi JakLingko.

“Pengguna transportasi dapat merasakan manfaat tarif integrasi melalui aplikasi JakLingko,” kata Kamal, di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, di aplikasi JakLingko, pengguna hanya meng-input lokasi tujuan dan memilih rekomendasi rute sesuai tujuan. Jika menggunakan lebih dari satu moda, pengguna akan ditawarkan tarif integrasi dengan ongkos tarif yang telah disesuaikan maksimal Rp 10 ribu. Namun, apabila pengguna hanya menggunakan satu moda saja, tarif yang berlaku akan sama dengan yang berlaku di masing-masing operator saat ini.

Contohnya, bila hanya menggunakan Transjakarta, penumpang tetap dikenakan Rp 3.500. Namun, jika terdapat kombinasi perjalanan Transjakarta dan MRT Jakarta, maka akan dikenai tarif integrasi yang perhitungannya menjadi lebih terjangkau dari ongkos normalnya.

Sebagai informasi, tarif integrasi yang saat ini berlaku adalah apabila pengguna memesan tiket perjalanan melalui aplikasi JakLingko dengan lebih dari satu moda transportasi, yaitu Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

 

Besarnya tarif kombinasi dihitung berdasarkan jarak dengan biaya awal menaiki moda pertama Rp 2.500, untuk selanjutnya dikenakan Rp 250 per kilometer, dengan plafon tarif maksimal Rp 10 ribu dalam satu kali perjalanan menggunakan aplikasi JakLingko. Sementara itu, jika pengguna hanya menggunakan satu moda transportasi, maka berlaku tarif yang sama di masing-masing operator seperti saat ini.

Beberapa contoh rute dengan kombinasi moda transportasi di antaranya, dari stasiun MRT Bundaran HI menuju Halte CBD Ciledug BRT (Bus Rapid Transit), tarif normalnya Rp 10.500, dengan tarif integrasi menjadi Rp 6.750.

Contoh lainnya, dari stasiun LRT Jakarta Boulevard Selatan menuju Stasiun MRT Cipete Raya, tarif normal Rp 16.500, dengan tarif integrasi menjadi Rp 7.500.

Menurutnya, khusus untuk moda Transjakarta, pada tahap awal tarif integrasi berlaku di ruas BRT. Yaitu, Transjakarta dengan scan-in tiket di halte koridor. Untuk non-BRT seperti Metrotrans, Minitrans, dan Mikrotrans dengan scan-in tiket di armada (umumnya terdapat di samping sopir), belum dapat dilakukan dan masih dalam tahap pengembangan.

Sementara, untuk Mikrotrans masih berlaku tarif Rp 0 atau gratis dan tarif pada jam khusus 05:00-07:00 WIB, berlaku tarif existing atau Rp 2.000, tidak berpengaruh terhadap pemberlakuan tarif integrasi. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories