Apartemen Dan Hotel Jadi Tempat Pelacuran Anak Wagub DKI Ajak Warga Awasi Bisnis Esek-esek .

Praktik prostitusi online semakin membuat cemas banyak kalangan. Sebab, bisnis esek-esek itu melibatkan anak di bawah umur.

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria geram dengan praktik prostitusi yang terjadi di apartemen dan hotel. Ditegaskannya, pihaknya akan meningkatkan pengawasan.

“Kita akan minta seluruh pengelola apartemen di Jakarta untuk meningkatkan disiplin, ketertiban, dan memanfaatkannya sesuai peruntukan. Jadi, tidak diperkenankan menjadi tempat prostitusi daring,” tegas Riza kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/3).

Dia menuturkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, akan bekerja sama dengan penegak hukum untuk mencegah praktik prostitusi online. Selain melibatkan Satpol PP, pihaknya akan menggandeng polisi dan TNI untuk meningkatkan pengawasan dan melakukan penindakan.

Riza mengimbau, masyarakat turut mengawasi kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar mereka. Jangan sampai ada apartemen, kos, dan hotel yang ada di pemukiman warga menjadi tempat praktik esek-esek. Hal itu mencoreng warga.

“Para orangtua harus mengawasi anak-anaknya. Tidak hanya di rumah, tetapi di lingkungan rumah yang jauh dari rumah di berbagai kegiatan,” pinta Riza.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Nahar mengungkapkan, perlu ada peraturan bersama antara kementerian dan lembaga untuk mencegah prostitusi anak di hotel dan apartemen.

“Misalnya, menetapkan aturan yang harus dilakukan pengelola apartemen dan hotel agar tak terjadi praktek prositusi online. Peraturan, harus mengikat dan secara tegas dituangkan dalam surat keputusan bersama,” ujar Nahar usai kegiatan press rilis kasus pengungkapan kasus eksploitasi terhadap anak di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (19/3) lalu.

Selain itu, lanjutnya, pengetatan pengawasan di lapangan harus dilakukan. Salah satunya, dengan screening Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Jika ada anak di bawah umur datang sendiri atau bersama orang lain, wajib menyertakan dua identitas tersebut. Jangan pernah memberikan kelonggaran peraturan dalam menggunakan jasa hotel maupun apartemen dengan mengabaikan identitas.

“Ini harus jadi SOP (standard operating procedure) wajib bagi hotel atau apartemen. Ini bentuk pencegahan. Di lapangan, aturan itu saat ini sangat longgar sehingga terjadilah prostitusi online,” kata dia.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sub Komisi Perlindungan Khusus Anak Ai Maryati Solihah menilai, menjamurnya bisnis prostitusi online karena pihak hotel tak ketat dalam pengawasan terhadap pengunjungnya.

“Patut ditelusuri adanya keterlibatan hotel yang menyediakan tempat aktivitas seksual setelah pihak mucikari lakukan recruitment by online,” ujar Maryati dalam keterangannya.

Jika ada kesengajaan, lanjutnya, seluruh pihak yang terlibat patut dituduh telah melakukan human trafficking dengan ancaman hukuman sampai 15 tahun.

 

KPAI mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif turut pro aktif dalam efektivitas Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No PM.53/HM.001/MPEK/2013. Aturan itu mengatur Standar Usaha Hotel untuk memiliki perspektif perlindungan anak dan menerapkan Children Right Of Business Principle (CRBP) yang mengatur tanggung jawab dunia usaha terhadap perlindungan anak.

Kementerian Komunikasi dan Informatika juga harus dilibatkan dalam mencegah prostitusi online. Yakni melacak, memblokir serta mengusut situs online, aplikasi percakapan, nomor selular, maupun akun media sosial yang terindikasi menjadi wadah aktivitas haram ini.

“Semua pihak harus bersinergi menghentikan menjamurnya prostitusi online,” tandasnya.

Sebelumnya, pada Selasa 16 Maret 2021 sekitar pukul 23.30 WIB, Hotel Alona milik artis Cynthiara Alona atau (CA/CCA) di Jalan Kompleks Deplu, Jalan Lestari Nomor 29A, RT03/RW01, Kreo Larangan, Kota Tangerang digerebek polisi. Hotel yang dahulunya kost-kostan tersebut digrebek polisi dari Subdit 5 Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Dari penggerebekan itu, polisi mengamankan 43 orang yang diduga terlibat kegiatan prostitusi online di Hotel Alona. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti seperti uang tunai hasil transaksi prostitusi online, kondom, dan handphone. Dalam kasus ini, polisi menemukan 15 anak korban prostitusi di hotel itu.

Sebulan sebelumnya, Polda Metro Jaya juga membongkar kasus prostitusi anak remaja di Apartemen Aeropolis Residence di kawasan Neglasari, Kota Tangerang, Banten. Dalam kasus ini, polisi menemukan 12 remaja perempuan yang terlibat bisnis haram ini.

“Juga seorang pemilik kamar di apartemen tersebut, dan tujuh orang laki-laki perantara atau calo,” ujar Kapolres Metro Tangerang Komisaris Besar, Deonijiu De Fatima, Senin (8/3).

Praktik prostitusi terungkap berawal dari informasi masyarakat yang curiga ada salah satu unit di apartemen penghuninya kerap silih berganti. Dari hasil penyelidikan, apartemen itu ternyata disewa dari seseorang berinisial EM, 43 tahun.

Deonijiu mengatakan, EM ikut terlibat dalam bisnis tersebut karena ikut merasakan uang hasil prostitusi. Yakni, menerima imbalan Rp 50 ribu dari setiap wanita yang menerima tamu di apartemennya.

Dari penggerebekan yang dilakukan, polisi menyita satu boks kondom, uang tunai Rp 750 ribu, empat buah buku catatan, dan satu unit ponsel. Selain itu, polisi juga menemukan percakapan transaksi prostitusi di ponsel milik pelaku. Dari keterangan para wanita muda yang terciduk, mereka mengaku sudah menggeluti pekerjaan itu sejak tiga bulan yang lalu. Setiap kencan mereka memasang tarif antara Rp 500 hingga 750 ribu.

Tak lama dari kasus itu, Kepolisan Sektor Koja juga menggerebek sebuah hotel di kawasan Koja, Jakarta Utara karena ditengarai sebagai tempat pekerja seks menjajakan diri secara online. Polisi menciduk 82 remaja yang diduga melakukan prostitusi online. Mereka terdiri dari 37 laki-laki dan 45 pekerja seks dari hotel itu. Polisi juga menemukan 22 alat kontrasepsi dari tangan para pekerja seks.

“Mereka masih berusia 18-19 tahun,” ujar Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Koja Ajun Komisaris Wahyudi, Kamis (18/3).

Bisnis esek-esek itu terungkap setelah polisi mendapat laporan dari masyarakat. Para pekerja seks mengundang tamu melalui aplikasi percakapan MiChat. “Tarifnya rata-rata Rp 300 ribu. Polisi masih mendalami dugaan praktik perdagangan manusia dalam kasus ini,” pungkasnya. [FAQ]

]]> .
Praktik prostitusi online semakin membuat cemas banyak kalangan. Sebab, bisnis esek-esek itu melibatkan anak di bawah umur.

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria geram dengan praktik prostitusi yang terjadi di apartemen dan hotel. Ditegaskannya, pihaknya akan meningkatkan pengawasan.

“Kita akan minta seluruh pengelola apartemen di Jakarta untuk meningkatkan disiplin, ketertiban, dan memanfaatkannya sesuai peruntukan. Jadi, tidak diperkenankan menjadi tempat prostitusi daring,” tegas Riza kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/3).

Dia menuturkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, akan bekerja sama dengan penegak hukum untuk mencegah praktik prostitusi online. Selain melibatkan Satpol PP, pihaknya akan menggandeng polisi dan TNI untuk meningkatkan pengawasan dan melakukan penindakan.

Riza mengimbau, masyarakat turut mengawasi kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar mereka. Jangan sampai ada apartemen, kos, dan hotel yang ada di pemukiman warga menjadi tempat praktik esek-esek. Hal itu mencoreng warga.

“Para orangtua harus mengawasi anak-anaknya. Tidak hanya di rumah, tetapi di lingkungan rumah yang jauh dari rumah di berbagai kegiatan,” pinta Riza.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Nahar mengungkapkan, perlu ada peraturan bersama antara kementerian dan lembaga untuk mencegah prostitusi anak di hotel dan apartemen.

“Misalnya, menetapkan aturan yang harus dilakukan pengelola apartemen dan hotel agar tak terjadi praktek prositusi online. Peraturan, harus mengikat dan secara tegas dituangkan dalam surat keputusan bersama,” ujar Nahar usai kegiatan press rilis kasus pengungkapan kasus eksploitasi terhadap anak di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (19/3) lalu.

Selain itu, lanjutnya, pengetatan pengawasan di lapangan harus dilakukan. Salah satunya, dengan screening Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Jika ada anak di bawah umur datang sendiri atau bersama orang lain, wajib menyertakan dua identitas tersebut. Jangan pernah memberikan kelonggaran peraturan dalam menggunakan jasa hotel maupun apartemen dengan mengabaikan identitas.

“Ini harus jadi SOP (standard operating procedure) wajib bagi hotel atau apartemen. Ini bentuk pencegahan. Di lapangan, aturan itu saat ini sangat longgar sehingga terjadilah prostitusi online,” kata dia.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sub Komisi Perlindungan Khusus Anak Ai Maryati Solihah menilai, menjamurnya bisnis prostitusi online karena pihak hotel tak ketat dalam pengawasan terhadap pengunjungnya.

“Patut ditelusuri adanya keterlibatan hotel yang menyediakan tempat aktivitas seksual setelah pihak mucikari lakukan recruitment by online,” ujar Maryati dalam keterangannya.

Jika ada kesengajaan, lanjutnya, seluruh pihak yang terlibat patut dituduh telah melakukan human trafficking dengan ancaman hukuman sampai 15 tahun.

 

KPAI mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif turut pro aktif dalam efektivitas Peraturan Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif No PM.53/HM.001/MPEK/2013. Aturan itu mengatur Standar Usaha Hotel untuk memiliki perspektif perlindungan anak dan menerapkan Children Right Of Business Principle (CRBP) yang mengatur tanggung jawab dunia usaha terhadap perlindungan anak.

Kementerian Komunikasi dan Informatika juga harus dilibatkan dalam mencegah prostitusi online. Yakni melacak, memblokir serta mengusut situs online, aplikasi percakapan, nomor selular, maupun akun media sosial yang terindikasi menjadi wadah aktivitas haram ini.

“Semua pihak harus bersinergi menghentikan menjamurnya prostitusi online,” tandasnya.

Sebelumnya, pada Selasa 16 Maret 2021 sekitar pukul 23.30 WIB, Hotel Alona milik artis Cynthiara Alona atau (CA/CCA) di Jalan Kompleks Deplu, Jalan Lestari Nomor 29A, RT03/RW01, Kreo Larangan, Kota Tangerang digerebek polisi. Hotel yang dahulunya kost-kostan tersebut digrebek polisi dari Subdit 5 Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Dari penggerebekan itu, polisi mengamankan 43 orang yang diduga terlibat kegiatan prostitusi online di Hotel Alona. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti seperti uang tunai hasil transaksi prostitusi online, kondom, dan handphone. Dalam kasus ini, polisi menemukan 15 anak korban prostitusi di hotel itu.

Sebulan sebelumnya, Polda Metro Jaya juga membongkar kasus prostitusi anak remaja di Apartemen Aeropolis Residence di kawasan Neglasari, Kota Tangerang, Banten. Dalam kasus ini, polisi menemukan 12 remaja perempuan yang terlibat bisnis haram ini.

“Juga seorang pemilik kamar di apartemen tersebut, dan tujuh orang laki-laki perantara atau calo,” ujar Kapolres Metro Tangerang Komisaris Besar, Deonijiu De Fatima, Senin (8/3).

Praktik prostitusi terungkap berawal dari informasi masyarakat yang curiga ada salah satu unit di apartemen penghuninya kerap silih berganti. Dari hasil penyelidikan, apartemen itu ternyata disewa dari seseorang berinisial EM, 43 tahun.

Deonijiu mengatakan, EM ikut terlibat dalam bisnis tersebut karena ikut merasakan uang hasil prostitusi. Yakni, menerima imbalan Rp 50 ribu dari setiap wanita yang menerima tamu di apartemennya.

Dari penggerebekan yang dilakukan, polisi menyita satu boks kondom, uang tunai Rp 750 ribu, empat buah buku catatan, dan satu unit ponsel. Selain itu, polisi juga menemukan percakapan transaksi prostitusi di ponsel milik pelaku. Dari keterangan para wanita muda yang terciduk, mereka mengaku sudah menggeluti pekerjaan itu sejak tiga bulan yang lalu. Setiap kencan mereka memasang tarif antara Rp 500 hingga 750 ribu.

Tak lama dari kasus itu, Kepolisan Sektor Koja juga menggerebek sebuah hotel di kawasan Koja, Jakarta Utara karena ditengarai sebagai tempat pekerja seks menjajakan diri secara online. Polisi menciduk 82 remaja yang diduga melakukan prostitusi online. Mereka terdiri dari 37 laki-laki dan 45 pekerja seks dari hotel itu. Polisi juga menemukan 22 alat kontrasepsi dari tangan para pekerja seks.

“Mereka masih berusia 18-19 tahun,” ujar Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Koja Ajun Komisaris Wahyudi, Kamis (18/3).

Bisnis esek-esek itu terungkap setelah polisi mendapat laporan dari masyarakat. Para pekerja seks mengundang tamu melalui aplikasi percakapan MiChat. “Tarifnya rata-rata Rp 300 ribu. Polisi masih mendalami dugaan praktik perdagangan manusia dalam kasus ini,” pungkasnya. [FAQ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories