Antisipasi Perubahan Iklim, KemenPUPR Bangun TPA Ramah Lingkungan di Malang .

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengembangkan sistem pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Malang, Jawa Timur.

Dari semula mengandalkan sistem penimbunan di tempat terbuka (open dumping), kini menggunakan sistem sanitary landfill.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur (Jatim) M. Reva Sastrodiningrat mengatakan, sistem sanitary landfill akan membuat pengelolaan sampah di TPA Supit Urang jadi ramah lingkungan.

Bahkan, residu dari tumpukan sampah akan bisa dimanfaatkan untuk memproduksi gas metana yang biasa digunakan keperluan memasak rumah tangga.

“Ini telah sesuai harapan kita untuk terus memberi berkontribusi dalam mengantisipasi ancaman perubahan iklim di masa mendatang,” ujar Reva di TPA Supit Urang, Malang Jawa Timur, Kamis (8/4). 

Dia menjelaskan, pembangunan sanitary landfill merupakan hasil kerjasama dengan pemerintah Jerman yang terimplementasi dalam program Emission Reduction in Cities-Solid Waste Management (ERIC-SWM).

Proses pengerjaannya dimulai sejak 27 Juli 2018 dan telah selesai 30 November 2020 lalu dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 230 miliar dalam bentuk kontrak tahun jamak (multi years contract) 2018-2020.

Untuk daya tampungnya, TPA ini memiliki kapasitas 726.162 m3 untuk melayani sampah rumah tangga penduduk Kota Malang sebanyak 700 ribu jiwa atau setara dengan 450 ton/hari.

Fasilitas pendukung di TPA Supit Urang pun juga sudah lengkap. Mulai jembatan timbang, sanitary landfill, sorting composting, sampai pengolahan sampah menjadi kompos.

“Kantor pengelolanya juga ada disini. Selain Malang, pilot project penggunaan sistem sanitary landfillnya juga sudah digunakan TPA di tiga kota/kabupaten lain. Yakni Jambi, Sidoarjo, dan Jombang,” ujarnya.

Sekadar informasi, sistem sanitary landfill ini dibangun dengan melakukan pelapisan lahan pembuangan (sel aktif) TPA menggunakan tiga lapis perlindungan lingkungan.

Pertama, lapisan atas tanah asli dipasang lapisan kedap air berupa geosynthetic clay liner setebal 1 cm untuk menahan kebocoran air lindi agar tidak mencemari tanah.

Lapisan kedua dan ketiga adalah lapisan geomembran setebal dua mm. Lapisan ini berupa karpet sintetis berserat kasar yang khusus didatangkan dari Jerman.

Selanjutnya, karpet sintetis ini dilapisi batu koral dengan diameter dua cm tertumpuk rata setinggi 50 cm sebagai bahan penyaring air lindi.

Kemudian sampah ditumpuk, diratakan, dan ditimbun tanah pada setiap ketinggian tanah 1-2 meter agar tidak dihinggapi lalat dan mencegah terjadinya kebakaran dari gas metan yang dihasilkan sampah.

Terakhir, air lindi ditampung dan disalurkan ke kolam penampungan IPL (Instalasi Pengolahan Lindi) dengan sistem pemurnian bertahap yang dilengkapi bak kontrol.

Output dari pembangunan TPA ini adalah mengedepankan konsep ramah lingkungan dengan mengurangi aroma tidak sedap. [DNU]

]]> .
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengembangkan sistem pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Malang, Jawa Timur.

Dari semula mengandalkan sistem penimbunan di tempat terbuka (open dumping), kini menggunakan sistem sanitary landfill.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur (Jatim) M. Reva Sastrodiningrat mengatakan, sistem sanitary landfill akan membuat pengelolaan sampah di TPA Supit Urang jadi ramah lingkungan.

Bahkan, residu dari tumpukan sampah akan bisa dimanfaatkan untuk memproduksi gas metana yang biasa digunakan keperluan memasak rumah tangga.

“Ini telah sesuai harapan kita untuk terus memberi berkontribusi dalam mengantisipasi ancaman perubahan iklim di masa mendatang,” ujar Reva di TPA Supit Urang, Malang Jawa Timur, Kamis (8/4). 

Dia menjelaskan, pembangunan sanitary landfill merupakan hasil kerjasama dengan pemerintah Jerman yang terimplementasi dalam program Emission Reduction in Cities-Solid Waste Management (ERIC-SWM).

Proses pengerjaannya dimulai sejak 27 Juli 2018 dan telah selesai 30 November 2020 lalu dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 230 miliar dalam bentuk kontrak tahun jamak (multi years contract) 2018-2020.

Untuk daya tampungnya, TPA ini memiliki kapasitas 726.162 m3 untuk melayani sampah rumah tangga penduduk Kota Malang sebanyak 700 ribu jiwa atau setara dengan 450 ton/hari.

Fasilitas pendukung di TPA Supit Urang pun juga sudah lengkap. Mulai jembatan timbang, sanitary landfill, sorting composting, sampai pengolahan sampah menjadi kompos.

“Kantor pengelolanya juga ada disini. Selain Malang, pilot project penggunaan sistem sanitary landfillnya juga sudah digunakan TPA di tiga kota/kabupaten lain. Yakni Jambi, Sidoarjo, dan Jombang,” ujarnya.

Sekadar informasi, sistem sanitary landfill ini dibangun dengan melakukan pelapisan lahan pembuangan (sel aktif) TPA menggunakan tiga lapis perlindungan lingkungan.

Pertama, lapisan atas tanah asli dipasang lapisan kedap air berupa geosynthetic clay liner setebal 1 cm untuk menahan kebocoran air lindi agar tidak mencemari tanah.

Lapisan kedua dan ketiga adalah lapisan geomembran setebal dua mm. Lapisan ini berupa karpet sintetis berserat kasar yang khusus didatangkan dari Jerman.

Selanjutnya, karpet sintetis ini dilapisi batu koral dengan diameter dua cm tertumpuk rata setinggi 50 cm sebagai bahan penyaring air lindi.

Kemudian sampah ditumpuk, diratakan, dan ditimbun tanah pada setiap ketinggian tanah 1-2 meter agar tidak dihinggapi lalat dan mencegah terjadinya kebakaran dari gas metan yang dihasilkan sampah.

Terakhir, air lindi ditampung dan disalurkan ke kolam penampungan IPL (Instalasi Pengolahan Lindi) dengan sistem pemurnian bertahap yang dilengkapi bak kontrol.

Output dari pembangunan TPA ini adalah mengedepankan konsep ramah lingkungan dengan mengurangi aroma tidak sedap. [DNU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories