Antisipasi Gejolak Harga Cabe, Kementan Siapkan EWS Dan Bantuan Pasca Panen .

Dalam kondisi puncak musim hujan dan iklim basah tahun ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memberikan arahan kepada Ditjen Hortikultura untuk mengendalikan gejolak pasokan dan harga cabe yang terjadi pada beberapa hari terakhir, khususnya cabe rawit.

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto membenarkan hal tersebut. Saat dihubungi via telepon pada Kamis (18/2), Anton, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa berbagai program dan kegiatan stabilisasi pasokan dan harga telah dilakukan oleh Ditjen Hortikultura. 

“Kami sampaikan bahwa berbasis Early Warning System (EWS) aneka cabe yang kita susun hingga lima bulan ke depan memang menunjukkan terjadinya penurunan surplus pada Februari, namun akan kembali meningkat surplusnya di akhir Maret. Selanjutnya, diprediksi akan terjadi panen raya April sampai Juli,” papar Anton. 

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Anton, terkait penjagaan ketersediaan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah memiliki sistem EWS yang dapat memberikan acuan untuk pola tanam. Data EWS tersinkronisasi ke seluruh provinsi di Indonesia yang datanya langsung dari tingkat kecamatan.

Saat ini memang terdapat kondisi yang tidak mampu dikendalikan, yakni faktor alam dan tingginya curah hujan yang terjadi sejak Desember atau fenomena la nina. 

Tingginya curah hujan tidak dapat dipungkiri berpengaruh pada proses produksi cabe maupun distribusinya dari wilayah produsen ke wilayah konsumen. 

“Hujan juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra dan jalur distribusi. Salah satunya di Kabupaten Malang, Lumajang, Nganjuk dan Probolinggo. Lahan cabe di daerah tersebut tergenang akibat hujan yang tidak berhenti sejak Minggu (14/2) malam,” tambah Anton. 

Untuk mengatasi gejolak harga cabe, termasuk cabe rawit, Kementan melalui Ditjen Hortikultura telah melakukan usaha pengendalian OPT. 

Selain itu, disediakan juga bantuan biaya untuk mendistribusikan produk dari daerah yang sedang panen ke titik-titik pasar yang membutuhkan. 

Bantuan tersebut dapat diakses melalui dua cara, pertama, petani menggunakan truk ekspedisi, membayar terlebih dahulu, kemudian mengajukan reimburse.

Atau, kedua, jika pengiriman telah direncanakan, dapat menghubungi Ditjen Hortikultura untuk dikirimkan truk berpendingin yang akan menjemput produk tersebut dan mendistribusikannya ke pasar tujuan.

Dari sisi pengolahan dan pemasaran pascapanen, Ditjen Hortikultura juga turut memfasilitasi rumah produksi, alat-alat pengering (dome drying), alat pengolahan pasta bawang atau pasta cabe. 

Tak sampai di situ, Ditjen Hortikultura turut menyediakan aplikasi penjualan daring (online) produk segar dan olahan secara gratis untuk pelaku agribisnis lewat platform hortitraderoom.com yang dapat diakses bebas bayar.

Selain itu, Pemerintah juga mengajak pihak swasta dan BUMN untuk dapat menyerap produk dari petani. [KAL]

]]> .
Dalam kondisi puncak musim hujan dan iklim basah tahun ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memberikan arahan kepada Ditjen Hortikultura untuk mengendalikan gejolak pasokan dan harga cabe yang terjadi pada beberapa hari terakhir, khususnya cabe rawit.

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto membenarkan hal tersebut. Saat dihubungi via telepon pada Kamis (18/2), Anton, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa berbagai program dan kegiatan stabilisasi pasokan dan harga telah dilakukan oleh Ditjen Hortikultura. 

“Kami sampaikan bahwa berbasis Early Warning System (EWS) aneka cabe yang kita susun hingga lima bulan ke depan memang menunjukkan terjadinya penurunan surplus pada Februari, namun akan kembali meningkat surplusnya di akhir Maret. Selanjutnya, diprediksi akan terjadi panen raya April sampai Juli,” papar Anton. 

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Anton, terkait penjagaan ketersediaan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah memiliki sistem EWS yang dapat memberikan acuan untuk pola tanam. Data EWS tersinkronisasi ke seluruh provinsi di Indonesia yang datanya langsung dari tingkat kecamatan.

Saat ini memang terdapat kondisi yang tidak mampu dikendalikan, yakni faktor alam dan tingginya curah hujan yang terjadi sejak Desember atau fenomena la nina. 

Tingginya curah hujan tidak dapat dipungkiri berpengaruh pada proses produksi cabe maupun distribusinya dari wilayah produsen ke wilayah konsumen. 

“Hujan juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra dan jalur distribusi. Salah satunya di Kabupaten Malang, Lumajang, Nganjuk dan Probolinggo. Lahan cabe di daerah tersebut tergenang akibat hujan yang tidak berhenti sejak Minggu (14/2) malam,” tambah Anton. 

Untuk mengatasi gejolak harga cabe, termasuk cabe rawit, Kementan melalui Ditjen Hortikultura telah melakukan usaha pengendalian OPT. 

Selain itu, disediakan juga bantuan biaya untuk mendistribusikan produk dari daerah yang sedang panen ke titik-titik pasar yang membutuhkan. 

Bantuan tersebut dapat diakses melalui dua cara, pertama, petani menggunakan truk ekspedisi, membayar terlebih dahulu, kemudian mengajukan reimburse.

Atau, kedua, jika pengiriman telah direncanakan, dapat menghubungi Ditjen Hortikultura untuk dikirimkan truk berpendingin yang akan menjemput produk tersebut dan mendistribusikannya ke pasar tujuan.

Dari sisi pengolahan dan pemasaran pascapanen, Ditjen Hortikultura juga turut memfasilitasi rumah produksi, alat-alat pengering (dome drying), alat pengolahan pasta bawang atau pasta cabe. 

Tak sampai di situ, Ditjen Hortikultura turut menyediakan aplikasi penjualan daring (online) produk segar dan olahan secara gratis untuk pelaku agribisnis lewat platform hortitraderoom.com yang dapat diakses bebas bayar.

Selain itu, Pemerintah juga mengajak pihak swasta dan BUMN untuk dapat menyerap produk dari petani. [KAL]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories