Antarkan Anak Dan Mantu Jokowi Ke Kursi Wali Kota Fahri Ditanya Apa Sudah Dapat “Kue”

Di periode kedua kepemimpinan Presiden Jokowi, Fahri Hamzah yang sebelumnya sangat galak ke pemerintah, jarang terlihat galak lagi. Bahkan, saat anak dan mantu Jokowi, Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution maju di Pilkada 2020, Fahri masuk jadi salah satu pendukungnya. Kini, setelah anak dan mantu presiden itu sudah menang dan menjadi wali kota, Fahri ditanya apa sudah dapat “kue” kekuasaan?

Dukungan Fahri kepada Gibran di Pilkada Solo dan Bobby Nasution di Pilkada Kota Medan pakai bendera Partai Gelora. Parpol yang didirikannya bersama eks Presiden PKS, Anis Matta. Baik di dunia maya maupun dunia nyata, Fahri tidak sungkan memuji Gibran dan Bobby. Akibat dukungan itu, Fahri kerap dikritik banyak pihak.

Meskipun pilkada sudah selesai dengan terpilihnya Gibran sebagai Wali Kota Solo dan Bobby sebagai Wali Kota Medan, Fahri belum sepi dari kritikan. Bahkan, cuitan Fahri yang mengkritik perusahaan BUMN, PT Garuda Indonesia, malah dijadikan bahan untuk menyerang eks Wakil Ketua DPR itu.

“Meski saya terbiasa naik Garuda, tapi nampaknya Garuda kehilangan tenaga. Reorientasi pengelolaan BUMN harus dilakukan. Visi bisnis ‘BUMN bersaing dengan bisnis rakyat’ tak bisa lagi dipertahankan. BUMN harus keluar dari persaingan itu. Kalau tidak, nanti malu sendiri!” tukas @Fahrihamzah.

Cuitan itu lantas ditimpalin politisi PKS, Agus Yuliarto Eko Suharto Putro. Menurutnya, cuitan Fahri merupakan kode keras ke pemerintah. “Tolong itu BOD (Board of Directors) Garuda diganti bro @erickthohir. Jika perlu angkat @Fahrihamzah jadi Komisaris Utama Garuda,” cetus Agus melalui akun Twitternya @agusyuliarto, sembari mention @jokowi.

Tak lama kemudian, Agus makin menjadi-jadi. Sindirannya makin menohok. Katanya, eks politisi PKS itu, tidak tepat jika hanya dijadikan komisaris utama. Politisi sekaliber Fahri seharusnya masuk dalam Kabinet Indonesia Maju. “Sorry, salah @Fahrihamzah levelnya menteri (sayang kalah). Cocok jadi menteri perhubungan dia. Reshuffle Pak @jokowi, atau wakil menteri perhubungan,” ucapnya.

Apalagi, tambah Agus, Fahri sudah berjasa terhadap Presiden RI ke-7. Dengan dukungan Fahri, anak dan mantu Jokowi sukses di Pilkada 2020 di daerah pemilihannya masing-masing. “@Fahrihamzah berjasa untuk kemenangan Gibran dan Bobby. Kasihlah dia jabatan Pak @jokowi,” kata Agus, nyinyir.

Netizen yang mantau berita di sosmed bertanya-tanya, apa Fahri belum dapet “potongan kue”. “Kode keras lagi nih Pak @erickthohir. Tolong dibantulah,” cetus @Teras_Ayung. “Siap-siap komisaris Garuda,” timpal @ryansapujagad. “Cocoknya @Fahrihamzah dijadikan jubir. Soalnya jago olah kata. Kalau ngomong macam di acara @ILCtv dulu. Tapi kenyataannya sama kaya Fadjroel dkk,” kritik @Nurullah_hm.

Terus disindir, membuat Fahri gerah. Politisi yang dicap pengkritik pemerintah itu memberikan bantahan. “Mohon maaf mas. Saya terbiasa dipilih rakyat. Dan saya tidak pensiun karena tidak terpilih. Saya memilih menjadi rakyat biasa kembali,” balas Fahri.

Apakah benar Fahri meminta jatah “kuenya”, wallahu alam. Namun, politisi kelahiran Sumbawa 49 tahun silam itu, kedapatan menemui Gibran di rumah dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung, kemarin sore. Bersama sejumlah Partai Gelora, pertemuan berlangsung tertutup.

 

Diskusinya bersama Gibran tidak lepas dari hasil dukungan Gelora. Dalam pertemuan itu, Fahri juga menawarkan konsep-konsep yang bisa diterapkan di Solo. Ditanya soal kemungkinan merekrut Gibran untuk masuk ke Partai Gelora, Fahri menampik. Menurutnya, Gibran memiliki jalan panjang untuk kariernya sebagai politisi.

Namun, Fahri tidak memungkiri bahwa dirinya menitipkan Partai Gelora untuk ikut membangun Kota Solo. Ia mengaku telah memiliki kantor perwakilan di Solo. “Ya dong, beliau penguasa wilayah. Kita titip partai karena kita ingin partisipasi. Ada tadi (kantornya), sudah kenalan dengan Pak Wali,” tutur Fahri.

Menariknya, diakhir pertemuan, Gibran memanggil adik bungsunya, Kaesang Pangarep yang berdiri di belakang. Gibran memperkenalkan Kaesang sebagai salah satu fans dari Fahri.

Benarkah? “Iya, saya fans Pak Fahri. Saya senang dengan gaya bicara Pak Fahri yang kritis. Itu bagus buat masukan,” jawab Kaesang. Tidak sakit hati pada Fahri? “Kalau saya kecewa, saya tidak mau ada di sini,” balas Kaesang.

Sementara itu, Gibran mengaku tidak ada pembicaraan serius dengan Fahri. Pertemuan tersebut dia anggap sebagai silaturahmi. “Cuma ngopi-ngopi aja. Nggak ada pembicaraan politik, nggak ada pembicaraan serius. Namanya orang silaturahmi ya kaya gitu. Santai aja,” kata Gibran.

Bagaimana tanggapan analis? Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menganggap Fahri ingin kebagian durian runtuh. Namun bukan soal jabatan, melainkan popularitas dari Gibran dan pendukung Jokowi yang mendukung Gibran.

Lebih dari itu, Pria yang akrab disapa Hensat ini memandang Fahri merupakan politisi yang sudah banyak makan asam garam di belantika politik Tanah Air. “Minta jatah sih nggak ya. Menurut saya, hanya saja ketemuan ini lebih untuk perkembangan Partai Gelora di Jawa tengah. Dan tentunya, ancang-ancang dukungan Gelora untuk Gibran di 2024,” ulasnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin juga menganggap kegiatan itu hanya silaturahmi politik semata. Menurutnya, hal itu wajar dan biasa. Terlebih, Fahri dan Partai Gelora juga merapat ke Jokowi.

Apakah kedatangan Fahri untuk minta potongan kuenya? Ujang tak mau suudzon. “Soal minta jatah atau tidak, saya tidak tahu. Mungkin saja Fahri punya misi untuk lobi Gibran agar satu sama lain saling menguntungkan,” katanya, menduga-duga.

Menariknya, silaturahmi ini bakal panjang. Terbukti dari sikap politik Partai Gelora yang mendukung putra dan menantu Jokowi. Selain itu, lanjut Ujang, sikap tersebut sebagai pembuktian bahwa pilihan politik Partai Gelora dan PKS berbeda. “Dan sikap tersebut didasari juga perbedaan dengan PKS yang memilih jadi oposisi,” pungkasnya. [MEN]

]]> Di periode kedua kepemimpinan Presiden Jokowi, Fahri Hamzah yang sebelumnya sangat galak ke pemerintah, jarang terlihat galak lagi. Bahkan, saat anak dan mantu Jokowi, Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution maju di Pilkada 2020, Fahri masuk jadi salah satu pendukungnya. Kini, setelah anak dan mantu presiden itu sudah menang dan menjadi wali kota, Fahri ditanya apa sudah dapat “kue” kekuasaan?

Dukungan Fahri kepada Gibran di Pilkada Solo dan Bobby Nasution di Pilkada Kota Medan pakai bendera Partai Gelora. Parpol yang didirikannya bersama eks Presiden PKS, Anis Matta. Baik di dunia maya maupun dunia nyata, Fahri tidak sungkan memuji Gibran dan Bobby. Akibat dukungan itu, Fahri kerap dikritik banyak pihak.

Meskipun pilkada sudah selesai dengan terpilihnya Gibran sebagai Wali Kota Solo dan Bobby sebagai Wali Kota Medan, Fahri belum sepi dari kritikan. Bahkan, cuitan Fahri yang mengkritik perusahaan BUMN, PT Garuda Indonesia, malah dijadikan bahan untuk menyerang eks Wakil Ketua DPR itu.

“Meski saya terbiasa naik Garuda, tapi nampaknya Garuda kehilangan tenaga. Reorientasi pengelolaan BUMN harus dilakukan. Visi bisnis ‘BUMN bersaing dengan bisnis rakyat’ tak bisa lagi dipertahankan. BUMN harus keluar dari persaingan itu. Kalau tidak, nanti malu sendiri!” tukas @Fahrihamzah.

Cuitan itu lantas ditimpalin politisi PKS, Agus Yuliarto Eko Suharto Putro. Menurutnya, cuitan Fahri merupakan kode keras ke pemerintah. “Tolong itu BOD (Board of Directors) Garuda diganti bro @erickthohir. Jika perlu angkat @Fahrihamzah jadi Komisaris Utama Garuda,” cetus Agus melalui akun Twitternya @agusyuliarto, sembari mention @jokowi.

Tak lama kemudian, Agus makin menjadi-jadi. Sindirannya makin menohok. Katanya, eks politisi PKS itu, tidak tepat jika hanya dijadikan komisaris utama. Politisi sekaliber Fahri seharusnya masuk dalam Kabinet Indonesia Maju. “Sorry, salah @Fahrihamzah levelnya menteri (sayang kalah). Cocok jadi menteri perhubungan dia. Reshuffle Pak @jokowi, atau wakil menteri perhubungan,” ucapnya.

Apalagi, tambah Agus, Fahri sudah berjasa terhadap Presiden RI ke-7. Dengan dukungan Fahri, anak dan mantu Jokowi sukses di Pilkada 2020 di daerah pemilihannya masing-masing. “@Fahrihamzah berjasa untuk kemenangan Gibran dan Bobby. Kasihlah dia jabatan Pak @jokowi,” kata Agus, nyinyir.

Netizen yang mantau berita di sosmed bertanya-tanya, apa Fahri belum dapet “potongan kue”. “Kode keras lagi nih Pak @erickthohir. Tolong dibantulah,” cetus @Teras_Ayung. “Siap-siap komisaris Garuda,” timpal @ryansapujagad. “Cocoknya @Fahrihamzah dijadikan jubir. Soalnya jago olah kata. Kalau ngomong macam di acara @ILCtv dulu. Tapi kenyataannya sama kaya Fadjroel dkk,” kritik @Nurullah_hm.

Terus disindir, membuat Fahri gerah. Politisi yang dicap pengkritik pemerintah itu memberikan bantahan. “Mohon maaf mas. Saya terbiasa dipilih rakyat. Dan saya tidak pensiun karena tidak terpilih. Saya memilih menjadi rakyat biasa kembali,” balas Fahri.

Apakah benar Fahri meminta jatah “kuenya”, wallahu alam. Namun, politisi kelahiran Sumbawa 49 tahun silam itu, kedapatan menemui Gibran di rumah dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung, kemarin sore. Bersama sejumlah Partai Gelora, pertemuan berlangsung tertutup.

 

Diskusinya bersama Gibran tidak lepas dari hasil dukungan Gelora. Dalam pertemuan itu, Fahri juga menawarkan konsep-konsep yang bisa diterapkan di Solo. Ditanya soal kemungkinan merekrut Gibran untuk masuk ke Partai Gelora, Fahri menampik. Menurutnya, Gibran memiliki jalan panjang untuk kariernya sebagai politisi.

Namun, Fahri tidak memungkiri bahwa dirinya menitipkan Partai Gelora untuk ikut membangun Kota Solo. Ia mengaku telah memiliki kantor perwakilan di Solo. “Ya dong, beliau penguasa wilayah. Kita titip partai karena kita ingin partisipasi. Ada tadi (kantornya), sudah kenalan dengan Pak Wali,” tutur Fahri.

Menariknya, diakhir pertemuan, Gibran memanggil adik bungsunya, Kaesang Pangarep yang berdiri di belakang. Gibran memperkenalkan Kaesang sebagai salah satu fans dari Fahri.

Benarkah? “Iya, saya fans Pak Fahri. Saya senang dengan gaya bicara Pak Fahri yang kritis. Itu bagus buat masukan,” jawab Kaesang. Tidak sakit hati pada Fahri? “Kalau saya kecewa, saya tidak mau ada di sini,” balas Kaesang.

Sementara itu, Gibran mengaku tidak ada pembicaraan serius dengan Fahri. Pertemuan tersebut dia anggap sebagai silaturahmi. “Cuma ngopi-ngopi aja. Nggak ada pembicaraan politik, nggak ada pembicaraan serius. Namanya orang silaturahmi ya kaya gitu. Santai aja,” kata Gibran.

Bagaimana tanggapan analis? Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menganggap Fahri ingin kebagian durian runtuh. Namun bukan soal jabatan, melainkan popularitas dari Gibran dan pendukung Jokowi yang mendukung Gibran.

Lebih dari itu, Pria yang akrab disapa Hensat ini memandang Fahri merupakan politisi yang sudah banyak makan asam garam di belantika politik Tanah Air. “Minta jatah sih nggak ya. Menurut saya, hanya saja ketemuan ini lebih untuk perkembangan Partai Gelora di Jawa tengah. Dan tentunya, ancang-ancang dukungan Gelora untuk Gibran di 2024,” ulasnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin juga menganggap kegiatan itu hanya silaturahmi politik semata. Menurutnya, hal itu wajar dan biasa. Terlebih, Fahri dan Partai Gelora juga merapat ke Jokowi.

Apakah kedatangan Fahri untuk minta potongan kuenya? Ujang tak mau suudzon. “Soal minta jatah atau tidak, saya tidak tahu. Mungkin saja Fahri punya misi untuk lobi Gibran agar satu sama lain saling menguntungkan,” katanya, menduga-duga.

Menariknya, silaturahmi ini bakal panjang. Terbukti dari sikap politik Partai Gelora yang mendukung putra dan menantu Jokowi. Selain itu, lanjut Ujang, sikap tersebut sebagai pembuktian bahwa pilihan politik Partai Gelora dan PKS berbeda. “Dan sikap tersebut didasari juga perbedaan dengan PKS yang memilih jadi oposisi,” pungkasnya. [MEN]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories