Anindya Bakrie: Kadin Peduli Dengan UMKM Dan Pasar Rakyat

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengunjungi Pasar Induk Caringin, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Minggu (18/4). Kedatangan Anindya ke pasar induk di Kota Kembang tersebut untuk mengetahui perkembangan ekonomi kerakyatan di Jawa Barat. Pengusaha berusia 46 tahun ini pun turut berbincang dengan sejumlah pedagang. 

Anin, sapaan akrabnya, mengaku kagum dengan konsep pasar yang mulai didirikan pada 1987 ini. Pasar Induk Caringin mendapat pasokan bahan pangan dari 12 provinsi di Indonesia. 

Omzetnya juga sangat besar. tak tanggung-tanggung, dalam sehari, omzet Pasar Induk Caringin mencapai Rp 50 miliar. Bagi Anin, pencapaian ini luar biasa bagi perkembangan ekonomi kerakyatan. 

“Ada 4.600 pedagang di sini. Tadi, kita bercanda bahwa ada pedagang jengkol sehari omzet bisa Rp 500 juta,” ujarnya.

Anin berharap, konsep tersebut bisa ditiru dan dikembangkan provinsi lain di Indonesia. Kadin mempunyai pemikiran ke depan untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan. 

“Konsepnya ini ekonomi kerakyatan. Jadi, bukan hanya slogan tapi bukti nyata. Pak Agung Suryamal (pemilik pasar caringin) ini awalnya project manager, sekarang sudah selesai dua kali jadi ketua Kadin Jabar, sudah waktunya bantu-bantu mereplika ini di seluruh Indonesia,” katanya. 

Bukti konsep ekonomi kerakyatannya, lanjut Anin, terlihat dari pemasok barang di Pasar Caringin. Pasar induk ini melibatkan petani, nelayan dan pemasok lain dari 12 provinsi. Seperti jeruk medan dari Sumatera Barat, melon dan semangka dari Jawa Timur, dan ikan laut dari Jawa Tengah, dan kentang dari Jawa Timur. “Pasar ini menyuplai ke 600 pasar di Jawa Barat,” imbuhnya.

Anin sangat kagum dengan hal ini. Dia memastikan, Kadin sangat peduli dengan pengembangan UMKM dan pasar rakyat. Kadin akan terus mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan dan UMKM seperti di Pasar Induk Caringin. [USU]

]]> Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengunjungi Pasar Induk Caringin, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Minggu (18/4). Kedatangan Anindya ke pasar induk di Kota Kembang tersebut untuk mengetahui perkembangan ekonomi kerakyatan di Jawa Barat. Pengusaha berusia 46 tahun ini pun turut berbincang dengan sejumlah pedagang. 

Anin, sapaan akrabnya, mengaku kagum dengan konsep pasar yang mulai didirikan pada 1987 ini. Pasar Induk Caringin mendapat pasokan bahan pangan dari 12 provinsi di Indonesia. 

Omzetnya juga sangat besar. tak tanggung-tanggung, dalam sehari, omzet Pasar Induk Caringin mencapai Rp 50 miliar. Bagi Anin, pencapaian ini luar biasa bagi perkembangan ekonomi kerakyatan. 

“Ada 4.600 pedagang di sini. Tadi, kita bercanda bahwa ada pedagang jengkol sehari omzet bisa Rp 500 juta,” ujarnya.

Anin berharap, konsep tersebut bisa ditiru dan dikembangkan provinsi lain di Indonesia. Kadin mempunyai pemikiran ke depan untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan. 

“Konsepnya ini ekonomi kerakyatan. Jadi, bukan hanya slogan tapi bukti nyata. Pak Agung Suryamal (pemilik pasar caringin) ini awalnya project manager, sekarang sudah selesai dua kali jadi ketua Kadin Jabar, sudah waktunya bantu-bantu mereplika ini di seluruh Indonesia,” katanya. 

Bukti konsep ekonomi kerakyatannya, lanjut Anin, terlihat dari pemasok barang di Pasar Caringin. Pasar induk ini melibatkan petani, nelayan dan pemasok lain dari 12 provinsi. Seperti jeruk medan dari Sumatera Barat, melon dan semangka dari Jawa Timur, dan ikan laut dari Jawa Tengah, dan kentang dari Jawa Timur. “Pasar ini menyuplai ke 600 pasar di Jawa Barat,” imbuhnya.

Anin sangat kagum dengan hal ini. Dia memastikan, Kadin sangat peduli dengan pengembangan UMKM dan pasar rakyat. Kadin akan terus mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan dan UMKM seperti di Pasar Induk Caringin. [USU]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories