Anies Dihimpit Banjir Dan Politik

Banjir yang melanda Jakarta selama 10 hari terakhir–juga Bogor, Depok, Karawang dan Bekasi–mempunyai kemiripan dengan banjir awal 2014, juga menjelang dan pasca Imlek. Ketika itu, selama 3 Minggu, Ibukota terus diguyur hujan lebat, pagi siang dan malam. Bahkan tengah malam buta pun, masyarakat “dipaksa” tidur bersama hujan.

Januari 2014, puluhan wilayah Jakarta digenangi banjir dengan ketinggian cukup memprihatinkan, bahkan ada yang mencapai ketinggian 2 (dua) meter. Akibatnya, Jokowi dikecam, dicaci-maki. Orang dekat SBY ikut-ikutan mengecam Jokowi. Katanya, banjir di Jakarta bukti ”politik blusukan” Jokowi gagal.

Amien Rais, politisi nasional yang beberapa kali gagal jadi presiden ikut nimbrung dengan mengusulkan agar Jokowi segera minta maaf kepada masyarakat Jakarta terkait soal banjir ini.

Blusukan Jokowi ke pemukiman kumuh dan naik perahu karet besama sejumlah petinggi TNI untuk membersihkan sungai Ciliwung dituding tidak lebih pencitraan.

Namun, sang Gubernur tidak pernah terusik oleh kritik dan kecaman yang datang cukup bertubi-tubi, khususnya dari dunia maya. Dia tetap setia turun ke lapangan, terjun langsung melihat situasi banjir, dan memberikan instruksi-instruksi kepada sejumlah penjaga pintu air.

Ia memperingatkan semua warga yang tinggal di bantaran kali: Tidak ada toleransi lagi bagi masyarakat di sana. Kedua tepi semua sungai di Ibukota harus dibersihkan dari pemukiman, teriak Jokowi.

Jangan lupa, ketika itu Jokowi dengan dukungan sejumlah partai politik, sedang mempersiapkan diri untuk ”nyapres”. Lawan-lawan Jokowi, tampaknya, mengeksploitir isu banjir bandang untuk menjatuhkan nama baik Jokowi, sehingga diharapkan jalannya menuju kursi RI-1 bisa terjegal.

Namun, sejarah mencatat kritikan, caci maki dan psywar, ternyata, gagal total menjegal jalan Jokowi ke Istana Merdeka.

Banjir di Ibukota sejak pasca Imlek 2021 mungkin lebih dahsyat dibandingkan banjir Januari 2014. Ratusan RW di seluruh Jakarta nyaris terendam. Puluhan kendaraan mobil terendam karena tidak sempat diselematkan oleh pengendaranya. Korban jiwa memang tidak banyak. Namun, rumah yang terendam dan rusak tidak terhingga jumlahnya. Korban yang mengungsi mencapai puluhan ribu. Sebagian besar nyaris sengsara karena lambannya bantuan sandang-pangan yang datang.

 

Di mana Anies Baswedan selama banjir melanda Ibukota? Seminggu setelah banjir, Gubernur Jakarta seperti ”menghilang”, tidak ada suara dan bayangannya. Memang pada saat yang bersamaan Gubernur dan aparatnya pontang-panting mengurus Covid-19 karena Jakarta termasuk zona merah, warga yang terpapar Corona terus meningkat.

Baru pada Kamis 18 Februari 2021 sang Gubernur kelihatan di beberapa lokasi banjir, ngomong-ngomong dengan warga korban banjir. Pernyataan Gubernur umumnya ”mengecilkan arti ”magnitude banjir”; seolah banjir yang melanda Ibukota sekarang tidak sebesar banjir 5 tahun yang lalu.

Dan Anies pun mengumandangkan retorika ”lagu lama”: bahwa banjir sekarang karena (a) curah hujan yang melebihi batas normal, dan (b) sebagian besar air banjir itu karena kiriman dari Bogor dan Depok. Itulah kambing hitam yang dilempar Gubernur: banjir deras itu karena kiriman dari Bogor dan Depok, sehingga pintu-pintu air di Jakarta sebagian besar tak kuasa menampung debit air yang menerjang luar biasa.

Bahwa Anies mengecilkan magnitude banjir sekarang, antara lain, dari pernyataannya – diperkuat dengan foto – bahwa Cipinang Melayu kali ini tidak banjir. Padahal, Kampung Melayu/Cipinang Melayu sempat dihantam banbjir setinggi 1 meter lebih!

Begitu juga Tegal Parang (Jakarta Selatan) dan Pondok Jaya, nyaris kelelep. Hampir semua sungai besar di Ibukota – seperti Sungai Cisadane, sungai Citarum, dan Sungai Cideng, meluap.

Daerrah Kemang tahun ini lebih dahsyat banjirnya. Kemang Raya, Kemang Utara, Kemang Selatan – apalagi kawasan gang-gang di Kemang – sangat memprihatinkan pemandangan banjirnya.

Bahwa Pemprov DKI tidak bisa sepenuhnya dituding penanggung jawab utama banjir, memang ada betulnya. Curah hujan yang begitu tinggi dan kiriman ”air bah” dari kota Bogor dan Depok, hal itu tidak bisa dibantah. 

Tapi, kenapa Gubernur DKI tidak berdaya mengajak kepala daerah tetangga untuk sama-sama mengatasi banjir? Apa sesungguhnya yang sudah dikerjakan Anies Baswedan untuk mengatasi banjir sejak ia menjabat Gubernur?

Jangan lupa, ketika berkampanye untuk menduduki jabatan DKI-1, Anies memaparkan visinya yang BAGUS untuk mengatasi banjir, sekaligus menyatakan keyakinannya ”masalah banjir dapat diselesaikan di bawah kepemimpinan saya”.

 

Bagaimana strateginya? Berikut omongan Anies menjelang terpilih sebagai Gubernur DKI:

1. “Membereskan” sumber banjir di hulu sehingga volume air yang sampai ke Jakarta berkurang.

2. Melakukan gerakan membangun sumur- sumur resapan di Jakarta.

3. Memastikan aliran air tidak terhambat dengan membersihkan gorong-gorong hingga sungai.

4. Memastikan tidak terjadi sedimentasi yang berlebihan di ”hilir “

BAGUS! Konsep Anies menyelesaikan masalah banjir di Jakarta: dari hulu sampai hilir “disikat”. Air dari hulu “diamankan”, yang di tengah dipastikan turun ke bawah, dan di hilir kita bereskan,” ujar Anies dalam acara “Jakarta KeceBagaimana Cara Ahok dan Anies Mengatasi Banjir?” yang ditayangkan stasiun televisi Netmediatama pada 13 Desember 2016.

Apakah Gubernur sudah mengerjakan 4 strategi dari hulu ke hilir itu ? Kita SANGAT ragu. Banjir bandang yang menerjang di 2/3 wilayah Ibukota membuktikan Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Anies Baswedan praktis tidak melakukan tindakan-tindakan serius apa pun untuk menbgatasi banjir.

Ia lebih sibuk mempersolek trotoar, terutama trotoar di jalan-jalan yang dilwati orang kaya dan pejabat seperti Sudirman, Thamrin, Merdeka Selatan/Barat/Utara yang dekat Istana, Kawasan Kebayoran Baru, Kemang dsb. Kawasan sekitar Gelora Bung Karnor dipercantik habis-habisan.

Yang aneh lagi, Anies tiba-tiba menggulirkan gagasan menggelar lomba mobil mewah Formula E dengan anggaran Rp 1,6 triliun. Pohon-pohon rindang di Kawasan Monas dibabat nyaris habis dalam rangka mempersiapkan acara elite itu dengan dukungan petinggi pemerintah. Masih untung, Ibu Megawati Soekanoputri berteriak keras menentang “rencana gila” itu seraya mendesak Presiden Jokowi membatalkannya!

Jelas, Anies Baswedan TIDAK FOKUS dalam bekerja. Banjir dan kemcetan mestinya jadi prioritas pertama kerja Gubernur DKI.

Bagaimana kaitan antara masalah banjir dan Pak Anies? Dulu, Jokowi dicaci-maki karena dituding tidak becus mengatasi banjir. Ketika Ahok menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, ia bekerja keras. Normalisasi sungai menjadi salah satu prioritasnya.

Memang program ini berisiko fatal. Bantalan sungai yang “dibersihkan” berakibat ratusan rumah harus dibabat, sehingga banyak warga miskin yang kehilangan tempat tinggal.

Ketika Anies menjabat Gubernur, ia berjanji takkan gusur rumah-rumah di bantaran sungai. Maka, proyek normalisasi sungai tidak “jalan”. Anies ingin diacungkan jempol sebagai Gubernur pembela orang miskin.

Itulah sebabnya, meski 2/3 wilayah Ibukota nyaris terendam oleh banjir dahsyat selama 2 minggu terakhir, kitik apalagi kecaman terhadap Gubernur Anies Baswedan nyaris tidak ada! Aman. Karena korban banjir, mayoritas, mungkin para pendukung beliau waktu Pilkada Gubernur tempo hari.

Yang mengherankan juga, Presiden Jokowi nyaris tidak permah keluarkan komentar apa pun tentang banjir dahsyat di Ibukota, apalagi menyindir dan mengkritik sang Gubernur. TIDAK ADA.

Padahal sebagai mantan Gubernur DKI, Jokowi pasti kaya dengan pengalaman mengurus masalah banjir. Yang ada kritik keras dari Mengteri PUPR Pak Basuki. Ia nyaris bertanya apa saja yang sudah dikerjakan oleh Anies Baswedan mengatasi bannjir?

Banjir yang tiada habis-habisnya melanda Jakarta tiap tahun dengan korban material dan jiwa yang tidak kecil, mungkin saja jadi good news bagi sementara pejabat tinggi kita.

Kok gembira? “Kan kami sudah ulang-ulang mengatakan Jakarta tidak lagi pantas jadi Ibukota Negara. Ibukota harus segera dipindah ke Kalimantan Selatan. Selesailah masalah banjir di Ibukota Negara kita. Bahwa banjir masih terus melanda Jakarta, emang gue pikirin..! (*)

]]> Banjir yang melanda Jakarta selama 10 hari terakhir–juga Bogor, Depok, Karawang dan Bekasi–mempunyai kemiripan dengan banjir awal 2014, juga menjelang dan pasca Imlek. Ketika itu, selama 3 Minggu, Ibukota terus diguyur hujan lebat, pagi siang dan malam. Bahkan tengah malam buta pun, masyarakat “dipaksa” tidur bersama hujan.

Januari 2014, puluhan wilayah Jakarta digenangi banjir dengan ketinggian cukup memprihatinkan, bahkan ada yang mencapai ketinggian 2 (dua) meter. Akibatnya, Jokowi dikecam, dicaci-maki. Orang dekat SBY ikut-ikutan mengecam Jokowi. Katanya, banjir di Jakarta bukti ”politik blusukan” Jokowi gagal.

Amien Rais, politisi nasional yang beberapa kali gagal jadi presiden ikut nimbrung dengan mengusulkan agar Jokowi segera minta maaf kepada masyarakat Jakarta terkait soal banjir ini.

Blusukan Jokowi ke pemukiman kumuh dan naik perahu karet besama sejumlah petinggi TNI untuk membersihkan sungai Ciliwung dituding tidak lebih pencitraan.

Namun, sang Gubernur tidak pernah terusik oleh kritik dan kecaman yang datang cukup bertubi-tubi, khususnya dari dunia maya. Dia tetap setia turun ke lapangan, terjun langsung melihat situasi banjir, dan memberikan instruksi-instruksi kepada sejumlah penjaga pintu air.

Ia memperingatkan semua warga yang tinggal di bantaran kali: Tidak ada toleransi lagi bagi masyarakat di sana. Kedua tepi semua sungai di Ibukota harus dibersihkan dari pemukiman, teriak Jokowi.

Jangan lupa, ketika itu Jokowi dengan dukungan sejumlah partai politik, sedang mempersiapkan diri untuk ”nyapres”. Lawan-lawan Jokowi, tampaknya, mengeksploitir isu banjir bandang untuk menjatuhkan nama baik Jokowi, sehingga diharapkan jalannya menuju kursi RI-1 bisa terjegal.

Namun, sejarah mencatat kritikan, caci maki dan psywar, ternyata, gagal total menjegal jalan Jokowi ke Istana Merdeka.

Banjir di Ibukota sejak pasca Imlek 2021 mungkin lebih dahsyat dibandingkan banjir Januari 2014. Ratusan RW di seluruh Jakarta nyaris terendam. Puluhan kendaraan mobil terendam karena tidak sempat diselematkan oleh pengendaranya. Korban jiwa memang tidak banyak. Namun, rumah yang terendam dan rusak tidak terhingga jumlahnya. Korban yang mengungsi mencapai puluhan ribu. Sebagian besar nyaris sengsara karena lambannya bantuan sandang-pangan yang datang.

 

Di mana Anies Baswedan selama banjir melanda Ibukota? Seminggu setelah banjir, Gubernur Jakarta seperti ”menghilang”, tidak ada suara dan bayangannya. Memang pada saat yang bersamaan Gubernur dan aparatnya pontang-panting mengurus Covid-19 karena Jakarta termasuk zona merah, warga yang terpapar Corona terus meningkat.

Baru pada Kamis 18 Februari 2021 sang Gubernur kelihatan di beberapa lokasi banjir, ngomong-ngomong dengan warga korban banjir. Pernyataan Gubernur umumnya ”mengecilkan arti ”magnitude banjir”; seolah banjir yang melanda Ibukota sekarang tidak sebesar banjir 5 tahun yang lalu.

Dan Anies pun mengumandangkan retorika ”lagu lama”: bahwa banjir sekarang karena (a) curah hujan yang melebihi batas normal, dan (b) sebagian besar air banjir itu karena kiriman dari Bogor dan Depok. Itulah kambing hitam yang dilempar Gubernur: banjir deras itu karena kiriman dari Bogor dan Depok, sehingga pintu-pintu air di Jakarta sebagian besar tak kuasa menampung debit air yang menerjang luar biasa.

Bahwa Anies mengecilkan magnitude banjir sekarang, antara lain, dari pernyataannya – diperkuat dengan foto – bahwa Cipinang Melayu kali ini tidak banjir. Padahal, Kampung Melayu/Cipinang Melayu sempat dihantam banbjir setinggi 1 meter lebih!

Begitu juga Tegal Parang (Jakarta Selatan) dan Pondok Jaya, nyaris kelelep. Hampir semua sungai besar di Ibukota – seperti Sungai Cisadane, sungai Citarum, dan Sungai Cideng, meluap.

Daerrah Kemang tahun ini lebih dahsyat banjirnya. Kemang Raya, Kemang Utara, Kemang Selatan – apalagi kawasan gang-gang di Kemang – sangat memprihatinkan pemandangan banjirnya.

Bahwa Pemprov DKI tidak bisa sepenuhnya dituding penanggung jawab utama banjir, memang ada betulnya. Curah hujan yang begitu tinggi dan kiriman ”air bah” dari kota Bogor dan Depok, hal itu tidak bisa dibantah. 

Tapi, kenapa Gubernur DKI tidak berdaya mengajak kepala daerah tetangga untuk sama-sama mengatasi banjir? Apa sesungguhnya yang sudah dikerjakan Anies Baswedan untuk mengatasi banjir sejak ia menjabat Gubernur?

Jangan lupa, ketika berkampanye untuk menduduki jabatan DKI-1, Anies memaparkan visinya yang BAGUS untuk mengatasi banjir, sekaligus menyatakan keyakinannya ”masalah banjir dapat diselesaikan di bawah kepemimpinan saya”.

 

Bagaimana strateginya? Berikut omongan Anies menjelang terpilih sebagai Gubernur DKI:

1. “Membereskan” sumber banjir di hulu sehingga volume air yang sampai ke Jakarta berkurang.

2. Melakukan gerakan membangun sumur- sumur resapan di Jakarta.

3. Memastikan aliran air tidak terhambat dengan membersihkan gorong-gorong hingga sungai.

4. Memastikan tidak terjadi sedimentasi yang berlebihan di ”hilir ”

BAGUS! Konsep Anies menyelesaikan masalah banjir di Jakarta: dari hulu sampai hilir “disikat”. Air dari hulu “diamankan”, yang di tengah dipastikan turun ke bawah, dan di hilir kita bereskan,” ujar Anies dalam acara “Jakarta Kece-Bagaimana Cara Ahok dan Anies Mengatasi Banjir?” yang ditayangkan stasiun televisi Netmediatama pada 13 Desember 2016.

Apakah Gubernur sudah mengerjakan 4 strategi dari hulu ke hilir itu ? Kita SANGAT ragu. Banjir bandang yang menerjang di 2/3 wilayah Ibukota membuktikan Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Anies Baswedan praktis tidak melakukan tindakan-tindakan serius apa pun untuk menbgatasi banjir.

Ia lebih sibuk mempersolek trotoar, terutama trotoar di jalan-jalan yang dilwati orang kaya dan pejabat seperti Sudirman, Thamrin, Merdeka Selatan/Barat/Utara yang dekat Istana, Kawasan Kebayoran Baru, Kemang dsb. Kawasan sekitar Gelora Bung Karnor dipercantik habis-habisan.

Yang aneh lagi, Anies tiba-tiba menggulirkan gagasan menggelar lomba mobil mewah Formula E dengan anggaran Rp 1,6 triliun. Pohon-pohon rindang di Kawasan Monas dibabat nyaris habis dalam rangka mempersiapkan acara elite itu dengan dukungan petinggi pemerintah. Masih untung, Ibu Megawati Soekanoputri berteriak keras menentang “rencana gila” itu seraya mendesak Presiden Jokowi membatalkannya!

Jelas, Anies Baswedan TIDAK FOKUS dalam bekerja. Banjir dan kemcetan mestinya jadi prioritas pertama kerja Gubernur DKI.

Bagaimana kaitan antara masalah banjir dan Pak Anies? Dulu, Jokowi dicaci-maki karena dituding tidak becus mengatasi banjir. Ketika Ahok menggantikan Jokowi sebagai Gubernur, ia bekerja keras. Normalisasi sungai menjadi salah satu prioritasnya.

Memang program ini berisiko fatal. Bantalan sungai yang “dibersihkan” berakibat ratusan rumah harus dibabat, sehingga banyak warga miskin yang kehilangan tempat tinggal.

Ketika Anies menjabat Gubernur, ia berjanji takkan gusur rumah-rumah di bantaran sungai. Maka, proyek normalisasi sungai tidak “jalan”. Anies ingin diacungkan jempol sebagai Gubernur pembela orang miskin.

Itulah sebabnya, meski 2/3 wilayah Ibukota nyaris terendam oleh banjir dahsyat selama 2 minggu terakhir, kitik apalagi kecaman terhadap Gubernur Anies Baswedan nyaris tidak ada! Aman. Karena korban banjir, mayoritas, mungkin para pendukung beliau waktu Pilkada Gubernur tempo hari.

Yang mengherankan juga, Presiden Jokowi nyaris tidak permah keluarkan komentar apa pun tentang banjir dahsyat di Ibukota, apalagi menyindir dan mengkritik sang Gubernur. TIDAK ADA.

Padahal sebagai mantan Gubernur DKI, Jokowi pasti kaya dengan pengalaman mengurus masalah banjir. Yang ada kritik keras dari Mengteri PUPR Pak Basuki. Ia nyaris bertanya apa saja yang sudah dikerjakan oleh Anies Baswedan mengatasi bannjir?

Banjir yang tiada habis-habisnya melanda Jakarta tiap tahun dengan korban material dan jiwa yang tidak kecil, mungkin saja jadi good news bagi sementara pejabat tinggi kita.

Kok gembira? “Kan kami sudah ulang-ulang mengatakan Jakarta tidak lagi pantas jadi Ibukota Negara. Ibukota harus segera dipindah ke Kalimantan Selatan. Selesailah masalah banjir di Ibukota Negara kita. Bahwa banjir masih terus melanda Jakarta, emang gue pikirin..! (*)
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories