Analisa Dradjad Wibowo Kalau PPN Dinaikkan Angsa Petelur Emas Kok Dimatiin

Ketua Dewan Pakar Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo menilai, wacana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak masuk akal. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini menyebut, kalau wacana ini terealisasi, sama saja dengan membunuh angsa petelur emas.

“Entah ilmu ekonomi apa yang dipakai mereka, yang mewacanakan ini pada saat ekonomi sedang resesi,” ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dradjad mengingatkan, saat ini ekonomi sedang resesi akibat pandemi Covid-19. Nah, sektor utama untuk membangkitkan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Jika konsumi turun, pertumbuhan pun turun. Begitu juga sebaliknya.

Peranan konsumsi rumah tangga ini persentasenya mencapai 60 persen pertumbuhan ekonomi. Dradjad menyebut, tingginya peranan konsumsi rumah tangga ini ibarat angsa yang bertelur

emas. Sejatinya dirawat, agar menghasilkan emas yang bisa mendongkrak ekonomi.

Namun, kalau PPN naik, pasti berdampak dengan konsumsi rumah tangga. Masyarakat enggan berbelanja. Asumsinya, jika berkurang angka konsumsi, maka resesi semakin tajam.

“Wacana kenaikan PPN itu sama saja kita membunuh angsa bertelur emas. Angsa telur emas ini jika diganggu ya tidak akan bertelur,” ungkapnya.

Dijelaskan, jika PPN dinaikkan maka bersinggungan dengan kelompok rumah tangga kelas menengah dan atas. Nah, mereka ini peranannya sekitar 82 persen terhadap konsumsi rumah tangga. Sisanya, kelompok bawah.

“Di dalam Ilmu Ekonomi, itu dikenal dengan counter cylical. Artinya, ketika ekonomi sedang booming, sedang naik, kita pajaki itu nggak mengapa,” ucapnya.

Namun jika ekonomi sedang turun, atau sedang mencoba pulih, disarankan terus diberikan bantuan dana. Menurutnya, jurus ini sudah ada sejak zaman Nabi Yusuf. Jadi, ketika panen besar, tidak dikonsumsi semuanya, tetapi ditabung dan sebagian lagi untuk benih.

Kemudian ketika paceklik, simpanan pangan di gudang dibagikan kepada rakyat untuk dikonsumsi. “Itu ekonomi yang sudah baku. Jadi, sekarang kalau ekonomi sedang resesi, ada wacana dipajaki ya itu aneh sekali,” tukasnya.

Untuk itu, Dradjad berharap Kementerian Keuangan mau menimbang wacana itu. Meski sulit, selalu ada cara menyelamatkan kantong negara. Misalnya, mengenai ekonomi berbasis teknologi informasi maupun intelejen. “Saya sering menulis itu. Mengenai detailnya saya tidak akan mengungkapkan sekarang,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno. Baginya, saat ini bukanlah momentum tepat menaikkan PPN, karena akan menguras daya beli masyarakat.

“Yang tadinya barang-barang utama bisa mendongkrak belanja masyarakat, terutama belanja rumah tangga itu tidak akan terjadi,” ujar Eddy kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [BSH]

]]> Ketua Dewan Pakar Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo menilai, wacana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak masuk akal. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini menyebut, kalau wacana ini terealisasi, sama saja dengan membunuh angsa petelur emas.

“Entah ilmu ekonomi apa yang dipakai mereka, yang mewacanakan ini pada saat ekonomi sedang resesi,” ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dradjad mengingatkan, saat ini ekonomi sedang resesi akibat pandemi Covid-19. Nah, sektor utama untuk membangkitkan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Jika konsumi turun, pertumbuhan pun turun. Begitu juga sebaliknya.

Peranan konsumsi rumah tangga ini persentasenya mencapai 60 persen pertumbuhan ekonomi. Dradjad menyebut, tingginya peranan konsumsi rumah tangga ini ibarat angsa yang bertelur

emas. Sejatinya dirawat, agar menghasilkan emas yang bisa mendongkrak ekonomi.

Namun, kalau PPN naik, pasti berdampak dengan konsumsi rumah tangga. Masyarakat enggan berbelanja. Asumsinya, jika berkurang angka konsumsi, maka resesi semakin tajam.

“Wacana kenaikan PPN itu sama saja kita membunuh angsa bertelur emas. Angsa telur emas ini jika diganggu ya tidak akan bertelur,” ungkapnya.

Dijelaskan, jika PPN dinaikkan maka bersinggungan dengan kelompok rumah tangga kelas menengah dan atas. Nah, mereka ini peranannya sekitar 82 persen terhadap konsumsi rumah tangga. Sisanya, kelompok bawah.

“Di dalam Ilmu Ekonomi, itu dikenal dengan counter cylical. Artinya, ketika ekonomi sedang booming, sedang naik, kita pajaki itu nggak mengapa,” ucapnya.

Namun jika ekonomi sedang turun, atau sedang mencoba pulih, disarankan terus diberikan bantuan dana. Menurutnya, jurus ini sudah ada sejak zaman Nabi Yusuf. Jadi, ketika panen besar, tidak dikonsumsi semuanya, tetapi ditabung dan sebagian lagi untuk benih.

Kemudian ketika paceklik, simpanan pangan di gudang dibagikan kepada rakyat untuk dikonsumsi. “Itu ekonomi yang sudah baku. Jadi, sekarang kalau ekonomi sedang resesi, ada wacana dipajaki ya itu aneh sekali,” tukasnya.

Untuk itu, Dradjad berharap Kementerian Keuangan mau menimbang wacana itu. Meski sulit, selalu ada cara menyelamatkan kantong negara. Misalnya, mengenai ekonomi berbasis teknologi informasi maupun intelejen. “Saya sering menulis itu. Mengenai detailnya saya tidak akan mengungkapkan sekarang,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno. Baginya, saat ini bukanlah momentum tepat menaikkan PPN, karena akan menguras daya beli masyarakat.

“Yang tadinya barang-barang utama bisa mendongkrak belanja masyarakat, terutama belanja rumah tangga itu tidak akan terjadi,” ujar Eddy kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [BSH]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories