Anak Muda Lebih Pilih Anies Dan Ganjar Prabowo Capresnya Orang Tua

Prabowo Subianto yang selama ini selalu menjuarai survei capres 2024 langsung rontok saat survei tersebut disodorkan ke anak-anak muda. Bagi anak muda, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo adalah capres ideal yang dianggap bisa menggantikan Jokowi.

Kesimpulan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi PhD, saat merilis hasil survei bertajuk “Suara Anak Muda Terkait Isu-isu Sosial, Politik dan Bangsa”, yang dipaparkan secara virtual, kemarin. Dalam acara tersebut, hadir sejumlah narasumber antara lain, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, dan Waketum Gerindra Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Burhan menerangkan, survei kali ini berbeda dari survei yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Responden survei kali ini bukan kalangan umum, tapi menyasar anak muda. Lebih spesifik lagi anak muda yang lahir pasca Orde Baru yang berusia 17-21 tahun atau biasa disebut Generasi Z.

Total ada 1.200 responden yang ditanyai lewat telepon pada Maret 2021. Metode survei menggunakan simple random sampling, dengan toleransi kesalahan sekitar lebih kurang 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Survei ini ingin mendengar suara anak muda tentang berbagai isu sosial, politik dan kebangsaan. Karena itu, berbagai isu ditanyakan. Mulai dari kondisi ekonomi serta masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan, penanganan Covid-19, Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta banyak isu lainnya.

Namun, yang paling menarik, ketika responden milenial ini ditanya soal capres pilihan. Dari 17 nama yang muncul, Gubernur DKI, Anies Baswedan berada di posisi pertama dengan meraih 15,2 persen. Di posisi kedua dan ketiga, ditempati Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan 13,7 persen dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mendapat 10,2 persen.

Selanjutnya, Sandiaga Uno di urutan keempat dengan 9,8 persen. Sedangkan Prabowo yang dalam survei kalangan umum selalu nangkring di posisi atas itu, dalam survei kali ini melorot di posisi lima dengan 9,8 persen. Di posisi enam ada Agus Harimurti Yudhoyono dengan 4,3 persen.

Sisanya, masing-masing mendapat pilihan di bawah 2 persen, seperti Tito Karnavian, Puan Maharani, Erick Thohir, Gatot Nurmantyo, dan Khofifah Indar Parawansa. Ada juga nama Budi Gunawan, Mahfud MD dan di posisi paling buncit ada Muhaimin Iskandar. Sedangkan 30 responden lainnya, belum menentukan pilihan.

Burhan menjelaskan, dari 17 nama tersebut memang belum ada yang dominan. Anies dan Ganjar misalnya, raihannya tidak berbeda secara siginifikan atau masih dalam ambang margin of error. “Akan tetapi, di antara 17 nama yang paling tinggi secara absolut itu Anies, di angka 15,2 persen,” terang Burhan.

Dari survei ini ditemukan responden yang memilih Anies adalah mereka yang memilih Prabowo-Sandi dalam pilpres 2019. Sementara mereka yang memilih Jokowi pada pilpres lalu, menyebar ke sejumlah nama. Jika dibedah berdasarkan sosiodemografi, lanjut Burhan, masing-masing nama memiliki kekuatan masing-masing berdasarkan tempat, gender, usia, dan etnis.

 

Misalnya, berdasarkan etnis, anak muda Jawa memilih Ganjar sebesar 22,1 persen. Akan tetapi, yang memilih Anies juga banyak ada 12,2 persen, disusul Sandiaga Uno 10,3 persen. Sementara Ridwan Kamil dipilih anak muda dari Sunda dengan angka 28,6 persen, disusul Anies sebesar 15,5 persen, dan Prabowo serta Sandi masing-masing 10,3 persen.

Lalu partai mana yang jadi pilihan anak muda? Dari survei itu diketahui Gerindra di posisi pertama dengan 16 persen. Lalu, disusul PDIP dengan 14,2 persen. Setelah itu, posisi ketiga ditempati Golkar, diikuti PKS, dan Demokrat dengan kisaran 5 persen.

Burhan menegaskan, saat ini lebih banyak anak muda yang belum memilih nama capres dan partai atau sekitar 30 persen. “Ini menjadi kesempatan untuk semua partai termasuk para capres untuk mendekati anak muda dengan megakomodasi kepentingan mereka,” ungkapnya.

Burhan mengingatkan, dari data BPS diketahui jumlah generasi Z yang berusia 8-23 tahun sekitar 75 juta atau 23 persen populasi. Jika ditambah generasi milenial, jumlahnya mencapai lebih dari 50 persen.

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto menanggapi temuan PDIP berada di posisi kedua tersebut dengan santai. Kata dia, survei bersifat dinamis. Kalau ada yang kurang baik, hal tersebut menjadi masukan untuk memperbaiki diri. Kalau ada yang positif, didorong supaya menjadi bagian kultur PDIP.

Menurut dia, responden survei kali ini sangat segmented, yakni anak-anak muda pasca Orde Baru. Sehingga, Hasto menduga, para anak-anak muda ini belum memiliki referensi cukup kuat terhadap masa lalu. “Tapi, saya senang mereka punya sikap penolakan terhadap Orde Baru,” kata Hasto.

Soal capres, Hasto juga menanggapinya dengan santai. Dari daftar capres pilihan anak muda, ada satu kader PDIP yang nangkring di posisi kedua yaitu Ganjar.

Menurut dia, pilpres masih jauh. Apalagi angka yang tidak memilih masih cukup besar. Dengan angka undecided yang cukup besar itu, ia belum bisa mendapatkan referensi apa yang diinginkan publik. “Sudah muncul benih-benih pemimpin baru karena proses kaderisasi,” ucapnya.

Waketum Gerindra, Rahayu Saraswati mengapresiasi hasil survei tersebut. Kata dia, survei tersebut memberikan semacam gambaran untuk mengetahui arah pemikiran Generasi Z yang potensinya cukup besar. Soal Gerindra yang menjadi parpol pilihan anak muda dan posisi Prabowo yang berada di posisi lima, Saraswati tak terlalu khawatir.

Kata dia, organisasi sayap parpol khusus kepemudaan terus bergerak untuk memastikan anak muda memiliki kesadaran tentang politik. “Menigkatkan minat agar mereka mau terlibat dalam politik,” ucapnya.

 

Pegamat politik Universitas Parahyangan Bandung, Prof Asep Warlan Yusuf menilai, setidaknya ada tiga alasan kenapa Prabowo di kalangan anak muda tidak begitu bagus tingkat keterpilihannya. Pertama, prestasinya kurang mencolok.

Menurutnya, anak muda itu ingin capres yang membawa perubahan secara signifikan. Sedangkan orang tua secara kompetisi sudah menurun daya saingnya. Sementara yang muda daya saingnya lebih kompetitif.

“Makanya pemimpin yang dipilih anak muda adalah pemimpin alternatif seperti Anies, Ganjar, dan Ridwan Kamil,” kata Asep, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Kedua, Anies, Ganjar dan Emil terlihat lebih memiliki komitmen terhadap anak muda dibanding Prabowo. Anies dan Ganjar memiliki kepedulian dan komunikasi yang intens terhadap Generasi Z. Sementara Prabowo hanya lebih terlihat basa-basi bagi kalangan anak muda. Seperti bagaimana Jokowi memilih Stafsus milenial tapi ternyata tak berguna sama sekali.

“Ini mungkin yang menjadi faktor penyebab kenapa Prabowo tidak banyak diminati oleh anak muda. Kalangan muda justru lebih menyukai pemimpin muda seperti Anies dan Ganjar karena dianggap menjadi alternatif,” paparnya.

Hanya saja, kata Asep, politik selalu memiliki kejutan di detik-detik akhir. Ada banyak hal yang menentukan ketimbang soal elektabilitas. Yaitu soal dukungan. Meski Anies dan Ridwan Kamil disukai, tapi keduanya tak memiliki partai. Sementara Prabowo memiliki partai dan masih disukai generasi orang tua.

“Belajar dari pilpres sebelumnya, pilihan orang tua yang akhirnya menentukan. Dan, Pak Prabowo masih disukai generasi orang tua itu,” jelasnya.

Asep mencontohkan, di pilpres 2019, muncul nama Kiai Ma’ruf Amin yang sebelumnya sama sekali tidak diperhitungkan. Di pilpres 2014 dan 2009, ada nama Jusuf Kalla dan Boediono. “Dari tiga pilpres itu selalu ada kejutan di last minute,” pungkasnya.

Di dunia maya, capres tua dan capres muda ini menjadi perhatian serius. “Emang 2024 pak Prabowo mau ngapain?? Nyalon presiden lagi??” tanya akun @ikihendrie13. “Capres abadi, udah tua bangke,” balas akun @irfanz777. “Ya iyalah… gw aja yang udah tua pilih yang muda. Kan lebih seger,” timpal akun @RAMujiono.

Akun @AninHidayat6 menilai, harusnya Prabowo mau memberikan kesempatan pada generasi muda untuk maju sebagai capres. “Alangkah baiknya istirahat dulu. Support dari belakang layar saja secara pikiran. Kasih kesempatan untuk yang muda, baik itu pak @aniesbaswedan, pak @ganjarpranowo, pak @ridwankamil atau pun yang lainnya. Jiwa muda dan enegeri baru,” ujarnya. “Pilihan anak muda emang bagus-bagus, sayang yang menentukan siapa yang bisa jadi capres justru orang-orang tua,” timpal akun @novan_h. [BCG]

]]> Prabowo Subianto yang selama ini selalu menjuarai survei capres 2024 langsung rontok saat survei tersebut disodorkan ke anak-anak muda. Bagi anak muda, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo adalah capres ideal yang dianggap bisa menggantikan Jokowi.

Kesimpulan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi PhD, saat merilis hasil survei bertajuk “Suara Anak Muda Terkait Isu-isu Sosial, Politik dan Bangsa”, yang dipaparkan secara virtual, kemarin. Dalam acara tersebut, hadir sejumlah narasumber antara lain, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, dan Waketum Gerindra Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Burhan menerangkan, survei kali ini berbeda dari survei yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Responden survei kali ini bukan kalangan umum, tapi menyasar anak muda. Lebih spesifik lagi anak muda yang lahir pasca Orde Baru yang berusia 17-21 tahun atau biasa disebut Generasi Z.

Total ada 1.200 responden yang ditanyai lewat telepon pada Maret 2021. Metode survei menggunakan simple random sampling, dengan toleransi kesalahan sekitar lebih kurang 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Survei ini ingin mendengar suara anak muda tentang berbagai isu sosial, politik dan kebangsaan. Karena itu, berbagai isu ditanyakan. Mulai dari kondisi ekonomi serta masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan, penanganan Covid-19, Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta banyak isu lainnya.

Namun, yang paling menarik, ketika responden milenial ini ditanya soal capres pilihan. Dari 17 nama yang muncul, Gubernur DKI, Anies Baswedan berada di posisi pertama dengan meraih 15,2 persen. Di posisi kedua dan ketiga, ditempati Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan 13,7 persen dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mendapat 10,2 persen.

Selanjutnya, Sandiaga Uno di urutan keempat dengan 9,8 persen. Sedangkan Prabowo yang dalam survei kalangan umum selalu nangkring di posisi atas itu, dalam survei kali ini melorot di posisi lima dengan 9,8 persen. Di posisi enam ada Agus Harimurti Yudhoyono dengan 4,3 persen.

Sisanya, masing-masing mendapat pilihan di bawah 2 persen, seperti Tito Karnavian, Puan Maharani, Erick Thohir, Gatot Nurmantyo, dan Khofifah Indar Parawansa. Ada juga nama Budi Gunawan, Mahfud MD dan di posisi paling buncit ada Muhaimin Iskandar. Sedangkan 30 responden lainnya, belum menentukan pilihan.

Burhan menjelaskan, dari 17 nama tersebut memang belum ada yang dominan. Anies dan Ganjar misalnya, raihannya tidak berbeda secara siginifikan atau masih dalam ambang margin of error. “Akan tetapi, di antara 17 nama yang paling tinggi secara absolut itu Anies, di angka 15,2 persen,” terang Burhan.

Dari survei ini ditemukan responden yang memilih Anies adalah mereka yang memilih Prabowo-Sandi dalam pilpres 2019. Sementara mereka yang memilih Jokowi pada pilpres lalu, menyebar ke sejumlah nama. Jika dibedah berdasarkan sosiodemografi, lanjut Burhan, masing-masing nama memiliki kekuatan masing-masing berdasarkan tempat, gender, usia, dan etnis.

 

Misalnya, berdasarkan etnis, anak muda Jawa memilih Ganjar sebesar 22,1 persen. Akan tetapi, yang memilih Anies juga banyak ada 12,2 persen, disusul Sandiaga Uno 10,3 persen. Sementara Ridwan Kamil dipilih anak muda dari Sunda dengan angka 28,6 persen, disusul Anies sebesar 15,5 persen, dan Prabowo serta Sandi masing-masing 10,3 persen.

Lalu partai mana yang jadi pilihan anak muda? Dari survei itu diketahui Gerindra di posisi pertama dengan 16 persen. Lalu, disusul PDIP dengan 14,2 persen. Setelah itu, posisi ketiga ditempati Golkar, diikuti PKS, dan Demokrat dengan kisaran 5 persen.

Burhan menegaskan, saat ini lebih banyak anak muda yang belum memilih nama capres dan partai atau sekitar 30 persen. “Ini menjadi kesempatan untuk semua partai termasuk para capres untuk mendekati anak muda dengan megakomodasi kepentingan mereka,” ungkapnya.

Burhan mengingatkan, dari data BPS diketahui jumlah generasi Z yang berusia 8-23 tahun sekitar 75 juta atau 23 persen populasi. Jika ditambah generasi milenial, jumlahnya mencapai lebih dari 50 persen.

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto menanggapi temuan PDIP berada di posisi kedua tersebut dengan santai. Kata dia, survei bersifat dinamis. Kalau ada yang kurang baik, hal tersebut menjadi masukan untuk memperbaiki diri. Kalau ada yang positif, didorong supaya menjadi bagian kultur PDIP.

Menurut dia, responden survei kali ini sangat segmented, yakni anak-anak muda pasca Orde Baru. Sehingga, Hasto menduga, para anak-anak muda ini belum memiliki referensi cukup kuat terhadap masa lalu. “Tapi, saya senang mereka punya sikap penolakan terhadap Orde Baru,” kata Hasto.

Soal capres, Hasto juga menanggapinya dengan santai. Dari daftar capres pilihan anak muda, ada satu kader PDIP yang nangkring di posisi kedua yaitu Ganjar.

Menurut dia, pilpres masih jauh. Apalagi angka yang tidak memilih masih cukup besar. Dengan angka undecided yang cukup besar itu, ia belum bisa mendapatkan referensi apa yang diinginkan publik. “Sudah muncul benih-benih pemimpin baru karena proses kaderisasi,” ucapnya.

Waketum Gerindra, Rahayu Saraswati mengapresiasi hasil survei tersebut. Kata dia, survei tersebut memberikan semacam gambaran untuk mengetahui arah pemikiran Generasi Z yang potensinya cukup besar. Soal Gerindra yang menjadi parpol pilihan anak muda dan posisi Prabowo yang berada di posisi lima, Saraswati tak terlalu khawatir.

Kata dia, organisasi sayap parpol khusus kepemudaan terus bergerak untuk memastikan anak muda memiliki kesadaran tentang politik. “Menigkatkan minat agar mereka mau terlibat dalam politik,” ucapnya.

 

Pegamat politik Universitas Parahyangan Bandung, Prof Asep Warlan Yusuf menilai, setidaknya ada tiga alasan kenapa Prabowo di kalangan anak muda tidak begitu bagus tingkat keterpilihannya. Pertama, prestasinya kurang mencolok.

Menurutnya, anak muda itu ingin capres yang membawa perubahan secara signifikan. Sedangkan orang tua secara kompetisi sudah menurun daya saingnya. Sementara yang muda daya saingnya lebih kompetitif.

“Makanya pemimpin yang dipilih anak muda adalah pemimpin alternatif seperti Anies, Ganjar, dan Ridwan Kamil,” kata Asep, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Kedua, Anies, Ganjar dan Emil terlihat lebih memiliki komitmen terhadap anak muda dibanding Prabowo. Anies dan Ganjar memiliki kepedulian dan komunikasi yang intens terhadap Generasi Z. Sementara Prabowo hanya lebih terlihat basa-basi bagi kalangan anak muda. Seperti bagaimana Jokowi memilih Stafsus milenial tapi ternyata tak berguna sama sekali.

“Ini mungkin yang menjadi faktor penyebab kenapa Prabowo tidak banyak diminati oleh anak muda. Kalangan muda justru lebih menyukai pemimpin muda seperti Anies dan Ganjar karena dianggap menjadi alternatif,” paparnya.

Hanya saja, kata Asep, politik selalu memiliki kejutan di detik-detik akhir. Ada banyak hal yang menentukan ketimbang soal elektabilitas. Yaitu soal dukungan. Meski Anies dan Ridwan Kamil disukai, tapi keduanya tak memiliki partai. Sementara Prabowo memiliki partai dan masih disukai generasi orang tua.

“Belajar dari pilpres sebelumnya, pilihan orang tua yang akhirnya menentukan. Dan, Pak Prabowo masih disukai generasi orang tua itu,” jelasnya.

Asep mencontohkan, di pilpres 2019, muncul nama Kiai Ma’ruf Amin yang sebelumnya sama sekali tidak diperhitungkan. Di pilpres 2014 dan 2009, ada nama Jusuf Kalla dan Boediono. “Dari tiga pilpres itu selalu ada kejutan di last minute,” pungkasnya.

Di dunia maya, capres tua dan capres muda ini menjadi perhatian serius. “Emang 2024 pak Prabowo mau ngapain?? Nyalon presiden lagi??” tanya akun @ikihendrie13. “Capres abadi, udah tua bangke,” balas akun @irfanz777. “Ya iyalah… gw aja yang udah tua pilih yang muda. Kan lebih seger,” timpal akun @RAMujiono.

Akun @AninHidayat6 menilai, harusnya Prabowo mau memberikan kesempatan pada generasi muda untuk maju sebagai capres. “Alangkah baiknya istirahat dulu. Support dari belakang layar saja secara pikiran. Kasih kesempatan untuk yang muda, baik itu pak @aniesbaswedan, pak @ganjarpranowo, pak @ridwankamil atau pun yang lainnya. Jiwa muda dan enegeri baru,” ujarnya. “Pilihan anak muda emang bagus-bagus, sayang yang menentukan siapa yang bisa jadi capres justru orang-orang tua,” timpal akun @novan_h. [BCG]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories