Anak Masih Rawan Terpapar Covid-19 Pemerintah Diminta Kaji Lagi Rencana PTM

Pakar kesehatan dan anak meminta pemerintah tidak memaksakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas bagi anak sekolah di tengah pandemi Covid-19. PTM dinilai sulit dilaksanakan. Apalagi, target vaksinasi guru dan tenaga kependidikan belum tercapai.

Ketua Divisi Pulmonologi Intervensional dan Gawat Napas Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Menaldi Rasmin mengatakan, pelaksanaan PTM terbatas perlu dipertimbangkan kembali.

“Saat ini kita belum tahu seberapa besar kejadian mutasi varian baru. Ini satu hal yang patut dipertimbangkan saat menginginkan adanya PTM secara terbatas,” kata Menaldi, saat diskusi daring, di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, jika perkantoran dibuka kembali, hal itu bisa dimaklumi karena terdiri dari orang dewasa yang bisa diatur. Sementara sekolah, sebagian besar adalah anak dan remaja yang waktunya sebagian besar dihabiskan dengan bermain.

Menaldi menambahkan, catatan mengenai Covid-19 pada anak belum terdengar banyak. Angka kesakitan, bahkan kematian, terjadi pada anak yang memiliki penyakit penyerta. “Tapi bisa jadi anaknya tidak sakit begitu terinfeksi Covid-19, tapi membawa penyakit itu atau menjadi carrier dan menularkannya pada orang tua dan guru,” kata guru besar FKUI itu.

Tapi, jika PTM terbatas benar-benar harus dilakukan, maka harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Sedangkan, perguruan tinggi juga tidak bisa dilakukan sepenuhnya daring. Mahasiswa FKUI misalnya, lanjut dia, sudah mulai melakukan perkuliahan secara luring.

Di acara yang sama, peneliti FKUI dr Kristiana Siste SpKJ (K) mengatakan, perlu adanya deteksi dini gangguan psikologis saat pelaksanaan PTM terbatas. “Untuk kegiatan luring pada masa pandemi Covid-19, sebanyak satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan kecemasan. Termasuk dewasa muda seperti mahasiswa, psikologis terganggu dan itu tercermin pada perilaku sehari-hari,” kata Kristiana.

Begitu juga ketika diharuskan melakukan PTM terbatas atau perkuliahan secara daring, tak jarang mengalami burnout meskipun telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Untuk itu dukungan psikologis harus benar-benar bagus. “Deteksi dini harus dilakukan pada anak sekolah saat mereka melakukan pembelajaran secara luring,” tambah dia.

 

Dari hasil penelitian FKUI, sebagian besar pada remaja mengalami depresi yang memicu mereka untuk kecanduan internet. Angka kecanduan internet di Indonesia cukup tinggi yakni di atas 19 persen.

Angka depresi pada dewasa muda cukup tinggi yakni 14 persen, padahal sebelum pandemi Covid-19 hanya tiga persen. Secara psikologis, kondisi dewasa muda mengalami depresi dan demotivasi.

Sementara, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai PTM terbatas sulit dipaksakan secara serentak dikarenakan lambatnya vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan.

P2G sangat memahami ancaman learning loss, meningkatnya angka putus sekolah, dan angka perkawinan usia sekolah di beberapa daerah sebagai dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama hampir 1,5 tahun yang belum efektif, yang akan berdampak panjang,

“Bahkan sangat berpotensi mengancam bonus demografi Indonesia, sebab ini menyangkut kualitas SDM Indonesia sekarang dan nanti,” ujar Koordinator Nasional P2G Satriawan Salim.

Tapi, dia mengingatkan, ada faktor risiko sangat besar jika sekolah dipaksa dibuka serentak pertengahan Juli 2021 nanti. Soalnya, angka Covid-19 di Tanah Air masih tinggi, munculnya Covid-19 varian baru, serta angka positif yang berada di atas 10 persen di banyak daerah.

“Tentu opsi memaksa membuka sekolah akan mengancam nyawa, keselamatan, dan masa depan siswa termasuk guru dan keluarganya,” tuturnya.

Satriwan menyebut, ada dua indikator mutlak sekolah bisa dimulai tatap muka di awal Tahun Ajaran Baru Juli 2021 nanti. Yaitu, tuntasnya vaksinasi guru dan tenaga kependidikan, kemudian sekolah sudah memenuhi semua daftar periksa kesiapan sekolah tatap muka, yang berisi 11 item. [DIR]

]]> Pakar kesehatan dan anak meminta pemerintah tidak memaksakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas bagi anak sekolah di tengah pandemi Covid-19. PTM dinilai sulit dilaksanakan. Apalagi, target vaksinasi guru dan tenaga kependidikan belum tercapai.

Ketua Divisi Pulmonologi Intervensional dan Gawat Napas Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Menaldi Rasmin mengatakan, pelaksanaan PTM terbatas perlu dipertimbangkan kembali.

“Saat ini kita belum tahu seberapa besar kejadian mutasi varian baru. Ini satu hal yang patut dipertimbangkan saat menginginkan adanya PTM secara terbatas,” kata Menaldi, saat diskusi daring, di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, jika perkantoran dibuka kembali, hal itu bisa dimaklumi karena terdiri dari orang dewasa yang bisa diatur. Sementara sekolah, sebagian besar adalah anak dan remaja yang waktunya sebagian besar dihabiskan dengan bermain.

Menaldi menambahkan, catatan mengenai Covid-19 pada anak belum terdengar banyak. Angka kesakitan, bahkan kematian, terjadi pada anak yang memiliki penyakit penyerta. “Tapi bisa jadi anaknya tidak sakit begitu terinfeksi Covid-19, tapi membawa penyakit itu atau menjadi carrier dan menularkannya pada orang tua dan guru,” kata guru besar FKUI itu.

Tapi, jika PTM terbatas benar-benar harus dilakukan, maka harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Sedangkan, perguruan tinggi juga tidak bisa dilakukan sepenuhnya daring. Mahasiswa FKUI misalnya, lanjut dia, sudah mulai melakukan perkuliahan secara luring.

Di acara yang sama, peneliti FKUI dr Kristiana Siste SpKJ (K) mengatakan, perlu adanya deteksi dini gangguan psikologis saat pelaksanaan PTM terbatas. “Untuk kegiatan luring pada masa pandemi Covid-19, sebanyak satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan kecemasan. Termasuk dewasa muda seperti mahasiswa, psikologis terganggu dan itu tercermin pada perilaku sehari-hari,” kata Kristiana.

Begitu juga ketika diharuskan melakukan PTM terbatas atau perkuliahan secara daring, tak jarang mengalami burnout meskipun telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Untuk itu dukungan psikologis harus benar-benar bagus. “Deteksi dini harus dilakukan pada anak sekolah saat mereka melakukan pembelajaran secara luring,” tambah dia.

 

Dari hasil penelitian FKUI, sebagian besar pada remaja mengalami depresi yang memicu mereka untuk kecanduan internet. Angka kecanduan internet di Indonesia cukup tinggi yakni di atas 19 persen.

Angka depresi pada dewasa muda cukup tinggi yakni 14 persen, padahal sebelum pandemi Covid-19 hanya tiga persen. Secara psikologis, kondisi dewasa muda mengalami depresi dan demotivasi.

Sementara, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai PTM terbatas sulit dipaksakan secara serentak dikarenakan lambatnya vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan.

P2G sangat memahami ancaman learning loss, meningkatnya angka putus sekolah, dan angka perkawinan usia sekolah di beberapa daerah sebagai dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama hampir 1,5 tahun yang belum efektif, yang akan berdampak panjang,

“Bahkan sangat berpotensi mengancam bonus demografi Indonesia, sebab ini menyangkut kualitas SDM Indonesia sekarang dan nanti,” ujar Koordinator Nasional P2G Satriawan Salim.

Tapi, dia mengingatkan, ada faktor risiko sangat besar jika sekolah dipaksa dibuka serentak pertengahan Juli 2021 nanti. Soalnya, angka Covid-19 di Tanah Air masih tinggi, munculnya Covid-19 varian baru, serta angka positif yang berada di atas 10 persen di banyak daerah.

“Tentu opsi memaksa membuka sekolah akan mengancam nyawa, keselamatan, dan masa depan siswa termasuk guru dan keluarganya,” tuturnya.

Satriwan menyebut, ada dua indikator mutlak sekolah bisa dimulai tatap muka di awal Tahun Ajaran Baru Juli 2021 nanti. Yaitu, tuntasnya vaksinasi guru dan tenaga kependidikan, kemudian sekolah sudah memenuhi semua daftar periksa kesiapan sekolah tatap muka, yang berisi 11 item. [DIR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories