Amerika-Rusia Kompak Soal Afghanistan .

Rusia dan Amerika Serikat (AS) bekerja sama membujuk Pemerintah Afghanistan mau ber­bagi kekuasaan dengan Taliban demi terwujudnya perdamaian. Namun di saat yang sama, kedua negara itu bersitegang, hingga Moskow menarik duta besarnya, Dubes Anatoly Antonov dari Washington DC.

Bersama China dan Pakistan, Rusia dan AS mendesak Pemerintah Afghanistan dan Taliban mau menurunkan senjata dan menciptakan pemerintahan yang mewakili semuanya.

Utusan Khusus AS untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad dan pihak Rusia menghadiri per­temuan yang juga dihadiri per­wakilan dari pihak Afghanistan yang bertikai. Ini merupakan kerja sama kompak AS-Rusia yang jarang-jarang terjadi se­jak keduanya terlibat Perang Dingin.

Pemerintahan Joe Biden telah memberi isyarat kepada Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, mereka sedang mempertimbangkan melanjutkan penarikan semua pasukan AS, yang direncanakan pada 1 Mei. Ini dilakukan demi mempercepat pembicaraan da­mai dengan Taliban.

Terlepas dari meningkatnya ketegangan antara Kremlin-Gedung Putih, Rusia secara terbuka mendukung proposal AS untuk pemerintahan per­satuan nasional yang menyatu­kan para pemimpin Taliban dan Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mendesak AS dan Taliban tetap berpegang pada kesepakatan damai yang ditandatangani Februari 2020, yang akan membuka jalan bagi keluarnya semua pasukan Amerika dalam 14 bulan.

“Pemerintahan Biden men­coba membangun konsensus baik di Afghanistan maupun global demi menekan Ghani untuk menerima gagasan pem­bagian kekuasaan,” kata Michael Kugelman, Wakil Direktur Program Asia di kelompok penelitian Wilson Center di Washington dikutip Bloomberg, kemarin.

 

Menurut dia, Washington bisa saja mengancam untuk mena­han beberapa bantuan keuangan untuk memuluskan inisiatif mereka.

Menurut pernyataan dari Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price, pihaknya berkomitmen pada proses per­damaian di Afghanistan yang mencakup penyelesaian politik yang adil dan tahan lama, serta gencatan senjata permanen dan komprehensif.

Berbeda dengan AS, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Kamis (18/2) mengatakan, para Menteri Pertahanan ang­gota NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) belum memu­tuskan apakah akan menarik pasukan dari Afghanistan.

NATO menempatkan 7.000 tentara di Afghanistan, untuk melatih dan membantu pasukan Afghanistan. Sedangkan tentara AS ada 2.50

Tarik Dubes

Sebelumnya, Rusia me­narik pulang dubesnya setelah Presiden AS Joe Biden berpikir Presiden Vladimir Putin sebagai pembunuh. Hal itu tercetus da­lam wawancara dengan ABC, sebagaimana dilansir Harian Rakyat Mereka, Kamis (18/3).

“Duta Besar Rusia di Washington, Anatoly Antonov, telah di­minta pulang ke Moskow untuk konsultasi dan menganalisis apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi dalam konteks hubungan dengan AS,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis (18/3).

Wakil Menlu Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, Biden harus bertanggung jawab atas relasi AS-Rusia yang mereng­gang. [DAY]

]]> .
Rusia dan Amerika Serikat (AS) bekerja sama membujuk Pemerintah Afghanistan mau ber­bagi kekuasaan dengan Taliban demi terwujudnya perdamaian. Namun di saat yang sama, kedua negara itu bersitegang, hingga Moskow menarik duta besarnya, Dubes Anatoly Antonov dari Washington DC.

Bersama China dan Pakistan, Rusia dan AS mendesak Pemerintah Afghanistan dan Taliban mau menurunkan senjata dan menciptakan pemerintahan yang mewakili semuanya.

Utusan Khusus AS untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad dan pihak Rusia menghadiri per­temuan yang juga dihadiri per­wakilan dari pihak Afghanistan yang bertikai. Ini merupakan kerja sama kompak AS-Rusia yang jarang-jarang terjadi se­jak keduanya terlibat Perang Dingin.

Pemerintahan Joe Biden telah memberi isyarat kepada Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, mereka sedang mempertimbangkan melanjutkan penarikan semua pasukan AS, yang direncanakan pada 1 Mei. Ini dilakukan demi mempercepat pembicaraan da­mai dengan Taliban.

Terlepas dari meningkatnya ketegangan antara Kremlin-Gedung Putih, Rusia secara terbuka mendukung proposal AS untuk pemerintahan per­satuan nasional yang menyatu­kan para pemimpin Taliban dan Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mendesak AS dan Taliban tetap berpegang pada kesepakatan damai yang ditandatangani Februari 2020, yang akan membuka jalan bagi keluarnya semua pasukan Amerika dalam 14 bulan.

“Pemerintahan Biden men­coba membangun konsensus baik di Afghanistan maupun global demi menekan Ghani untuk menerima gagasan pem­bagian kekuasaan,” kata Michael Kugelman, Wakil Direktur Program Asia di kelompok penelitian Wilson Center di Washington dikutip Bloomberg, kemarin.

 

Menurut dia, Washington bisa saja mengancam untuk mena­han beberapa bantuan keuangan untuk memuluskan inisiatif mereka.

Menurut pernyataan dari Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price, pihaknya berkomitmen pada proses per­damaian di Afghanistan yang mencakup penyelesaian politik yang adil dan tahan lama, serta gencatan senjata permanen dan komprehensif.

Berbeda dengan AS, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Kamis (18/2) mengatakan, para Menteri Pertahanan ang­gota NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) belum memu­tuskan apakah akan menarik pasukan dari Afghanistan.

NATO menempatkan 7.000 tentara di Afghanistan, untuk melatih dan membantu pasukan Afghanistan. Sedangkan tentara AS ada 2.50

Tarik Dubes

Sebelumnya, Rusia me­narik pulang dubesnya setelah Presiden AS Joe Biden berpikir Presiden Vladimir Putin sebagai pembunuh. Hal itu tercetus da­lam wawancara dengan ABC, sebagaimana dilansir Harian Rakyat Mereka, Kamis (18/3).

“Duta Besar Rusia di Washington, Anatoly Antonov, telah di­minta pulang ke Moskow untuk konsultasi dan menganalisis apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi dalam konteks hubungan dengan AS,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis (18/3).

Wakil Menlu Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, Biden harus bertanggung jawab atas relasi AS-Rusia yang mereng­gang. [DAY]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories