Amerika Masuk Jurang Resesi Menkeu: Hati-hati, Pelemahan Ekonomi Global Pasti Terjadi

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan soal pelemahan ekonomi global yang pasti terjadi, seiring tingginya inflasi di Amerika Serikat (AS), yang saat ini mencapai 9,1 persen.

Dalam sambutannya di acara Dies Natalis ke-7 Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN), Jumat (29/7), Sri Mul mengatakan, negara-negara merespons situasi ini dengan mengetatkan likuiditas dan meningkatkan suku bunga. 

Hal ini tentu saja dapat berujung pada keluarnya arus modal.

“Kalau seandainya kenaikan suku bunga dan likuiditas cukup kencang, maka pelemahan ekonomi global pasti terjadi,” kata Sri Mul.

“Pagi ini, Amerika negative gross di kuartal II. Technically, masuk resesi. China, sepekan lalu, keluar dengan gross kuartal kedua yang nyaris nol,” imbuhnya.

Lantas, apa hubungannya dengan perekonomian Indonesia?

Soal ini, Sri Mul menjelaskan, negara-negara seperti Amerika, China, Eropa adalah tujuan ekspor Indonesia. Sehingga, jika permintaan mereka melemah, ekspor kita juga akan melemah. Harga komoditas pun akan turun.

“Karena itu, meski APBN Juni tercatat surplus, kita tidak boleh jumawa. Kita tahu, situasi masih akan sangat cair dan dinamis. Berbagai kemungkinan yang terkait dengan kenaikan suku bunga, capital outflow di seluruh negara berkembang dan emerging, bisa saja terjadi. Termasuk, di Indonesia,” terang Sri Mul.

Situasi itu, lanjutnya, bisa mempengaruhi nilai tukar, suku bunga, bahkan inflasi di Tanah Air.

Inflasi di AS saat ini mencapai 9,1 persen. Tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Situasi ini antara lain diperburuk oleh krisis pangan dan energi, yang dipicu oleh konflik Ukraina.

AS kini kejeblos ke dalam jurang resesi, setelah ekonominya terkontraksi dalam dua kuartal berturut-turut. Kuartal pertama minus 1,6 persen dan kuartal kedua 0,9 persen. ■

]]> Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan soal pelemahan ekonomi global yang pasti terjadi, seiring tingginya inflasi di Amerika Serikat (AS), yang saat ini mencapai 9,1 persen.

Dalam sambutannya di acara Dies Natalis ke-7 Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN), Jumat (29/7), Sri Mul mengatakan, negara-negara merespons situasi ini dengan mengetatkan likuiditas dan meningkatkan suku bunga. 

Hal ini tentu saja dapat berujung pada keluarnya arus modal.

“Kalau seandainya kenaikan suku bunga dan likuiditas cukup kencang, maka pelemahan ekonomi global pasti terjadi,” kata Sri Mul.

“Pagi ini, Amerika negative gross di kuartal II. Technically, masuk resesi. China, sepekan lalu, keluar dengan gross kuartal kedua yang nyaris nol,” imbuhnya.

Lantas, apa hubungannya dengan perekonomian Indonesia?

Soal ini, Sri Mul menjelaskan, negara-negara seperti Amerika, China, Eropa adalah tujuan ekspor Indonesia. Sehingga, jika permintaan mereka melemah, ekspor kita juga akan melemah. Harga komoditas pun akan turun.

“Karena itu, meski APBN Juni tercatat surplus, kita tidak boleh jumawa. Kita tahu, situasi masih akan sangat cair dan dinamis. Berbagai kemungkinan yang terkait dengan kenaikan suku bunga, capital outflow di seluruh negara berkembang dan emerging, bisa saja terjadi. Termasuk, di Indonesia,” terang Sri Mul.

Situasi itu, lanjutnya, bisa mempengaruhi nilai tukar, suku bunga, bahkan inflasi di Tanah Air.

Inflasi di AS saat ini mencapai 9,1 persen. Tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Situasi ini antara lain diperburuk oleh krisis pangan dan energi, yang dipicu oleh konflik Ukraina.

AS kini kejeblos ke dalam jurang resesi, setelah ekonominya terkontraksi dalam dua kuartal berturut-turut. Kuartal pertama minus 1,6 persen dan kuartal kedua 0,9 persen. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories