Air Masuk Kantor Gubernur Banjir Ganjar Lebih Parah Dari Banjir Anies

Banjir besar akibar curah hujan yang tinggi tak hanya terjadi di Provinsi DKI Jakarta yang dipimpin Anies Baswedan. Di Semarang, Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah (jateng), juga dilanda banjir besar setelah 2 jam dilanda hujan ekstrem. Bahkan lebih parah. Air sampai masuk kantor tempat Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo bekerja.

Banjir besar yang merendam Semarang terjadi pada Selasa (23/2) sore. Musibah ini merupakan kali kedua di bulan Februari. Berbeda dengan sebelumnya, banjir kali ini lebih banyak menerjang jantung kota Semarang, seperti kawasan Simpang Lima, dan Jalan Pahlawan. Kompleks Kantor Gubernur yang sebelumnya bebas banjir, ikut terendam.

Banjir mulai merendam area Kantor Gubernur sejak pukul 4 sore. Areal tempat parkir yang berada di bagian belakang yang terendam parah. Ketinggian air mencapai setengah meter. Dari video yang banyak tersebar di jagat maya, mobil terendam hingga kaca spion. Air juga sempat nyelonong masuk menggenangi lantai 1 Gedung B dan selasar penghubung ke Gedung A. Genangan mulai surut menjelang maghrib.

Di Jalan Pandanaran, daerah yang tak jauh dari Simpang Lima, kondisinya tak jauh berbeda. Kantor PWI Jateng yang berada di kawasan itu, ikut terendam. Air masuk ke ruang tamu dan ruang kerja di bagian dalam. Kantor balaikota dan DPRD Kota Semarang yang berada di Jalan Pemuda, tak luput dari luapan banjir. Air meluber hingga depan balkon. Untungnya, ruangan Walikota dan Kantor DPRD agak tinggi sehingga airnya tidak masuk.

Banjir juga dilaporkan menggenangi sejumlah kawasan protokol seperti jalan MT Haryono, Imam Bonjol, kawasan Pleburan kampus Undip Lama, hingga Jalan Gajah Mada. Banjir juga terpantau di Jalan Pandanaran, Jalan KH Ahmad Dahlan, dan Jalan Ahmad Yani.

Kawasan lain yang terendam banjir, di antaranya Bundaran Bubakan, Jalan Gajah Raya, kawasan Kelenteng Sam Poo Kong, Simpang Kalicari, Jalan Tambak Dalam, dan wilayah langganan banjir Jalan Kaligawe Raya.

Wilayah permukiman warga juga terendam banjir. Seperti di Jalan Damarwulan, Kelurahan Karangayu, Semarang Barat. Bahkan, ketinggian air mencapai sepinggang. Banjir juga masuk ke rumah-rumah warga.

Stasiun Tawang Semarang juga kembali dilanda banjir. Akses masuk, halaman serta hall stasiun tergenang. Banjir juga menggenangi rel dengan ketinggian 14 cm dari kopel. Akibatnya, stasiun ditutup dan aktivitas naik dan turun penumpang di Stasiun Tawang dialihkan ke Stasiun Poncol.

Sampai kemarin sore, sejumlah titik mulai berangsur surut. Sebagian lagi masih tergenang. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, genangan banjir masih terpantau di Jalan Bubaan, Jalan Mataram, Jalan Kaligawe, Jalan Muktiharjo Lor, Kelurahan Muktiharjo Kidul, Jalan Dong biru, Kelurahan Genuksari, Kelurahan Gebangsari, Kelurahan Trimulyo, Kelurahan Sawah Besar, Kelurahan Kaligawe, Kelurahan Tambakrejo, Jalan Gebanganom.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Winarsono mengatakan, wilayah banjir mayoritas berada di pusat kota dan wilayah timur. Selain akibat hujan deras, sebagian lagi karena kesadaran masyarakat dalam membuang sampah di tempatnya masih kurang. Warga masih membuang sampah sembarangan, terutama di sungai.

“Banyak sampah yang menghambat saluran dan pompa penyedot, kita sudah berkoordinasi dengan DPUKota Semarang untuk menjalankan seluruh pompa di wilayah yang banjir,” katanya.

Gara-gara banjir ini, Ganjar Pranowo jadi sibuk. Dari Selasa malam sampai kemarin, politikus PDIP ini wara-wiri memantau banjir. Malam pertama saat banjir tiba, Ganjar melakukan sidak. Sekitar pukul 20.00 WIB, Ganjar mengecek penyebab terjadinya banjir. Terungkap, banjir yang membuat tempat kerjanya kerendam air, karena proyek pembangunan Gedung DPRD Jateng.

 

Eks Anggota DPR ini juga mengecek Jalan Menteri Supeno dekat Masjid At-Taqwa yang diduga jadi sumber banjir di kantornya. Saat melihat gorong-gorong, Ganjar langsung meminta stafnya menugaskan Dinas PU untuk melakukan pengerukan.

Ganjar mengaku sempat kaget saat mendapat laporan kantornya terendam banjir. Soalnya, ini baru pertama kali terjadi. Bahkan saat Semarang dilanda hujan deras selama 2 hari pada 6-7 Februari. “Aneh menurut saya karena di bagian parkir itu airnya enggak bisa keluar, itu impossible pasti ada yang tersumbat,” ujarnya.

Kemarin pagi, Ganjar kembali mengecek sejumlah titik banjir dan rumah-rumah pompa sambil bersepeda. Ia meminta agar rumah-rumah pompa di Kota Semarang terus dioperasikan hingga akhir Februari 2021 agar banjir segera surut.

Saat berada di kawasan Puri Anjarmoro, Ganjar memperhatikan sejumlah ruko yang tampak masih tergenang banjir. Kemudian ia menuju ke arah Semarang Indah dan melihat Rumah Pompa Madukoro serta menyempatkan berbincang dengan petugas rumah pompa.

Tak hanya berkeliling di dunia nyata, Ganjar juga nonggol di dunia maya. Maklum, gara-gara banjir ini Ganjar jadi sasaran kritik pegiat dunia maya. Berbagai cuitan yang memention namanya, dibalas satu-persatu oleh Ganjar.

Yang menarik perhatian, saat Ganjar menganggap dirinya orang yang paling bersalah akibat banjir yang terjadi. Cuitan itu dibuat Ganjar untuk mambalas komentar seorang warganet.

Awalnya, akun @aditya180204 mengomentari video unggahan Ganjar yang memperlihatkan Stasiun Pompa Kalibaru, Semarang. Dia bilang, kalau mau Ganjar Pranowo menyalahkan walikota. “Lalu salahkan air kiriman dari Ungaran,” kicaunya. Empat menit beselang, Ganjar merespons kicauan itu. “Saya yang salah. Yang lain sudah bekerja dengan baik,” jawab @ganjarpranowo.

Kritikan terhadap Ganjar memang tak separah Anies saat Jakarta dilanda banjir. Sejumlah selebtwit yang begitu lantang mengiritik Anies, terpantau adem saat menanggapi banjir Semarang. Politisi PSI Tsamara Amany malah memuji Ganjar. “Saya apresiasi sikap jiwa besar mengakui kesalahan seperti yang dilakukan Pak Gub Jateng,” kicau @tsamaraDKI.

Plt Ketum PSI Giring Nidji juga jadi sasaran nyinyiran netizen. Maklum, sebelumnya mantan vokalis Nidji yang mau nyapres ini begitu pedas mengritik Anies. Sampai tadi malam, akun instagram Giring diserbu netizen. “Semarang masih banjir enggak kau nyinyirin Pak Ganjar?” tanya @gibraltarferdyaraka.

“Banjir sehari surut, nyinyirnya berbusa-busa. Semarang Jateng banjir berhari-hari belagak gagu,” semprot @DpartoSemiot. Sementara akun @luthfiilhamr mengulas komentar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono yang selalu mengomentari banjir. “Banjir Kalimantan salah curah hujan, banjir Semarang salah cuaca buruk, banjir Jakarta salah Pemprov,” ujarnya.

Zubairi Djoerban sampai geleng-geleng kepala melihat respons netizen terhadap banjir. Dia heran melihat banjir Semarang dan tempat lain yang jadi isunya justru poin-poin politik.

“Itu sering terjadi di balik bencana publik. Jangan-jangan, kita tak siap tangani apa pun yang tak melibatkan poin politik. Jadi, fokus penanganan bukan bencana alamnya, tapi bencana politiknya,” pungkas @profesorZubairi. [BCG]

]]> Banjir besar akibar curah hujan yang tinggi tak hanya terjadi di Provinsi DKI Jakarta yang dipimpin Anies Baswedan. Di Semarang, Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah (jateng), juga dilanda banjir besar setelah 2 jam dilanda hujan ekstrem. Bahkan lebih parah. Air sampai masuk kantor tempat Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo bekerja.

Banjir besar yang merendam Semarang terjadi pada Selasa (23/2) sore. Musibah ini merupakan kali kedua di bulan Februari. Berbeda dengan sebelumnya, banjir kali ini lebih banyak menerjang jantung kota Semarang, seperti kawasan Simpang Lima, dan Jalan Pahlawan. Kompleks Kantor Gubernur yang sebelumnya bebas banjir, ikut terendam.

Banjir mulai merendam area Kantor Gubernur sejak pukul 4 sore. Areal tempat parkir yang berada di bagian belakang yang terendam parah. Ketinggian air mencapai setengah meter. Dari video yang banyak tersebar di jagat maya, mobil terendam hingga kaca spion. Air juga sempat nyelonong masuk menggenangi lantai 1 Gedung B dan selasar penghubung ke Gedung A. Genangan mulai surut menjelang maghrib.

Di Jalan Pandanaran, daerah yang tak jauh dari Simpang Lima, kondisinya tak jauh berbeda. Kantor PWI Jateng yang berada di kawasan itu, ikut terendam. Air masuk ke ruang tamu dan ruang kerja di bagian dalam. Kantor balaikota dan DPRD Kota Semarang yang berada di Jalan Pemuda, tak luput dari luapan banjir. Air meluber hingga depan balkon. Untungnya, ruangan Walikota dan Kantor DPRD agak tinggi sehingga airnya tidak masuk.

Banjir juga dilaporkan menggenangi sejumlah kawasan protokol seperti jalan MT Haryono, Imam Bonjol, kawasan Pleburan kampus Undip Lama, hingga Jalan Gajah Mada. Banjir juga terpantau di Jalan Pandanaran, Jalan KH Ahmad Dahlan, dan Jalan Ahmad Yani.

Kawasan lain yang terendam banjir, di antaranya Bundaran Bubakan, Jalan Gajah Raya, kawasan Kelenteng Sam Poo Kong, Simpang Kalicari, Jalan Tambak Dalam, dan wilayah langganan banjir Jalan Kaligawe Raya.

Wilayah permukiman warga juga terendam banjir. Seperti di Jalan Damarwulan, Kelurahan Karangayu, Semarang Barat. Bahkan, ketinggian air mencapai sepinggang. Banjir juga masuk ke rumah-rumah warga.

Stasiun Tawang Semarang juga kembali dilanda banjir. Akses masuk, halaman serta hall stasiun tergenang. Banjir juga menggenangi rel dengan ketinggian 14 cm dari kopel. Akibatnya, stasiun ditutup dan aktivitas naik dan turun penumpang di Stasiun Tawang dialihkan ke Stasiun Poncol.

Sampai kemarin sore, sejumlah titik mulai berangsur surut. Sebagian lagi masih tergenang. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, genangan banjir masih terpantau di Jalan Bubaan, Jalan Mataram, Jalan Kaligawe, Jalan Muktiharjo Lor, Kelurahan Muktiharjo Kidul, Jalan Dong biru, Kelurahan Genuksari, Kelurahan Gebangsari, Kelurahan Trimulyo, Kelurahan Sawah Besar, Kelurahan Kaligawe, Kelurahan Tambakrejo, Jalan Gebanganom.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Winarsono mengatakan, wilayah banjir mayoritas berada di pusat kota dan wilayah timur. Selain akibat hujan deras, sebagian lagi karena kesadaran masyarakat dalam membuang sampah di tempatnya masih kurang. Warga masih membuang sampah sembarangan, terutama di sungai.

“Banyak sampah yang menghambat saluran dan pompa penyedot, kita sudah berkoordinasi dengan DPUKota Semarang untuk menjalankan seluruh pompa di wilayah yang banjir,” katanya.

Gara-gara banjir ini, Ganjar Pranowo jadi sibuk. Dari Selasa malam sampai kemarin, politikus PDIP ini wara-wiri memantau banjir. Malam pertama saat banjir tiba, Ganjar melakukan sidak. Sekitar pukul 20.00 WIB, Ganjar mengecek penyebab terjadinya banjir. Terungkap, banjir yang membuat tempat kerjanya kerendam air, karena proyek pembangunan Gedung DPRD Jateng.

 

Eks Anggota DPR ini juga mengecek Jalan Menteri Supeno dekat Masjid At-Taqwa yang diduga jadi sumber banjir di kantornya. Saat melihat gorong-gorong, Ganjar langsung meminta stafnya menugaskan Dinas PU untuk melakukan pengerukan.

Ganjar mengaku sempat kaget saat mendapat laporan kantornya terendam banjir. Soalnya, ini baru pertama kali terjadi. Bahkan saat Semarang dilanda hujan deras selama 2 hari pada 6-7 Februari. “Aneh menurut saya karena di bagian parkir itu airnya enggak bisa keluar, itu impossible pasti ada yang tersumbat,” ujarnya.

Kemarin pagi, Ganjar kembali mengecek sejumlah titik banjir dan rumah-rumah pompa sambil bersepeda. Ia meminta agar rumah-rumah pompa di Kota Semarang terus dioperasikan hingga akhir Februari 2021 agar banjir segera surut.

Saat berada di kawasan Puri Anjarmoro, Ganjar memperhatikan sejumlah ruko yang tampak masih tergenang banjir. Kemudian ia menuju ke arah Semarang Indah dan melihat Rumah Pompa Madukoro serta menyempatkan berbincang dengan petugas rumah pompa.

Tak hanya berkeliling di dunia nyata, Ganjar juga nonggol di dunia maya. Maklum, gara-gara banjir ini Ganjar jadi sasaran kritik pegiat dunia maya. Berbagai cuitan yang memention namanya, dibalas satu-persatu oleh Ganjar.

Yang menarik perhatian, saat Ganjar menganggap dirinya orang yang paling bersalah akibat banjir yang terjadi. Cuitan itu dibuat Ganjar untuk mambalas komentar seorang warganet.

Awalnya, akun @aditya180204 mengomentari video unggahan Ganjar yang memperlihatkan Stasiun Pompa Kalibaru, Semarang. Dia bilang, kalau mau Ganjar Pranowo menyalahkan walikota. “Lalu salahkan air kiriman dari Ungaran,” kicaunya. Empat menit beselang, Ganjar merespons kicauan itu. “Saya yang salah. Yang lain sudah bekerja dengan baik,” jawab @ganjarpranowo.

Kritikan terhadap Ganjar memang tak separah Anies saat Jakarta dilanda banjir. Sejumlah selebtwit yang begitu lantang mengiritik Anies, terpantau adem saat menanggapi banjir Semarang. Politisi PSI Tsamara Amany malah memuji Ganjar. “Saya apresiasi sikap jiwa besar mengakui kesalahan seperti yang dilakukan Pak Gub Jateng,” kicau @tsamaraDKI.

Plt Ketum PSI Giring Nidji juga jadi sasaran nyinyiran netizen. Maklum, sebelumnya mantan vokalis Nidji yang mau nyapres ini begitu pedas mengritik Anies. Sampai tadi malam, akun instagram Giring diserbu netizen. “Semarang masih banjir enggak kau nyinyirin Pak Ganjar?” tanya @gibraltarferdyaraka.

“Banjir sehari surut, nyinyirnya berbusa-busa. Semarang Jateng banjir berhari-hari belagak gagu,” semprot @DpartoSemiot. Sementara akun @luthfiilhamr mengulas komentar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono yang selalu mengomentari banjir. “Banjir Kalimantan salah curah hujan, banjir Semarang salah cuaca buruk, banjir Jakarta salah Pemprov,” ujarnya.

Zubairi Djoerban sampai geleng-geleng kepala melihat respons netizen terhadap banjir. Dia heran melihat banjir Semarang dan tempat lain yang jadi isunya justru poin-poin politik.

“Itu sering terjadi di balik bencana publik. Jangan-jangan, kita tak siap tangani apa pun yang tak melibatkan poin politik. Jadi, fokus penanganan bukan bencana alamnya, tapi bencana politiknya,” pungkas @profesorZubairi. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories