ADB: Vaksinasi Dorong Kenaikan Bagi Hasil Obligasi Di Kawasan Asia Timur

Program vaksinasi di beberapa negara kawasan Asia Timur mendorong naiknya proyeksi perekonomian global dan imbal hasil (yield) obligasi di Asia Timur yang sedang berkembang. Kawasan Asia Timur yang sedang berkembang mencakup china, Hong Kong, Korea Selatan, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Menurut edisi terbaru Asia Bond Monitor dari Asian Development Bank (ADB), hingga akhir 2020, Pasar obligasi dalam mata uang lokal di Asia Timur tumbuh hingga 20,1 triliun dolar AS atau setara Rp 289.979 triliun. Sentimen investor dan kondisi keuangan juga makin membaik.

“Pasar obligasi terus tumbuh di kawasan Asia Timur yang berkembang. Sehingga kawasan ini mampu memobilisasi pendanaan bagi pemulihan yang berkelanjutan dari pandemi,” jelas Ekonom Kepala ADB Yasuyuki Sawada, dalam keterangannya, Jumat (26/3).

Menurut Sawada, gerakan vaksinasi yang berhasil dipadu kebijakan moneter yang akomodatif serta pelonggaran pembatasan telah mendorong kegiatan ekonomi dan mempercepat laju pemulihan.

Obligasi pemerintah mendominasi porsi obligasi di kawasan ini dengan nilai 12,4 triliun dolar AS atau setara Rp 178.780 triliun sampai dengan akhir Desember. Sedangkan obligasi perusahaan mencapai nilai 7,7 triliun dolar AS atau setara atau setara Rp 111.017 triliun. China masih menjadi pasar obligasi terbesar di kawasan ini, dengan memegang porsi 77,4 persen dari seluruh obligasi di Asia Timur yang berkembang.

Di Indonesia, pasar obligasi dalam rupiah tumbuh 10,0 persen dari triwulan sebelumnya. Ini merupakan tingkat pertumbuhan tercepat selama periode tersebut di kawasan Asia Timur yang berkembang, hingga mencapai 321,5 miliar dolar AS atau setara Rp 4.635 triliun sampai dengan akhir Desember 2020. “Pertumbuhan ini terutama karena naiknya kebutuhan pembiayaan pemerintah demi mendukung langkah stimulus dan upaya pemulihan di tengah wabah Covid-19,” katanya.

Keseluruhan jumlah obligasi pemerintah Indonesia tumbuh 11,6 persen dari triwulan sebelumnya hingga mencapai 291,2 miliar dolar AS atau setara Rp 4.198 triliun sampai dengan akhir Desember. Secara tahunan, obligasi pemerintah tumbuh 33,6 persen. Obligasi perusahaan turun 3,4 persen secara triwulanan sampai dengan akhir Desember 2020 akibat turunnya penerbitan dan naiknya jumlah obligasi yang jatuh tempo. 

Laporan ini mencatat, peluncuran vaksin sudah dimulai di sebagian besar negara di kawasan Asia Timur meningkatkan keyakinan pasar. Pada saat bersamaan, ketidakpastian situasi pandemi, terutama terkait varian baru dan kemungkinan kembali melonjaknya jumlah kasus, masih terus membebani proyeksi perkembangan ke depannya. “Akses vaksin yang belum merata dan potensi penyesuaian harga aset akibat naiknya taraf suku bunga jangka panjang juga menjadi risiko,” ujarnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah di sebagian besar perekonomian maju dan pasar Asia Timur yang berkembang mengalami kenaikan antara 31 Desember 2020 dan 15 Februari 2021. Sementara itu, sentimen yang lebih baik telah mendongkrak sebagian besar pasar saham dan mata uang regional. Aliran modal ke bursa saham dan obligasi di kawasan ini juga pulih pada triwulan terakhir 2020.

Pasar obligasi dalam mata uang lokal di kawasan Asia Timur yang berkembang mencapai 20,1 triliun dolar AS atau setara Rp 289.797 triliun pada akhir Desember 2020. Angka ini lebih tinggi 3,1 persen dari triwulan sebelumnya dan lebih tinggi 18,1 persen dari tahun sebelumnya. 

“Besarnya nilai pasar obligasi tumbuh hingga mencapai setara 97,7 persen dari produk domestik bruto kawasan ini pada akhir triwulan keempat 2020. Penerbitan obligasi dalam mata uang lokal mencapai nilai 2 triliun dolar AS (setara Rp 28.835 triliun),” katanya. [DWI]

]]> Program vaksinasi di beberapa negara kawasan Asia Timur mendorong naiknya proyeksi perekonomian global dan imbal hasil (yield) obligasi di Asia Timur yang sedang berkembang. Kawasan Asia Timur yang sedang berkembang mencakup china, Hong Kong, Korea Selatan, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Menurut edisi terbaru Asia Bond Monitor dari Asian Development Bank (ADB), hingga akhir 2020, Pasar obligasi dalam mata uang lokal di Asia Timur tumbuh hingga 20,1 triliun dolar AS atau setara Rp 289.979 triliun. Sentimen investor dan kondisi keuangan juga makin membaik.

“Pasar obligasi terus tumbuh di kawasan Asia Timur yang berkembang. Sehingga kawasan ini mampu memobilisasi pendanaan bagi pemulihan yang berkelanjutan dari pandemi,” jelas Ekonom Kepala ADB Yasuyuki Sawada, dalam keterangannya, Jumat (26/3).

Menurut Sawada, gerakan vaksinasi yang berhasil dipadu kebijakan moneter yang akomodatif serta pelonggaran pembatasan telah mendorong kegiatan ekonomi dan mempercepat laju pemulihan.

Obligasi pemerintah mendominasi porsi obligasi di kawasan ini dengan nilai 12,4 triliun dolar AS atau setara Rp 178.780 triliun sampai dengan akhir Desember. Sedangkan obligasi perusahaan mencapai nilai 7,7 triliun dolar AS atau setara atau setara Rp 111.017 triliun. China masih menjadi pasar obligasi terbesar di kawasan ini, dengan memegang porsi 77,4 persen dari seluruh obligasi di Asia Timur yang berkembang.

Di Indonesia, pasar obligasi dalam rupiah tumbuh 10,0 persen dari triwulan sebelumnya. Ini merupakan tingkat pertumbuhan tercepat selama periode tersebut di kawasan Asia Timur yang berkembang, hingga mencapai 321,5 miliar dolar AS atau setara Rp 4.635 triliun sampai dengan akhir Desember 2020. “Pertumbuhan ini terutama karena naiknya kebutuhan pembiayaan pemerintah demi mendukung langkah stimulus dan upaya pemulihan di tengah wabah Covid-19,” katanya.

Keseluruhan jumlah obligasi pemerintah Indonesia tumbuh 11,6 persen dari triwulan sebelumnya hingga mencapai 291,2 miliar dolar AS atau setara Rp 4.198 triliun sampai dengan akhir Desember. Secara tahunan, obligasi pemerintah tumbuh 33,6 persen. Obligasi perusahaan turun 3,4 persen secara triwulanan sampai dengan akhir Desember 2020 akibat turunnya penerbitan dan naiknya jumlah obligasi yang jatuh tempo. 

Laporan ini mencatat, peluncuran vaksin sudah dimulai di sebagian besar negara di kawasan Asia Timur meningkatkan keyakinan pasar. Pada saat bersamaan, ketidakpastian situasi pandemi, terutama terkait varian baru dan kemungkinan kembali melonjaknya jumlah kasus, masih terus membebani proyeksi perkembangan ke depannya. “Akses vaksin yang belum merata dan potensi penyesuaian harga aset akibat naiknya taraf suku bunga jangka panjang juga menjadi risiko,” ujarnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah di sebagian besar perekonomian maju dan pasar Asia Timur yang berkembang mengalami kenaikan antara 31 Desember 2020 dan 15 Februari 2021. Sementara itu, sentimen yang lebih baik telah mendongkrak sebagian besar pasar saham dan mata uang regional. Aliran modal ke bursa saham dan obligasi di kawasan ini juga pulih pada triwulan terakhir 2020.

Pasar obligasi dalam mata uang lokal di kawasan Asia Timur yang berkembang mencapai 20,1 triliun dolar AS atau setara Rp 289.797 triliun pada akhir Desember 2020. Angka ini lebih tinggi 3,1 persen dari triwulan sebelumnya dan lebih tinggi 18,1 persen dari tahun sebelumnya. 

“Besarnya nilai pasar obligasi tumbuh hingga mencapai setara 97,7 persen dari produk domestik bruto kawasan ini pada akhir triwulan keempat 2020. Penerbitan obligasi dalam mata uang lokal mencapai nilai 2 triliun dolar AS (setara Rp 28.835 triliun),” katanya. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories