Ada Yang Ngomong Aneh-aneh Soal KRI Nanggala-402 Tolong, Jaga Cangkemmu!

Jutaan rakyat Indonesia berduka, menangis dan bersedih mendengar 53 pahlawan bangsa yang ada di KRI Nanggala-402 gugur. Namun, yang nyebelin ada juga warga +62 yang bikin komen aneh-aneh di dunia maya.

Tercatat, ada sejumlah akun yang berkomentar tidak senonoh, baik di Twitter maupun Facebook. Dimulai dari Imam Kurniawan yang komentarnya berbau cabul. Awalnya, netizen mengomentari unggahan seorang pengguna grup Facebook ‘Aliansi Kuli Seluruh Indonesia (AKSI)’.

“Untuk kawan-kawan kuli semua. Sejenak mari kita doakan para pahlawan yang gugur dalam tugasnya menjaga kedaulatan laut kita. Untuk kru KRI Nanggala ‘Fair Wind and Following Seas, KRI Nanggala. Commence the Eternal Patrol’,” tulis Aliansi Kuli Seluruh Indonesia (AKSI).

Seruan ini lantas disamber Imam. “Di saat kapal selammu tenggelam, di situ istrimu ku….,” tulisnya.

Aksi tak terpuji ini, membuat prajurit TNI bertindak. Tak butuh waktu lama, Imam diciduk. Imam membantah telah memposting hal tersebut, karena sehari-hari ada di ladang, tidak membawa HP.

Ada lagi akun Facebook bernama Jhon Silahoi. Ia tak sepakat 53 awak KRI Nanggala-402 dianggap mati syahid.

Yang bikin geleng-geleng kepala, ada oknum polisi: Aipda Fajar Indirawan yang juga kasih komentar menyakitkan. Melalui akun Facebook Fajarnnzz, ia heran banyak yang bersedih atas kejadian ini.

“Ngopo kru kapal kyoo ngono ditangisi. Urus sendiri urusanmu,” tulisnya.

Akibat postingan ini, Polsek Kalasan, Sleman digeruduk sejumlah prajurit TNI AL dari Lanal Yogyakarta. Berdasarkan unggahan akun Infokomando, prajurit tersebut meminta klarifikasi sekaligus pertanggungjawaban komentar miring di medsos terkait tenggelamnya KRI Nanggala yang diduga dilakukan Aipda Fajar Indriawan.

“Ungkapan seperti ini apakah pantas, di saat 53 keluarga korban tenggelamnya KRI Nanggala-402 sedang berduka? Di sana ada pimpinan, senior dan yunior kami jadi korban,” tulis Infokomando.

“Mohon gerak cepatnya. Kami hanya ingin Aipda Fajar Indriawan, anggota Polsek Kalasan Sleman mengklarifikasi pernyataannya di Medsos mengingat ybs adalah anggota Polri,” tambah informasi tersebut.

Menindaklanjuti kejadian itu, Polda Yogyakarta dan Bareskrim Polri langsung menangkap oknum tersebut. “Sudah kami amankan, kami sedang periksa dari segi fisik dan kejiwaan, kami belum tahu kejiwaannya seperti apa,” terang Wakapolda Yogyakarta, Brigjen Pol Slamet Santoso.

 

Polisi yang bertugas sebagai bintara Polsek itu tidak hanya terancam pelanggaran kode etik, melainkan juga pidana. Alasannya, tindakan polisi di Yogyakarta itu berpotensi merusak hubungan antarinstansi.

Saat ini pemeriksaan dari tim siber dan Propam sedang berjalan. Slamet menduga, oknum polisi itu mengalami depresi. Polda Yogyakarta juga sudah berkoordinasi dengan TNI AL. “Semoga semua tetap kondusif,” ucap Slamet.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri tengah mengusut akun yang diduga membuat komentar negatif terkait gugurnya prajurit TNI yang tenggelam dalam kapal selam KRI Nanggala-402 di Perairan Bali. Diduga, ada 7 akun yang berkomentar kurang senonoh terhadap kru TNI yang gugur tersebut.

“Setelah dilakukan pendalaman, dua akun tersebut anonymous yang ditindaklanjuti dengan pengajuan pemblokiran kepada Kemenkominfo. Lima sisanya dilakukan pengusutan,” kata Direktur Tindak Pidana Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi, kemarin.

Tiga akun yang diusut adalah akun Facebook bernama Fajarnnzz, Ahmad Khoizinudin juga lagi dilakukan pendalaman oleh Subdit 2 Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Polri. Lalu, akun yang diusut adalah WhatsApp 62819912xxxxx. Selanjutnya, akun Facebook bernama Imam Kurniawan dan Jhon Silahoi.

Bagaimana tanggapan psikolog? Psikolog Tika Bisono mengatakan, pihak-pihak yang berkomentar senonoh terhadap KRI Nanggalan-402 adalah orang-orang yang tidak memiliki empati dan simpati.

Menurut dia, dalam ilmu psikologi empati merupakan bagian dari kecerdasan emosi. Secara lebih luas, ia merupakan bagian dari kematangan seseorang dalam merespons peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

“Jadi selain empati juga ada simpati. Nah, simpati itu sebenarnya sebuah rasa atau proses mental bukan hanya belas kasihan, tapi di sini kan ada penghormatan terhadap TNI,” katanya.

Anggota DPR, Nasril Bahar menilai, komentar seperti itu sangat tidak etis, dan melukai keluarga korban. Menurutnya, perlu kedewasaan masyarakat dalam menggunakan sosial media. Sebab, 53 awak KRI Nanggala-402 merupakan syuhada dalam menjaga keamanan negara.

“Jangan anggap syuhada itu ketika berperang saja. Kita harus berprasangka baik. Kalo perlu kita doakan agar amal ibadah mereka diterima Tuhan. Bukan justru sebaliknya, berkomentar yang malah menyakiti keluarga korban. Sangat tidak bijak itu,” ucap politisi PAN itu.

Netizen lainnya juga menganggap komentar seperti itu keterlaluan. “Lagian, bisa-bisanya musibah dijadiin bercandaan,” kata @tesadarma. “Padahal sudah banyak banget yang dibawa ke jalur hukum soal komen-komen di sosmed ini. Tapi tetep aja netizen begitu-begitu aja,” timpal @kalulanya. “Biadab. Tangkap dan penjarakan, manusia berhati iblis tersebut,” pinta @edymulyono948.

Ada juga yang minta jaga cangkem saat berkomentar. “Nggak punya ahklak. Seluruh Nusantara berduka adanya musibah KRI Nanggala 402. Hukum dunia berlaku, hukum akhirat juga masih tetap berlaku,” pesan @IKemashadi. “Tangkap dan jangan kasih ampun. Jangan kelar juga pake materai,” harap @DavidHarun5. “Entar kita lihat ekspresi mukanya, paling pada mewek,” pungkas @mirzabianconeri. [MEN]

]]> Jutaan rakyat Indonesia berduka, menangis dan bersedih mendengar 53 pahlawan bangsa yang ada di KRI Nanggala-402 gugur. Namun, yang nyebelin ada juga warga +62 yang bikin komen aneh-aneh di dunia maya.

Tercatat, ada sejumlah akun yang berkomentar tidak senonoh, baik di Twitter maupun Facebook. Dimulai dari Imam Kurniawan yang komentarnya berbau cabul. Awalnya, netizen mengomentari unggahan seorang pengguna grup Facebook ‘Aliansi Kuli Seluruh Indonesia (AKSI)’.

“Untuk kawan-kawan kuli semua. Sejenak mari kita doakan para pahlawan yang gugur dalam tugasnya menjaga kedaulatan laut kita. Untuk kru KRI Nanggala ‘Fair Wind and Following Seas, KRI Nanggala. Commence the Eternal Patrol’,” tulis Aliansi Kuli Seluruh Indonesia (AKSI).

Seruan ini lantas disamber Imam. “Di saat kapal selammu tenggelam, di situ istrimu ku….,” tulisnya.

Aksi tak terpuji ini, membuat prajurit TNI bertindak. Tak butuh waktu lama, Imam diciduk. Imam membantah telah memposting hal tersebut, karena sehari-hari ada di ladang, tidak membawa HP.

Ada lagi akun Facebook bernama Jhon Silahoi. Ia tak sepakat 53 awak KRI Nanggala-402 dianggap mati syahid.

Yang bikin geleng-geleng kepala, ada oknum polisi: Aipda Fajar Indirawan yang juga kasih komentar menyakitkan. Melalui akun Facebook Fajarnnzz, ia heran banyak yang bersedih atas kejadian ini.

“Ngopo kru kapal kyoo ngono ditangisi. Urus sendiri urusanmu,” tulisnya.

Akibat postingan ini, Polsek Kalasan, Sleman digeruduk sejumlah prajurit TNI AL dari Lanal Yogyakarta. Berdasarkan unggahan akun Infokomando, prajurit tersebut meminta klarifikasi sekaligus pertanggungjawaban komentar miring di medsos terkait tenggelamnya KRI Nanggala yang diduga dilakukan Aipda Fajar Indriawan.

“Ungkapan seperti ini apakah pantas, di saat 53 keluarga korban tenggelamnya KRI Nanggala-402 sedang berduka? Di sana ada pimpinan, senior dan yunior kami jadi korban,” tulis Infokomando.

“Mohon gerak cepatnya. Kami hanya ingin Aipda Fajar Indriawan, anggota Polsek Kalasan Sleman mengklarifikasi pernyataannya di Medsos mengingat ybs adalah anggota Polri,” tambah informasi tersebut.

Menindaklanjuti kejadian itu, Polda Yogyakarta dan Bareskrim Polri langsung menangkap oknum tersebut. “Sudah kami amankan, kami sedang periksa dari segi fisik dan kejiwaan, kami belum tahu kejiwaannya seperti apa,” terang Wakapolda Yogyakarta, Brigjen Pol Slamet Santoso.

 

Polisi yang bertugas sebagai bintara Polsek itu tidak hanya terancam pelanggaran kode etik, melainkan juga pidana. Alasannya, tindakan polisi di Yogyakarta itu berpotensi merusak hubungan antarinstansi.

Saat ini pemeriksaan dari tim siber dan Propam sedang berjalan. Slamet menduga, oknum polisi itu mengalami depresi. Polda Yogyakarta juga sudah berkoordinasi dengan TNI AL. “Semoga semua tetap kondusif,” ucap Slamet.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri tengah mengusut akun yang diduga membuat komentar negatif terkait gugurnya prajurit TNI yang tenggelam dalam kapal selam KRI Nanggala-402 di Perairan Bali. Diduga, ada 7 akun yang berkomentar kurang senonoh terhadap kru TNI yang gugur tersebut.

“Setelah dilakukan pendalaman, dua akun tersebut anonymous yang ditindaklanjuti dengan pengajuan pemblokiran kepada Kemenkominfo. Lima sisanya dilakukan pengusutan,” kata Direktur Tindak Pidana Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi, kemarin.

Tiga akun yang diusut adalah akun Facebook bernama Fajarnnzz, Ahmad Khoizinudin juga lagi dilakukan pendalaman oleh Subdit 2 Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Polri. Lalu, akun yang diusut adalah WhatsApp 62819912xxxxx. Selanjutnya, akun Facebook bernama Imam Kurniawan dan Jhon Silahoi.

Bagaimana tanggapan psikolog? Psikolog Tika Bisono mengatakan, pihak-pihak yang berkomentar senonoh terhadap KRI Nanggalan-402 adalah orang-orang yang tidak memiliki empati dan simpati.

Menurut dia, dalam ilmu psikologi empati merupakan bagian dari kecerdasan emosi. Secara lebih luas, ia merupakan bagian dari kematangan seseorang dalam merespons peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

“Jadi selain empati juga ada simpati. Nah, simpati itu sebenarnya sebuah rasa atau proses mental bukan hanya belas kasihan, tapi di sini kan ada penghormatan terhadap TNI,” katanya.

Anggota DPR, Nasril Bahar menilai, komentar seperti itu sangat tidak etis, dan melukai keluarga korban. Menurutnya, perlu kedewasaan masyarakat dalam menggunakan sosial media. Sebab, 53 awak KRI Nanggala-402 merupakan syuhada dalam menjaga keamanan negara.

“Jangan anggap syuhada itu ketika berperang saja. Kita harus berprasangka baik. Kalo perlu kita doakan agar amal ibadah mereka diterima Tuhan. Bukan justru sebaliknya, berkomentar yang malah menyakiti keluarga korban. Sangat tidak bijak itu,” ucap politisi PAN itu.

Netizen lainnya juga menganggap komentar seperti itu keterlaluan. “Lagian, bisa-bisanya musibah dijadiin bercandaan,” kata @tesadarma. “Padahal sudah banyak banget yang dibawa ke jalur hukum soal komen-komen di sosmed ini. Tapi tetep aja netizen begitu-begitu aja,” timpal @kalulanya. “Biadab. Tangkap dan penjarakan, manusia berhati iblis tersebut,” pinta @edymulyono948.

Ada juga yang minta jaga cangkem saat berkomentar. “Nggak punya ahklak. Seluruh Nusantara berduka adanya musibah KRI Nanggala 402. Hukum dunia berlaku, hukum akhirat juga masih tetap berlaku,” pesan @IKemashadi. “Tangkap dan jangan kasih ampun. Jangan kelar juga pake materai,” harap @DavidHarun5. “Entar kita lihat ekspresi mukanya, paling pada mewek,” pungkas @mirzabianconeri. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories