Ada Indikasi Suap, Erick Minta Garuda Balikin 12 Pesawat Bombardier

Menteri BUMN, Erick Thohir mengambil, langkah tegas dengan mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1.000 yang disewa Garuda Indonesia dari lessor Nordic Aviation Capital (NAC). 

Keputusan pengembalian pesawat atau early termination ini sudah dimulai dengan pemberhentian operasi pesawat sejak 1 Februari 2021. Penghentian pemakaian armada itu dilakukan sepihak karena negosiasi dengan pihak lessor, yakni NAC berlangsung alot. 

“Proses negosiasi ini sudah terjadi berulang kali. Keputusan ini diambil karena dua alasan. Pertama, Bombardier ada kasus hukumnya. Kedua, ini keadaan force majeure karena pandemi. Kita juga nggak mau dileceh-lecehkan” tegasnya dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (10/2). 

Erick menambahkan, keputusan ini juga mempertimbangkan tata kelola perusahaan yang baik.  

Selain itu, kata Erick, mempertimbangkan keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta penyelidikan Serious Fraud Office Inggris terhadap indikasi pidana suap dari pihak pabrikan kepada oknum pimpinan Garuda saat proses pengadaan pesawat tahun 2011 lalu. 

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan, Garuda memiliki 18 pesawat Bombardier. Sebanyak 12 pesawat disewa dari NAC dengan skema operating lease. 

“Pesawat itu saat ini dalam status grounded (dikandangkan) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta),” ungkapnya. 

Sementara, enam pesawat lainnya didatangkan menggunakan skema financial lease dari penyedia financial lease Export Development Canada (EDC). Masa sewa pesawat itu sampai 2024. 

Garuda juga sedang melakukan pembicaraan dengan EDC terkait kelanjutan kontrak sewa pesawat. Irfan mengatakan, dengan mengembalikan pesawat Bombardier kepada lessor, Garuda bisa menghemat 220 juta dolar AS per tahun. 

“Penghentian ini bagian dari upaya mengurangi kerugian di masa mendatang,” katanya. 

Sebelumnya, SFP Inggris lagi menyelidiki perusahaan pembuat pesawat dan kapal dari Kanada Bombardier Inc atas dugaan suap dan korupsi terkait kesepakatan dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang melibatkan mantan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar. Peninjauan ini dilakukan setelah pengadilan Indonesia memvonis Emirsyah Satar bersalah pada Mei lalu atas kasus korupsi. [KPJ]

]]> Menteri BUMN, Erick Thohir mengambil, langkah tegas dengan mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1.000 yang disewa Garuda Indonesia dari lessor Nordic Aviation Capital (NAC). 

Keputusan pengembalian pesawat atau early termination ini sudah dimulai dengan pemberhentian operasi pesawat sejak 1 Februari 2021. Penghentian pemakaian armada itu dilakukan sepihak karena negosiasi dengan pihak lessor, yakni NAC berlangsung alot. 

“Proses negosiasi ini sudah terjadi berulang kali. Keputusan ini diambil karena dua alasan. Pertama, Bombardier ada kasus hukumnya. Kedua, ini keadaan force majeure karena pandemi. Kita juga nggak mau dileceh-lecehkan” tegasnya dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (10/2). 

Erick menambahkan, keputusan ini juga mempertimbangkan tata kelola perusahaan yang baik.  

Selain itu, kata Erick, mempertimbangkan keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta penyelidikan Serious Fraud Office Inggris terhadap indikasi pidana suap dari pihak pabrikan kepada oknum pimpinan Garuda saat proses pengadaan pesawat tahun 2011 lalu. 

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan, Garuda memiliki 18 pesawat Bombardier. Sebanyak 12 pesawat disewa dari NAC dengan skema operating lease. 

“Pesawat itu saat ini dalam status grounded (dikandangkan) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta),” ungkapnya. 

Sementara, enam pesawat lainnya didatangkan menggunakan skema financial lease dari penyedia financial lease Export Development Canada (EDC). Masa sewa pesawat itu sampai 2024. 

Garuda juga sedang melakukan pembicaraan dengan EDC terkait kelanjutan kontrak sewa pesawat. Irfan mengatakan, dengan mengembalikan pesawat Bombardier kepada lessor, Garuda bisa menghemat 220 juta dolar AS per tahun. 

“Penghentian ini bagian dari upaya mengurangi kerugian di masa mendatang,” katanya. 

Sebelumnya, SFP Inggris lagi menyelidiki perusahaan pembuat pesawat dan kapal dari Kanada Bombardier Inc atas dugaan suap dan korupsi terkait kesepakatan dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang melibatkan mantan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar. Peninjauan ini dilakukan setelah pengadilan Indonesia memvonis Emirsyah Satar bersalah pada Mei lalu atas kasus korupsi. [KPJ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories