Ada 200 Kasus, 100 Anak Meninggal Pemerintah Harus All Out Tangani Gagal Ginjal Akut

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Profesor Tjandra Yoga Aditama, menyebut banyak pihak menginginkan Pemerintah menetapkan penyakit gagal ginjal akut sebagai Kejadian Luar Biasa agar penanganan dan sumber daya dapat maksimal. Apalagi, saat ini  perkembangan kasus gagal ginjal akut pada anak yang sudah lebih dari 200 anak dan kematian hampir 100 anak.

Namun, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini mengakui, situasi ini benar-benar merupakan tantangan amat berat dunia kesehatan. Karena itu semua pihak tentu setuju agar penanganannya harus sangat intensif.

“Tetapi kita perlu tahu bahwa yang tercantum resmi dalam Peraturan Menteri Kesehatan, pertama, KLB penyakit menular yang bahkan disebut dapat menjurus terjadinya wabah.  Kedua, KLB Keracunan Pangan,” kata Profesor Yoga kepada RM.id, Jumat (21/10).

Dia menjelaskan, sejauh ini yang diduga jadi penyebab gagal ginjal akut bukanlah penyebaran penyakit menular yang berpotensi wabah. Kejadian yang menjangkit 200 anak di 20 provinsi ini bukan juga disebabkan mengkonsumsi makanan tertentu.

“Jadi tidak sesuai dengan istilah KLB di Peraturan Menteri Kesehatan yang ada. Kecuali kalau kemudian dibuat peraturan tentang jenis KLB yang baru nantinya,” tegasnya.

“Tetapi bagaimanapun juga, apapun istilah yang akan dipakai, situasi ini bukanlah hal yang biasa, ini jelas situasi luar biasa bagi kesehatan masyarakat kita.  Karena itu harus ditangani benar-benar maksimal, “all out”, dengan cermat, cepat dan akurat. Ingat aspeknya dapat luas sekali, tentu tragis dengan kasus yang ada serta utamanya anak-anak yang meninggal, trauma sosial dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan, juga ada kebijakan tidak memperdagangkan sirup obat yang jumlahnya tentu banyak sekali dengan berbagai dampaknya, upaya penyelidikan menemukan penyebab pasti yang belum juga tuntas, dan bahkan mungkin juga ada aspek ketahanan kesehatan bangsa,” sarannya.

]]> Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Profesor Tjandra Yoga Aditama, menyebut banyak pihak menginginkan Pemerintah menetapkan penyakit gagal ginjal akut sebagai Kejadian Luar Biasa agar penanganan dan sumber daya dapat maksimal. Apalagi, saat ini  perkembangan kasus gagal ginjal akut pada anak yang sudah lebih dari 200 anak dan kematian hampir 100 anak.

Namun, Mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini mengakui, situasi ini benar-benar merupakan tantangan amat berat dunia kesehatan. Karena itu semua pihak tentu setuju agar penanganannya harus sangat intensif.

“Tetapi kita perlu tahu bahwa yang tercantum resmi dalam Peraturan Menteri Kesehatan, pertama, KLB penyakit menular yang bahkan disebut dapat menjurus terjadinya wabah.  Kedua, KLB Keracunan Pangan,” kata Profesor Yoga kepada RM.id, Jumat (21/10).

Dia menjelaskan, sejauh ini yang diduga jadi penyebab gagal ginjal akut bukanlah penyebaran penyakit menular yang berpotensi wabah. Kejadian yang menjangkit 200 anak di 20 provinsi ini bukan juga disebabkan mengkonsumsi makanan tertentu.

“Jadi tidak sesuai dengan istilah KLB di Peraturan Menteri Kesehatan yang ada. Kecuali kalau kemudian dibuat peraturan tentang jenis KLB yang baru nantinya,” tegasnya.

“Tetapi bagaimanapun juga, apapun istilah yang akan dipakai, situasi ini bukanlah hal yang biasa, ini jelas situasi luar biasa bagi kesehatan masyarakat kita.  Karena itu harus ditangani benar-benar maksimal, “all out”, dengan cermat, cepat dan akurat. Ingat aspeknya dapat luas sekali, tentu tragis dengan kasus yang ada serta utamanya anak-anak yang meninggal, trauma sosial dan kesedihan keluarga yang ditinggalkan, juga ada kebijakan tidak memperdagangkan sirup obat yang jumlahnya tentu banyak sekali dengan berbagai dampaknya, upaya penyelidikan menemukan penyebab pasti yang belum juga tuntas, dan bahkan mungkin juga ada aspek ketahanan kesehatan bangsa,” sarannya.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories