Abis Kontak Erat Dengan Pasien Covid-19, Lakukan Ini…

Kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Salah satu penyebabnya karena kontak erat antara orang yang positif Covid-19, baik tanpa gejala, gejala ringan, atau bahkan gejala sedang dan berat, dengan orang yang tidak terkonfirmasi Corona.

KPCPEN#PakaiMasker mengunggah meme berkaitan dengan kontak erat yang menjadi penyebab penyebaran Covid-19. Pertama, dua orang saling berjabat tangan yang dikelilingi virus Corona. Kedua, dua orang yang memakai masker dan saling berpegang tangan.

Dia menjelaskan, apa itu kontak erat. Yaitu, berdekatan dengan kasus Covid-19 atau memiliki gejala Covid-19 dalam jarak 1 meter selama 15 menit atau lebih.

Selanjutnya, bersentuhan fisik langsung dengan kasus Covid-19 atau yang memiliki gejala Covid-19 seperti, bersalaman, berpegang tangan dan berpelukan.

“Jika terjadi kontak erat, segera lakukan karantina mandiri, lapor ke Puskesmas terdekat dan lakukan pemeriksaan swab PCR dan antigen,” saran KPCPEN#PakaiMasker.

Akun @dr_koko28 menyarankan, yang per lu dilakukan masyarakat begitu tahu ada riwayat kontak erat dengan pasien Covid-19, segera cek gejalagejalanya, tes Covid sebesar Rp 50 ribu Rp 300 ribu dan isoman terpantau.

“Masyarakat yang punya riwayat kontak erat dengan pasien yang positif, walaupun sudah tes PCR hasilnya negatif, tetap isoman dulu di rumah. Khawatirnya false negative,” saran @aditonaraga.

Senada dilontarkan @kalla_jengking. Dia mengingatkan masyarakat yang mempunyai riwayat kontak erat dari pasien Covid-19, jangan panik, segera lakukan karantina mandiri, lapor ke Puskesmas terdekat, dan lakukan pemeriksaan swab PCR atau antigen.

“Tetap waspada dan disiplin prokes ketat agar penularan Covid-19 varian baru bisa dicegah,” kata @kalla_jengking.

“Yang penting kalau abis kontak erat harus siap komit isoman, lalu antigen/PCR juga,” sambung @dthv.

Akun @bukuastronomi menyarankan, bila kontak erat, apalagi bergejala, lebih baik langsung tes PCR sekalian. Dia tidak menyarankan tes atigen karena kurang sensitif terhadap varian Omicron. “Nunggu positif di antigen, udah keburu nularin,” kata dia.

 

Akun @rgoestama mengaku sudah melalui 3 kali tes antigen dan hasilnya negatif. Namun karena masih bergejala, kemudian berinisiatif untuk tes PCR dan hasilnya positif.

“Saran saya tetap ikuti prokes dan jika sudah ada gejala atau kontak erat, lebih baik diupayakan untuk tes PCR aja,” saran dia.

Akun @tepoci menimpali. Kata dia, sebenarnya tes antigen berfungsi sebagai screening, bukan diagnostik. Presentasi negatif palsu tes antigen besar.

“Artinya, hasil negatif padahal sebenarnya tes PCR positif. Antigen di atas 5 hari juga biasanya sudah negatif palsu,” kata dia.

Akun @naraya_medical menjelaskan, pada aplikasi PeduliLindungi ada hasil ‘blackzone’ atau warna hitam, berarti pasien terkonfirmasi (+) atau ada riwayat kontak erat. Mereka tidak boleh berada di area publik selama 1011 hari.

“Kemudian, bila melakukan test antigen atau PCR hasilnya negatif akan tetap ‘hitam’ sampai waktu 1011 hari dan akan berubah menjadi ‘hijau’. Artinya, sudah boleh pergi ke publik,” kata dia.

Akun @kedungkandang01 mengatakan, kasus lonjakan Covid-19 semakin meningkat dalam beberapa Minggu terakhir. Sebabnya, masyarakat mulai abai terhadap prokes.

“Padahal, disiplin terhadap prokes merupakan kunci utama agar pandemi bisa terkendali dan berhenti, tentunya dengan didukung vaksinasi,” ujar dia.

Sementara, @z4iks mengaku kurang setuju bila melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19 harus mengeluarkan uang untuk tes Covid-19. Selama tidak bergejala atau gejala ringan, cukup dengan prokes dan isoman di rumah. “Ngapain ke luar duit,” kata @z4iks.

Akun @aryosupodo menimpali. Dia bilang, yang diminta untuk melakukan tes antigen hanya mereka yang bergejala. Harga tes antigen murah. Bilapun bergejala berat atau punya kontak erat bisa melakukan tes PCR di Puskesmas terdekat. “Dan itu gratis. Jadi gaji Anda aman,” kata dia. [TIF]

]]> Kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Salah satu penyebabnya karena kontak erat antara orang yang positif Covid-19, baik tanpa gejala, gejala ringan, atau bahkan gejala sedang dan berat, dengan orang yang tidak terkonfirmasi Corona.

KPCPEN#PakaiMasker mengunggah meme berkaitan dengan kontak erat yang menjadi penyebab penyebaran Covid-19. Pertama, dua orang saling berjabat tangan yang dikelilingi virus Corona. Kedua, dua orang yang memakai masker dan saling berpegang tangan.

Dia menjelaskan, apa itu kontak erat. Yaitu, berdekatan dengan kasus Covid-19 atau memiliki gejala Covid-19 dalam jarak 1 meter selama 15 menit atau lebih.

Selanjutnya, bersentuhan fisik langsung dengan kasus Covid-19 atau yang memiliki gejala Covid-19 seperti, bersalaman, berpegang tangan dan berpelukan.

“Jika terjadi kontak erat, segera lakukan karantina mandiri, lapor ke Puskesmas terdekat dan lakukan pemeriksaan swab PCR dan antigen,” saran KPCPEN#PakaiMasker.

Akun @dr_koko28 menyarankan, yang per lu dilakukan masyarakat begitu tahu ada riwayat kontak erat dengan pasien Covid-19, segera cek gejalagejalanya, tes Covid sebesar Rp 50 ribu Rp 300 ribu dan isoman terpantau.

“Masyarakat yang punya riwayat kontak erat dengan pasien yang positif, walaupun sudah tes PCR hasilnya negatif, tetap isoman dulu di rumah. Khawatirnya false negative,” saran @aditonaraga.

Senada dilontarkan @kalla_jengking. Dia mengingatkan masyarakat yang mempunyai riwayat kontak erat dari pasien Covid-19, jangan panik, segera lakukan karantina mandiri, lapor ke Puskesmas terdekat, dan lakukan pemeriksaan swab PCR atau antigen.

“Tetap waspada dan disiplin prokes ketat agar penularan Covid-19 varian baru bisa dicegah,” kata @kalla_jengking.

“Yang penting kalau abis kontak erat harus siap komit isoman, lalu antigen/PCR juga,” sambung @dthv.

Akun @bukuastronomi menyarankan, bila kontak erat, apalagi bergejala, lebih baik langsung tes PCR sekalian. Dia tidak menyarankan tes atigen karena kurang sensitif terhadap varian Omicron. “Nunggu positif di antigen, udah keburu nularin,” kata dia.

 

Akun @rgoestama mengaku sudah melalui 3 kali tes antigen dan hasilnya negatif. Namun karena masih bergejala, kemudian berinisiatif untuk tes PCR dan hasilnya positif.

“Saran saya tetap ikuti prokes dan jika sudah ada gejala atau kontak erat, lebih baik diupayakan untuk tes PCR aja,” saran dia.

Akun @tepoci menimpali. Kata dia, sebenarnya tes antigen berfungsi sebagai screening, bukan diagnostik. Presentasi negatif palsu tes antigen besar.

“Artinya, hasil negatif padahal sebenarnya tes PCR positif. Antigen di atas 5 hari juga biasanya sudah negatif palsu,” kata dia.

Akun @naraya_medical menjelaskan, pada aplikasi PeduliLindungi ada hasil ‘blackzone’ atau warna hitam, berarti pasien terkonfirmasi (+) atau ada riwayat kontak erat. Mereka tidak boleh berada di area publik selama 1011 hari.

“Kemudian, bila melakukan test antigen atau PCR hasilnya negatif akan tetap ‘hitam’ sampai waktu 1011 hari dan akan berubah menjadi ‘hijau’. Artinya, sudah boleh pergi ke publik,” kata dia.

Akun @kedungkandang01 mengatakan, kasus lonjakan Covid-19 semakin meningkat dalam beberapa Minggu terakhir. Sebabnya, masyarakat mulai abai terhadap prokes.

“Padahal, disiplin terhadap prokes merupakan kunci utama agar pandemi bisa terkendali dan berhenti, tentunya dengan didukung vaksinasi,” ujar dia.

Sementara, @z4iks mengaku kurang setuju bila melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19 harus mengeluarkan uang untuk tes Covid-19. Selama tidak bergejala atau gejala ringan, cukup dengan prokes dan isoman di rumah. “Ngapain ke luar duit,” kata @z4iks.

Akun @aryosupodo menimpali. Dia bilang, yang diminta untuk melakukan tes antigen hanya mereka yang bergejala. Harga tes antigen murah. Bilapun bergejala berat atau punya kontak erat bisa melakukan tes PCR di Puskesmas terdekat. “Dan itu gratis. Jadi gaji Anda aman,” kata dia. [TIF]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories