Abaikan Prokes Usai Divaksin Kasus Covid-19 Bisa Meledak Kayak India, Memangnya Mau?

Jangan coba-coba abaikan protokol kesehatan (prokes) usai divaksin Covid-19. Soalnya, prokes dan vaksin adalah satu paket yang tak terpisahkan untuk mencegah Covid-19. Mereka yang sudah divaksin, tidak otomatis kebal terhadap virus tersebut.

Hal itu disampaikan Pakar Bioteknologi Prof Bimo Ario Tejo dalam Talk Show RM.id bertema Divaksin Tak Otomatis Kebal, secara virtual, kemarin.

Dekan Fakultas Applied Sciences Universities In Kuala Lumpur Malaysia ini mengingatkan bahayanya jika masyarakat berpikir bahwa vak­sin bisa membuat tubuh kebal 100 persen.

“Kalau kita terlalu yakin dengan vaksinasi dan melupa­kan protokol kesehatan, maka kita akan mengalami apa yang dialami oleh Eropa dan India saat ini,” ujar Bimo.

Eropa dan India, saat ini mengalami lonjakan penu­laran Covid-19. Bahkan, India menjadi negara dengan kasus positif Corona terbesar kedua di dunia, menyodok Brazil.

Total infeksi Covid-19 di Negeri Bollywood itu menembus 13,53 juta, mengalah­kan Brazil yang sebelumnya berada di peringkat kedua sebanyak 123,48 juta kasus. Sementara, peringkat per­tama masih dipegang Amerika Serikat (AS) dengan 31,92 juta kasus.

Bimo mengungkapkan, lon­jakan kasus di India itu ter­jadi karena negara itu terlalu pede alias percaya diri dengan vaksin. “Mereka lengah dan mengabaikan protokol kesehatan,” imbuhnya.

 

Bimo mengingatkan, vak­sinasi dan prokes merupakan satu paket yang harus dijalankan bersamaan. Kombinasi itu, diyakini bisa membuat Indonesia lebih cepat mengakhiri pandemi Covid-19.

Secara spesifik Bimo juga menjelaskan, antibodi yang dihasilkan oleh vaksin ada banyak jenisnya, atau antibodi polivalen. Sedangkan yang dites dalam medis hanya satu jenis antibodi. “Padahal ada beberapa jenis misalnya A, B, C, D, E dan tiap orang memi­liki respons yang berbeda-beda,” katanya.

Tapi dia mengingatkan, antibodi bukan satu-satunya perlindungan usai suntik vak­sin. Antibodi yang dihasilkan dari vaksin hanya lini per­tahanan pertama. Lalu akan muncul lini pertahanan kedua yang dinamakan Sel T.

“Sel Tini bekerja di bagian dalam. Jadi jika virus lolos dari antibodi, maka tidak lama virus akan mati dibunuh oleh Sel T,” terang Bimo.

Sel Tini terkandung dalam vaksin yang memiliki efikasi tinggi, yaitu vaksin merk Pfizer dan Moderna, yang mencapai 90 persen. Semakin tinggi efikasi maka sistem kekebalan yang dilahirkan dari vaksin juga semakin tinggi.

Tetapi, bukan berarti vaksin Sinovac yang digunakan da­lam vaksinasi tahap pertama di Tanah Air tidak canggih.

Vaksin itu, disebut Bimo, memiliki daya yang ampuh untuk membentuk pertahanan di depan.

“Sinovac ini terlihat cukup bagus untuk pembentukan antibodi. Jadi, lini pertahanan pertama ditingkatkan,” tutur Bimo. [JAR]

]]> Jangan coba-coba abaikan protokol kesehatan (prokes) usai divaksin Covid-19. Soalnya, prokes dan vaksin adalah satu paket yang tak terpisahkan untuk mencegah Covid-19. Mereka yang sudah divaksin, tidak otomatis kebal terhadap virus tersebut.

Hal itu disampaikan Pakar Bioteknologi Prof Bimo Ario Tejo dalam Talk Show RM.id bertema Divaksin Tak Otomatis Kebal, secara virtual, kemarin.

Dekan Fakultas Applied Sciences Universities In Kuala Lumpur Malaysia ini mengingatkan bahayanya jika masyarakat berpikir bahwa vak­sin bisa membuat tubuh kebal 100 persen.

“Kalau kita terlalu yakin dengan vaksinasi dan melupa­kan protokol kesehatan, maka kita akan mengalami apa yang dialami oleh Eropa dan India saat ini,” ujar Bimo.

Eropa dan India, saat ini mengalami lonjakan penu­laran Covid-19. Bahkan, India menjadi negara dengan kasus positif Corona terbesar kedua di dunia, menyodok Brazil.

Total infeksi Covid-19 di Negeri Bollywood itu menembus 13,53 juta, mengalah­kan Brazil yang sebelumnya berada di peringkat kedua sebanyak 123,48 juta kasus. Sementara, peringkat per­tama masih dipegang Amerika Serikat (AS) dengan 31,92 juta kasus.

Bimo mengungkapkan, lon­jakan kasus di India itu ter­jadi karena negara itu terlalu pede alias percaya diri dengan vaksin. “Mereka lengah dan mengabaikan protokol kesehatan,” imbuhnya.

 

Bimo mengingatkan, vak­sinasi dan prokes merupakan satu paket yang harus dijalankan bersamaan. Kombinasi itu, diyakini bisa membuat Indonesia lebih cepat mengakhiri pandemi Covid-19.

Secara spesifik Bimo juga menjelaskan, antibodi yang dihasilkan oleh vaksin ada banyak jenisnya, atau antibodi polivalen. Sedangkan yang dites dalam medis hanya satu jenis antibodi. “Padahal ada beberapa jenis misalnya A, B, C, D, E dan tiap orang memi­liki respons yang berbeda-beda,” katanya.

Tapi dia mengingatkan, antibodi bukan satu-satunya perlindungan usai suntik vak­sin. Antibodi yang dihasilkan dari vaksin hanya lini per­tahanan pertama. Lalu akan muncul lini pertahanan kedua yang dinamakan Sel T.

“Sel Tini bekerja di bagian dalam. Jadi jika virus lolos dari antibodi, maka tidak lama virus akan mati dibunuh oleh Sel T,” terang Bimo.

Sel Tini terkandung dalam vaksin yang memiliki efikasi tinggi, yaitu vaksin merk Pfizer dan Moderna, yang mencapai 90 persen. Semakin tinggi efikasi maka sistem kekebalan yang dilahirkan dari vaksin juga semakin tinggi.

Tetapi, bukan berarti vaksin Sinovac yang digunakan da­lam vaksinasi tahap pertama di Tanah Air tidak canggih.

Vaksin itu, disebut Bimo, memiliki daya yang ampuh untuk membentuk pertahanan di depan.

“Sinovac ini terlihat cukup bagus untuk pembentukan antibodi. Jadi, lini pertahanan pertama ditingkatkan,” tutur Bimo. [JAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories