85 Sekolah Uji Coba Tatap Muka, Siswa Girang Awas Ya, Usai Belajar Dilarang Nongkrong..! .

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengklaim uji coba pembukaan sekolah terbatas dengan sistem pembelajaran campuran (Blended Learning) pada 85 sekolah di wilayah Jakarta, berjalan lancar.

Dalam uji coba itu, Pemprov DKI melakukan pemantauan pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) dan sistem pembelajaran sesuai yang ditetapkan selama masa pandemi Covid-19. 85 sekolah yang melakukan uji coba belajar tatap muka itu akan dijadikan percontohan penerapan prokes untuk sekolah lainnya.

Pembukaan sekolah tatap muka ini merupakan salah satu kebijakan dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 405 tahun 2021 tentang Perpanjangan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro.

Rabu (7/4), Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria meninjau langsung kegiatan belajar tatap muka di SMK Negeri 2 Jakarta, Jakarta Pusat. Dinilainya, semua proses pembelajaran berjalan baik dan lancar. Hal itu terlihat dari antu­siasme para peserta didik mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Walaupun tingkat kehadiran siswa baru sekitar 20-30 persen.

“Alhamdulillah berjalan dengan baik semua. Fasilitas pendukung semua disiapkan. Tempat cuci tangan, ruang ganti, sabun, penyemprotan disinfektan sebelum dan setelah tatap muka. Kemudian para guru mengikuti vaksinasi. Ternyata kegiatan ini cukup baik. Para siswa sangat antusiasi (girang-red). Sekalipun menurut data baru 20 sampai 30 persen siswa yang diizinkan oleh orang tua,” kata Riza.

Dalam penerapan pembelajaran campuran, lanjut Riza, para orang tua tetap memiliki hak penuh untuk menentukan apakah anaknya diberikan izin untuk mengikuti pembelajaran campuran atau belajar dari rumah.

“Jumlah siswa tidak boleh lebih dari 50 persen di setiap kelas. Semuanya sesuai dengan prokes Covid-19. Dalam satu dua bulan kami akan putuskan. Apakah bisa diteruskan atau tidak. Atau ada terobosan baru, nanti Ibu Kadis (Kepala Dinias) Pendidikan yang akan evaluasi secara menyeluruh, dan Pak Gubernur yang memutuskan,” terang Riza.

Politisi Gerindra ini mengungkapkan, lebih banyak orang tua mengizinkan anak SD mengikuti sekolah tatap muka ketimbang tingkat SMA. Alasannya, orang tua masih mengantar jemput anaknya yang duduk di jenjang SD, sehingga bisa mengawal perjalanan ke sekolah. Sedangkan, siswa SMA cenderung berangkat sekolah sendiri sehingga orang tua khawatir anaknya nongkrong di tempat umum saat pulang.

Wagub mengimbau, sekolah dan orang tua mengimbau peserta didik yang ikut pembelajaran di sekolah agar tidak nongkrong setelah pulang.

 

“Setiap orang tua diharapkan bisa memberikan pengawasan lebih agar anak-anak mereka sepulang sekolah benar-benar pulang ke rumah dan tidak nongkrong bersama teman-temannya,” imbaunya.

Untuk tenaga pendidik, lanjut Riza, harus ikut memonitoring para peserta didiknya.

Pelaksana Tugas Wali Kota Jakarta Selatan, Isnawa Adji mengapresiasi pihak sekolah yang ketat menerapkan prokes dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka hari pertama, Rabu (7/4).

“Saya apresiasi sekolah. Dalam menerapkan protokol kesehatan sudah sesuai yang ditetapkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta,” ujar Isnawa usai memantau pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KMB) tatap muka hari pertama di SMKN 15 di Jalan Mataram I dan SMKN 6 di Jalan Prof Joko Sutono, Kebayoran Baru.

Di Jakarta Selatan, sebanyak 25 sekolah tingkat SD, SMP dan SMK/SMA mengikuti uji coba tatap muka itu. Satu kelas hanya diisi 10-15 orang pelajar atau sekitar 50 persen dari kapasitas kelas dengan tempat duduk yang diatur berjarak. Para siswa juga tetap menggunakan masker dan membawa sanitasi tangan.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Abdul Rachem menjelaskan, durasi pembelajaran tatap muka berlangsung selama empat sampai lima jam, mulai pukul 07.00 sampai 11.00 tanpa ada waktu istirahat. Hal ini bertujuan untuk menghindari siswa berkumpul di luar kelas.

“Tanpa istirahat, tetapi boleh ada sesi luang di sela pembelajaran. Sehingga siswa bisa istirahat tanpa harus meninggalkan ruangan kelas,” sebutnya.

Kepala Sekolah SMKN 15, Prihatin Gendra Priyadi mengungkapkan, dari total 468 siswa yang ikut pembelajaran tatap muka, sebanyak 112 siswa dari mulai kelas X hingga XII.

 

“Salah satu ketentuan wajib pembelajaran tatap muka adalah harus ada persetujuan dari orang tua,” ungkapnya.

Kepala Sekolah SMKN 6, Aziza mengatakan, sejak Desember 2020, pihaknya telah menyebarkan angket izin untuk orang tua, dan melakukan sosialisasi melalui zoom meeting.

“Total yang mengikuti pembelajaran tatap muka ada 96 siswa dari total 880 siswa,” tandasnya.

Untuk mencegah penularan Covid-19, Unit Pengelola Angkutan Sekolah (Upas) Dinas Perhubungan DKI mengerahkan 50 bus sekolah dengan 100 awaknya, untuk layanan antar jemput siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar tatap muka terbatas.

Kepala Unit Pengelola Ang­kutan Sekolah (Upas) Dinas Perhubungan DKI, Ali Murthadho mengatakan, seluruh bus sekolah ini disiagakan di rute dan zona yang sudah ada guna mengantisipasi adanya siswa yang pulang pergi menggunakan angkutan umum.

“Kita siapkan hingga 29 April, menyesuaikan dengan jadwal sekolah. Jumlah siswa yang terlayani belum terhitung karena kegiatan masih berlangsung,” kata Ali.

Sebelum dioperasikan untuk layanan antar jemput siswa, 50 armada bus sekolah ini sudah disemprot disinfektan. Dan, sudah dilakukan penguapan agar steril, aman dan nyaman untuk digunakan para pelajar.

“Layanan antar jemput siswa ini dilakukan di 85 sekolah yang ada di lima wilayah kota,” tuturnya. [OSP]

]]> .
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengklaim uji coba pembukaan sekolah terbatas dengan sistem pembelajaran campuran (Blended Learning) pada 85 sekolah di wilayah Jakarta, berjalan lancar.

Dalam uji coba itu, Pemprov DKI melakukan pemantauan pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) dan sistem pembelajaran sesuai yang ditetapkan selama masa pandemi Covid-19. 85 sekolah yang melakukan uji coba belajar tatap muka itu akan dijadikan percontohan penerapan prokes untuk sekolah lainnya.

Pembukaan sekolah tatap muka ini merupakan salah satu kebijakan dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 405 tahun 2021 tentang Perpanjangan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro.

Rabu (7/4), Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria meninjau langsung kegiatan belajar tatap muka di SMK Negeri 2 Jakarta, Jakarta Pusat. Dinilainya, semua proses pembelajaran berjalan baik dan lancar. Hal itu terlihat dari antu­siasme para peserta didik mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Walaupun tingkat kehadiran siswa baru sekitar 20-30 persen.

“Alhamdulillah berjalan dengan baik semua. Fasilitas pendukung semua disiapkan. Tempat cuci tangan, ruang ganti, sabun, penyemprotan disinfektan sebelum dan setelah tatap muka. Kemudian para guru mengikuti vaksinasi. Ternyata kegiatan ini cukup baik. Para siswa sangat antusiasi (girang-red). Sekalipun menurut data baru 20 sampai 30 persen siswa yang diizinkan oleh orang tua,” kata Riza.

Dalam penerapan pembelajaran campuran, lanjut Riza, para orang tua tetap memiliki hak penuh untuk menentukan apakah anaknya diberikan izin untuk mengikuti pembelajaran campuran atau belajar dari rumah.

“Jumlah siswa tidak boleh lebih dari 50 persen di setiap kelas. Semuanya sesuai dengan prokes Covid-19. Dalam satu dua bulan kami akan putuskan. Apakah bisa diteruskan atau tidak. Atau ada terobosan baru, nanti Ibu Kadis (Kepala Dinias) Pendidikan yang akan evaluasi secara menyeluruh, dan Pak Gubernur yang memutuskan,” terang Riza.

Politisi Gerindra ini mengungkapkan, lebih banyak orang tua mengizinkan anak SD mengikuti sekolah tatap muka ketimbang tingkat SMA. Alasannya, orang tua masih mengantar jemput anaknya yang duduk di jenjang SD, sehingga bisa mengawal perjalanan ke sekolah. Sedangkan, siswa SMA cenderung berangkat sekolah sendiri sehingga orang tua khawatir anaknya nongkrong di tempat umum saat pulang.

Wagub mengimbau, sekolah dan orang tua mengimbau peserta didik yang ikut pembelajaran di sekolah agar tidak nongkrong setelah pulang.

 

“Setiap orang tua diharapkan bisa memberikan pengawasan lebih agar anak-anak mereka sepulang sekolah benar-benar pulang ke rumah dan tidak nongkrong bersama teman-temannya,” imbaunya.

Untuk tenaga pendidik, lanjut Riza, harus ikut memonitoring para peserta didiknya.

Pelaksana Tugas Wali Kota Jakarta Selatan, Isnawa Adji mengapresiasi pihak sekolah yang ketat menerapkan prokes dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka hari pertama, Rabu (7/4).

“Saya apresiasi sekolah. Dalam menerapkan protokol kesehatan sudah sesuai yang ditetapkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta,” ujar Isnawa usai memantau pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KMB) tatap muka hari pertama di SMKN 15 di Jalan Mataram I dan SMKN 6 di Jalan Prof Joko Sutono, Kebayoran Baru.

Di Jakarta Selatan, sebanyak 25 sekolah tingkat SD, SMP dan SMK/SMA mengikuti uji coba tatap muka itu. Satu kelas hanya diisi 10-15 orang pelajar atau sekitar 50 persen dari kapasitas kelas dengan tempat duduk yang diatur berjarak. Para siswa juga tetap menggunakan masker dan membawa sanitasi tangan.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Abdul Rachem menjelaskan, durasi pembelajaran tatap muka berlangsung selama empat sampai lima jam, mulai pukul 07.00 sampai 11.00 tanpa ada waktu istirahat. Hal ini bertujuan untuk menghindari siswa berkumpul di luar kelas.

“Tanpa istirahat, tetapi boleh ada sesi luang di sela pembelajaran. Sehingga siswa bisa istirahat tanpa harus meninggalkan ruangan kelas,” sebutnya.

Kepala Sekolah SMKN 15, Prihatin Gendra Priyadi mengungkapkan, dari total 468 siswa yang ikut pembelajaran tatap muka, sebanyak 112 siswa dari mulai kelas X hingga XII.

 

“Salah satu ketentuan wajib pembelajaran tatap muka adalah harus ada persetujuan dari orang tua,” ungkapnya.

Kepala Sekolah SMKN 6, Aziza mengatakan, sejak Desember 2020, pihaknya telah menyebarkan angket izin untuk orang tua, dan melakukan sosialisasi melalui zoom meeting.

“Total yang mengikuti pembelajaran tatap muka ada 96 siswa dari total 880 siswa,” tandasnya.

Untuk mencegah penularan Covid-19, Unit Pengelola Angkutan Sekolah (Upas) Dinas Perhubungan DKI mengerahkan 50 bus sekolah dengan 100 awaknya, untuk layanan antar jemput siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar tatap muka terbatas.

Kepala Unit Pengelola Ang­kutan Sekolah (Upas) Dinas Perhubungan DKI, Ali Murthadho mengatakan, seluruh bus sekolah ini disiagakan di rute dan zona yang sudah ada guna mengantisipasi adanya siswa yang pulang pergi menggunakan angkutan umum.

“Kita siapkan hingga 29 April, menyesuaikan dengan jadwal sekolah. Jumlah siswa yang terlayani belum terhitung karena kegiatan masih berlangsung,” kata Ali.

Sebelum dioperasikan untuk layanan antar jemput siswa, 50 armada bus sekolah ini sudah disemprot disinfektan. Dan, sudah dilakukan penguapan agar steril, aman dan nyaman untuk digunakan para pelajar.

“Layanan antar jemput siswa ini dilakukan di 85 sekolah yang ada di lima wilayah kota,” tuturnya. [OSP]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories