18,9 Juta Orang Bakal Nekat Mudik Jokowi Masih Khawatir .

Meski pemerintah melarang mudik Lebaran, masih banyak masyarakat bandel pulang kampung. Kepala daerah diminta lebih gencar mensosialisasikan larangan mudik. Kalau nggak, berabe deh…

Presiden Jokowi menyatakan, masih ada 18,9 juta orang yang diperkirakan nekat mudik meski pemerintah menerapkan larangan mudik pada Idul Fitri tahun ini. Jumlah itu diketahui dari survei yang digelar pemerintah.

Karena itu, Jokowi meminta seluruh elemen pemerintahan menggencarkan sosialisasi larangan mudik.

“Angkanya masih besar, 18,9 juta orang yang masih akan mudik. Sebab itu, harus disampaikan terus larangan mudik ini agar bisa berkurang lagi,” imbau Jokowi, saat memberikan pengarahan kepada Kepala Daerah se-Indonesia Tahun 2021, di Jakarta, kemarin.

Jokowi membeberkan, hasil survei itu sebenarnya sudah turun dari sebelum pengumuman larangan mudik. Awalnya, ada 89 juta orang atau sekitar 33 persen penduduk yang berencana mudik pada Idul Fitri ini. Namun, tetap saja, jumlah 18,9 juta orang bukan jumlah kecil.

Saat larangan mudik diumumkan, jumlah orang yang akan mudik turun menjadi 29 juta orang atau sekitar 11 persen. Jumlah itu kembali turun menjadi 18,9 juta orang atau 7 persen usai pemerintah daerah memulai sosialisasi.

Berkaca pada data tersebut, Jokowi meyakini, langkah sosialisasi akan bisa terus menekan jumlah orang yang ngotot mudik.

“Saya betul-betul masih khawatir mengenai mudik di Idul Fitri, tetapi saya meyakini bila pemerintah daerah dibantu Forkopimda semuanya segera mengatur, mengendalikan, mulai disiplin prokes, saya yakin kenaikan jumlah kasus Covid-19 tidak seperti tahun lalu,” tutur eks Wali Kota Solo ini.

Menurutnya, lonjakan kasus Covid-19 kerap terjadi usai libur panjang. Lebaran tahun lalu, lonjakannya bahkan mencapai 93 persen. Dia tak ingin hal serupa terjadi pada tahun ini. “Kenaikannya sangat melompat,” imbuh Jokowi.

Dia juga mengingatkan, libur panjang pada Oktober 2020 berimbas pada kenaikan jumlah kasus hingga 95 persen. Kemudian lonjakan kasus Covid-19 juga terjadi pada libur panjang akhir tahun sebanyak 75 persen.

“Sebab itu, hati-hati. Libur pasca dua minggu lalu kurang lebih (naik) hampir 2 persen, hati-hati,” wanti-wanti Jokowi.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito juga mengingatkan, penularan virus tak mengenal batas teritorial negara.

 

Mutasi virus Corona yang telah ditemukan di Indonesia bertepatan dengan momen Ramadan dan Idul Fitri, menurutnya, semakin memperbesar ancaman penyebaran.

“Masyarakat diminta bersabar sejenak untuk tidak mudik dan bersilaturahmi bersama sanak saudara selama Lebaran,” imbaunya.

Saat ini, diungkapkan Wiku, Indonesia terhitung dapat mengendalikan perkembangan pandemi dibandingkan negara-negara lain yang tengah mengalami kenaikan kasus.

World Health Organization (WHO) mencatat 5 negara dengan kasus aktif tertinggi adalah Amerika Serikat (6.812.645 kasus), India (2.822.513 kasus), Brazil (1.099.201 kasus), Prancis (995.421 kasus) dan Turki (506.899 kasus).

Wiku pun mengingatkan, jangan sampai, usaha yang sudah dilakukan pemerintah dan masyarakat Indonesia jadi sia-sia hanya karena tak bisa menahan mudik.

Terpisah, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Cissy Rachiana Prawira-Kartasasmita mengatakan, bahaya Covid-19 masih mengancam. Karena itu, masyarakat diimbau tidak ke mana-mana selama Lebaran. Apalagi, mudik.

“Tinggallah di rumah. Jangan mudik dulu Lebaran ini,” imbau Cissy.

Cissy yang juga Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan, silaturahmi dan saling mendoakan orangtua serta sanak saudara masih bisa dilakukan meski dari jauh.

Dia meminta masyarakat tetap patuh protokol kesehatan yang terdiri dari memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, serta mengurangi mobilitas.

Protokol kesehatan tetap wajib dilakukan seseorang meski dia sudah menerima vaksinasi lengkap.

“Walaupun Anda sudah vaksinasi lengkap masih bisa tertular dan menulari. Tetap patuhi protokol kesehatan,” tandasnya. [DIR]

]]> .
Meski pemerintah melarang mudik Lebaran, masih banyak masyarakat bandel pulang kampung. Kepala daerah diminta lebih gencar mensosialisasikan larangan mudik. Kalau nggak, berabe deh…

Presiden Jokowi menyatakan, masih ada 18,9 juta orang yang diperkirakan nekat mudik meski pemerintah menerapkan larangan mudik pada Idul Fitri tahun ini. Jumlah itu diketahui dari survei yang digelar pemerintah.

Karena itu, Jokowi meminta seluruh elemen pemerintahan menggencarkan sosialisasi larangan mudik.

“Angkanya masih besar, 18,9 juta orang yang masih akan mudik. Sebab itu, harus disampaikan terus larangan mudik ini agar bisa berkurang lagi,” imbau Jokowi, saat memberikan pengarahan kepada Kepala Daerah se-Indonesia Tahun 2021, di Jakarta, kemarin.

Jokowi membeberkan, hasil survei itu sebenarnya sudah turun dari sebelum pengumuman larangan mudik. Awalnya, ada 89 juta orang atau sekitar 33 persen penduduk yang berencana mudik pada Idul Fitri ini. Namun, tetap saja, jumlah 18,9 juta orang bukan jumlah kecil.

Saat larangan mudik diumumkan, jumlah orang yang akan mudik turun menjadi 29 juta orang atau sekitar 11 persen. Jumlah itu kembali turun menjadi 18,9 juta orang atau 7 persen usai pemerintah daerah memulai sosialisasi.

Berkaca pada data tersebut, Jokowi meyakini, langkah sosialisasi akan bisa terus menekan jumlah orang yang ngotot mudik.

“Saya betul-betul masih khawatir mengenai mudik di Idul Fitri, tetapi saya meyakini bila pemerintah daerah dibantu Forkopimda semuanya segera mengatur, mengendalikan, mulai disiplin prokes, saya yakin kenaikan jumlah kasus Covid-19 tidak seperti tahun lalu,” tutur eks Wali Kota Solo ini.

Menurutnya, lonjakan kasus Covid-19 kerap terjadi usai libur panjang. Lebaran tahun lalu, lonjakannya bahkan mencapai 93 persen. Dia tak ingin hal serupa terjadi pada tahun ini. “Kenaikannya sangat melompat,” imbuh Jokowi.

Dia juga mengingatkan, libur panjang pada Oktober 2020 berimbas pada kenaikan jumlah kasus hingga 95 persen. Kemudian lonjakan kasus Covid-19 juga terjadi pada libur panjang akhir tahun sebanyak 75 persen.

“Sebab itu, hati-hati. Libur pasca dua minggu lalu kurang lebih (naik) hampir 2 persen, hati-hati,” wanti-wanti Jokowi.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito juga mengingatkan, penularan virus tak mengenal batas teritorial negara.

 

Mutasi virus Corona yang telah ditemukan di Indonesia bertepatan dengan momen Ramadan dan Idul Fitri, menurutnya, semakin memperbesar ancaman penyebaran.

“Masyarakat diminta bersabar sejenak untuk tidak mudik dan bersilaturahmi bersama sanak saudara selama Lebaran,” imbaunya.

Saat ini, diungkapkan Wiku, Indonesia terhitung dapat mengendalikan perkembangan pandemi dibandingkan negara-negara lain yang tengah mengalami kenaikan kasus.

World Health Organization (WHO) mencatat 5 negara dengan kasus aktif tertinggi adalah Amerika Serikat (6.812.645 kasus), India (2.822.513 kasus), Brazil (1.099.201 kasus), Prancis (995.421 kasus) dan Turki (506.899 kasus).

Wiku pun mengingatkan, jangan sampai, usaha yang sudah dilakukan pemerintah dan masyarakat Indonesia jadi sia-sia hanya karena tak bisa menahan mudik.

Terpisah, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Cissy Rachiana Prawira-Kartasasmita mengatakan, bahaya Covid-19 masih mengancam. Karena itu, masyarakat diimbau tidak ke mana-mana selama Lebaran. Apalagi, mudik.

“Tinggallah di rumah. Jangan mudik dulu Lebaran ini,” imbau Cissy.

Cissy yang juga Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan, silaturahmi dan saling mendoakan orangtua serta sanak saudara masih bisa dilakukan meski dari jauh.

Dia meminta masyarakat tetap patuh protokol kesehatan yang terdiri dari memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, serta mengurangi mobilitas.

Protokol kesehatan tetap wajib dilakukan seseorang meski dia sudah menerima vaksinasi lengkap.

“Walaupun Anda sudah vaksinasi lengkap masih bisa tertular dan menulari. Tetap patuhi protokol kesehatan,” tandasnya. [DIR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories