153 Orang Tewas, Mayat Berjejer Di Jalanan Tragedi Itaewon Lebih Mencekam Dari Kanjuruhan

Pesta Halloween di Distrik Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10) malam, berakhir mengerikan. Ribuan orang saling dorong, berdesakan, terinjak-injak dan kehabisan napas. Akibatnya, 153 orang tewas. Dua WNI ikut jadi korban luka, tapi alhamdulillah selamat. Tragedi Itaewon di akhir Oktober ini lebih mencekam dibanding tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 136 orang, di awal bulan ini.

Tragedi Itaewon bermula saat Distrik Itaewon menggelar pesta Halloween. Itaewon adalah salah satu distrik di Ibu Kota Seoul yang memang jadi tempat favorit nongkrong kawula muda. Meski berupa gang-gang sempit, distrik ini dikenal sebagai surga kulineran dan hiburan. Di sepanjang distrik ini, berjejer resto, bar, toko, dan klub dengan berbagai ornamen khas Halloween. Berkat Drama Korea alias Drakor, pamor Itaewon berkibar hingga ke mancanegara. Itaewon pun, menjadi tujuan destinasi wisatawan mancanegara.

Makanya, tidak heran gelaran pesta Halloween di Itaewon mendapat sambutan besar dari warga, terutama anak muda. Apalagi ini adalah pesta perdana setelah dua tahun terhenti karena pandemi Covid-19. Sejak Mei lalu, Pemerintah Korea memang mulai melonggarkan pembatasan sosial. Korea membolehkan melepas masker dan berkumpul lebih dari 10 orang.

Untuk menjaga keamanan pesta kostum setan ini, sekitar 200-an polisi diterjunkan. Mereka berjaga-jaga menghalang pengunjung yang membuat film ilegal, melakukan pelecehan, atau jadi copet.

Tak lama setelah hari gelap, anak-anak muda berusia 20-an, sambil mengenakan topeng, mulai hilir mudik di distrik ini. Kebanyakan berkumpul di gang yang letaknya tak jauh dari Hotel Hamilton, landmark distrik ini.

Canda tawa terdengar di sepanjang gang yang lebarnya tak lebih dari 4 meter ini. Semakin malam, pengunjung makin ramai. Horor datang menjelang pukul 22.20. Pengunjung yang datang makin membludak. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, ribuan orang terjebak di gang sempit. Canda tawa yang tadi terdengar, mulai berubah menjadi teriakan.

Semakin malam, kerumunan makin membesar dan sulit diatur. Ribuan orang yang awalnya bisa berjalan pelan, akhirnya terjebak, tak bisa lagi bergerak. Pengunjung yang panik mulai saling dorong. Media setempat melaporkan, pengunjung terperangkap di antara kerumunan yang keluar dari hotel dan kerumunan yang keluar dari pintu keluar 1 dan 2 stasiun kereta bawah tanah.

Jalanan di gang yang sedikit menanjak memperparah keadaan. Saat orang-orang di atas jalan miring itu jatuh dan terguling, orang-orang di bawah mereka ikut jatuh dan mengenai orang lain. Dalam sebuah rekaman video, petugas darurat dan polisi sampai kesulitan menarik pengunjung keluar dari dalam gang akibat tertindih.

Lewat tengah malam, petugas darurat mulai berdatangan dan melakukan evakuasi. Namun, mereka sudah terlambat. Situasi sudah sangat kacau. Puluhan korban terbaring di jalanan. Petugas berusaha melakukan pertolongan dengan teknik CPR atau melakukan tekanan pada dada.

Tak jauh dari lokasi, puluhan mayat yang ditutupi plastik warna biru dan kuning, berjejer di jalanan dan trotoar. Awalnya, otoritas setempat melaporkan, sebanyak 143 orang tewas. Kemarin siang, jumlah korban bertambah menjadi 153 orang tewas. Kebanyakan anak muda berusia 20-an. Korban dilaporkan meninggal karena mengalami henti jantung.

Yang menjadi korban bukan hanya warga Korsel. Sejumlah warga asing seperti China, Iran, Uzbekistan, dan Norwegia, turut jadi korban tewas dalam tragedi ini. Dua WNI dilaporkan ikut terjebak dan mengalami luka, tapi untung selamat.

Salah satu warga Australia yang selamat dalam tragedi itu, menceritakan momen saat-saat terjebak di gang “neraka” itu. Kata dia, salah satu temannya tewas dalam tragedi itu. “Padahal minggu depan adalah hari ulang tahunnya,” kata warga Australia yang namanya dirahasiakan itu, kepada Yonhap, Kantor Berita Korsel, kemarin.

Ia bercerita, bisa selamat setelah merangkak keluar dari tumpukan orang. Tak hanya itu, yang bikin dia sedih, saat itu orang-orang mendadak jadi brutal. “Saya benar-benar tidak percaya,” ujarnya.

Atas kejadian ini, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol langsung mendatangi lokasi pada pagi buta. Usai mengunjungi TKP, Suk-yeol mengumumkan masa berkabung nasional, yang berlaku mulai kemarin. Masa berkabung berlangsung hingga akhir penanganan tragedi Itaewon.

Suk-yeol juga memerintahkan penurunan bendera setengah tiang. Ia menyatakan belasungkawa kepada para korban dan berharap korban luka-luka segera pulih. “Ini benar-benar tragis. Tragedi dan bencana ini terjadi di jantung kota Seoul, tadi malam,” ujarnya.

Suk-yeol mengatakan, tragedi pada Sabtu malam ini benar-benar mengerikan. Kata dia, bencana itu seharusnya tidak pernah terjadi. “Sebagai presiden yang bertanggung jawab atas kehidupan dan keselamatan rakyat, hati saya berat dan saya berjuang untuk mengatasi kesedihan saya,” kata Suk-yeol, di Kantor Kepresidenan Korsel.

Pejabat kedaruratan mengatakan, jumlah korban tewas kemungkinan dapat meningkat. Kepala Stasiun Pemadam Kebakaran Yongsan, Choi Sung-beom, mengkonfirmasi, 153 korban meninggal, termasuk 19 orang asing. Dia mengatakan, sebanyak 82 orang terluka, dan 19 di antaranya mengalami luka parah.

Di Tanah Air, Presiden Jokowi menyampaikan belasungkawa atas tragedi Halloween di Itaewon. Ucapan belasungkawa disampaikan dalam Bahasa Inggris melalui di akun Twitter-nya, kemarin.

Jokowi menyatakan, Indonesia bersama rakyat Korea Selatan sangat berduka. Ia pun berharap korban yang terluka bisa segera pulih. “Deeply saddened to learn about the tragic stampede in Seoul. My deepest condolences to those who lost their loved ones. Indonesia mourns with the people of South Korea and wishes those injured a speedy recovery (Saya sangat sedih mendengar kabar insiden tragis di Seoul. Belasungkawa terdalam saya, kepada mereka yang kehilangan orang yang dicintai. Indonesia berduka bersama rakyat Korea Selatan. Saya berharap, mereka yang terluka bisa cepat pulih),” tulis Jokowi.

Tragedi ini terjadi kurang dari sebulan dari tragedi Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan 136 orang. Saat itu, ribuan Aremania panik dan berebut keluar stadion usai polisi menembakkan gas air mata dalam kerusuhan yang terjadi setelah pertandingan Liga 1 antara Arema Malang dan Persebaya Surabaya. Ternyata, jumlah korban tragedi Itaewon lebih besar dibanding tragedi Kanjuruhan.■

]]> Pesta Halloween di Distrik Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu (29/10) malam, berakhir mengerikan. Ribuan orang saling dorong, berdesakan, terinjak-injak dan kehabisan napas. Akibatnya, 153 orang tewas. Dua WNI ikut jadi korban luka, tapi alhamdulillah selamat. Tragedi Itaewon di akhir Oktober ini lebih mencekam dibanding tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 136 orang, di awal bulan ini.

Tragedi Itaewon bermula saat Distrik Itaewon menggelar pesta Halloween. Itaewon adalah salah satu distrik di Ibu Kota Seoul yang memang jadi tempat favorit nongkrong kawula muda. Meski berupa gang-gang sempit, distrik ini dikenal sebagai surga kulineran dan hiburan. Di sepanjang distrik ini, berjejer resto, bar, toko, dan klub dengan berbagai ornamen khas Halloween. Berkat Drama Korea alias Drakor, pamor Itaewon berkibar hingga ke mancanegara. Itaewon pun, menjadi tujuan destinasi wisatawan mancanegara.

Makanya, tidak heran gelaran pesta Halloween di Itaewon mendapat sambutan besar dari warga, terutama anak muda. Apalagi ini adalah pesta perdana setelah dua tahun terhenti karena pandemi Covid-19. Sejak Mei lalu, Pemerintah Korea memang mulai melonggarkan pembatasan sosial. Korea membolehkan melepas masker dan berkumpul lebih dari 10 orang.

Untuk menjaga keamanan pesta kostum setan ini, sekitar 200-an polisi diterjunkan. Mereka berjaga-jaga menghalang pengunjung yang membuat film ilegal, melakukan pelecehan, atau jadi copet.

Tak lama setelah hari gelap, anak-anak muda berusia 20-an, sambil mengenakan topeng, mulai hilir mudik di distrik ini. Kebanyakan berkumpul di gang yang letaknya tak jauh dari Hotel Hamilton, landmark distrik ini.

Canda tawa terdengar di sepanjang gang yang lebarnya tak lebih dari 4 meter ini. Semakin malam, pengunjung makin ramai. Horor datang menjelang pukul 22.20. Pengunjung yang datang makin membludak. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, ribuan orang terjebak di gang sempit. Canda tawa yang tadi terdengar, mulai berubah menjadi teriakan.

Semakin malam, kerumunan makin membesar dan sulit diatur. Ribuan orang yang awalnya bisa berjalan pelan, akhirnya terjebak, tak bisa lagi bergerak. Pengunjung yang panik mulai saling dorong. Media setempat melaporkan, pengunjung terperangkap di antara kerumunan yang keluar dari hotel dan kerumunan yang keluar dari pintu keluar 1 dan 2 stasiun kereta bawah tanah.

Jalanan di gang yang sedikit menanjak memperparah keadaan. Saat orang-orang di atas jalan miring itu jatuh dan terguling, orang-orang di bawah mereka ikut jatuh dan mengenai orang lain. Dalam sebuah rekaman video, petugas darurat dan polisi sampai kesulitan menarik pengunjung keluar dari dalam gang akibat tertindih.

Lewat tengah malam, petugas darurat mulai berdatangan dan melakukan evakuasi. Namun, mereka sudah terlambat. Situasi sudah sangat kacau. Puluhan korban terbaring di jalanan. Petugas berusaha melakukan pertolongan dengan teknik CPR atau melakukan tekanan pada dada.

Tak jauh dari lokasi, puluhan mayat yang ditutupi plastik warna biru dan kuning, berjejer di jalanan dan trotoar. Awalnya, otoritas setempat melaporkan, sebanyak 143 orang tewas. Kemarin siang, jumlah korban bertambah menjadi 153 orang tewas. Kebanyakan anak muda berusia 20-an. Korban dilaporkan meninggal karena mengalami henti jantung.

Yang menjadi korban bukan hanya warga Korsel. Sejumlah warga asing seperti China, Iran, Uzbekistan, dan Norwegia, turut jadi korban tewas dalam tragedi ini. Dua WNI dilaporkan ikut terjebak dan mengalami luka, tapi untung selamat.

Salah satu warga Australia yang selamat dalam tragedi itu, menceritakan momen saat-saat terjebak di gang “neraka” itu. Kata dia, salah satu temannya tewas dalam tragedi itu. “Padahal minggu depan adalah hari ulang tahunnya,” kata warga Australia yang namanya dirahasiakan itu, kepada Yonhap, Kantor Berita Korsel, kemarin.

Ia bercerita, bisa selamat setelah merangkak keluar dari tumpukan orang. Tak hanya itu, yang bikin dia sedih, saat itu orang-orang mendadak jadi brutal. “Saya benar-benar tidak percaya,” ujarnya.

Atas kejadian ini, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol langsung mendatangi lokasi pada pagi buta. Usai mengunjungi TKP, Suk-yeol mengumumkan masa berkabung nasional, yang berlaku mulai kemarin. Masa berkabung berlangsung hingga akhir penanganan tragedi Itaewon.

Suk-yeol juga memerintahkan penurunan bendera setengah tiang. Ia menyatakan belasungkawa kepada para korban dan berharap korban luka-luka segera pulih. “Ini benar-benar tragis. Tragedi dan bencana ini terjadi di jantung kota Seoul, tadi malam,” ujarnya.

Suk-yeol mengatakan, tragedi pada Sabtu malam ini benar-benar mengerikan. Kata dia, bencana itu seharusnya tidak pernah terjadi. “Sebagai presiden yang bertanggung jawab atas kehidupan dan keselamatan rakyat, hati saya berat dan saya berjuang untuk mengatasi kesedihan saya,” kata Suk-yeol, di Kantor Kepresidenan Korsel.

Pejabat kedaruratan mengatakan, jumlah korban tewas kemungkinan dapat meningkat. Kepala Stasiun Pemadam Kebakaran Yongsan, Choi Sung-beom, mengkonfirmasi, 153 korban meninggal, termasuk 19 orang asing. Dia mengatakan, sebanyak 82 orang terluka, dan 19 di antaranya mengalami luka parah.

Di Tanah Air, Presiden Jokowi menyampaikan belasungkawa atas tragedi Halloween di Itaewon. Ucapan belasungkawa disampaikan dalam Bahasa Inggris melalui di akun Twitter-nya, kemarin.

Jokowi menyatakan, Indonesia bersama rakyat Korea Selatan sangat berduka. Ia pun berharap korban yang terluka bisa segera pulih. “Deeply saddened to learn about the tragic stampede in Seoul. My deepest condolences to those who lost their loved ones. Indonesia mourns with the people of South Korea and wishes those injured a speedy recovery (Saya sangat sedih mendengar kabar insiden tragis di Seoul. Belasungkawa terdalam saya, kepada mereka yang kehilangan orang yang dicintai. Indonesia berduka bersama rakyat Korea Selatan. Saya berharap, mereka yang terluka bisa cepat pulih),” tulis Jokowi.

Tragedi ini terjadi kurang dari sebulan dari tragedi Kanjuruhan, Malang, yang menewaskan 136 orang. Saat itu, ribuan Aremania panik dan berebut keluar stadion usai polisi menembakkan gas air mata dalam kerusuhan yang terjadi setelah pertandingan Liga 1 antara Arema Malang dan Persebaya Surabaya. Ternyata, jumlah korban tragedi Itaewon lebih besar dibanding tragedi Kanjuruhan.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories