129 Orang India Masuk RI, 12 Orang Positif Covid-19 Weleh… Weleh… Kok Bablas Ya

India sedang dilanda tsunami Covid-19. Di tengah kondisi itu, banyak warga negeri Bollywood itu “minggat” ke Indonesia. Kita pun sempat kecolongan. Pada Rabu (21/3) saja, ada 129 orang dari India masuk ke sini. Sebanyak 12 orang di antaranya bahkan positif Corona. Weleh.. weleh.. kok bablas ya.

Masuknya warga India ke sini dibenarkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. BGS, sapaan akrab Budi, buru-buru memberikan keterangan mengenai 12 warga India yang positif Corona tersebut.

“Dari 12 penumpang itu, kita lakukan genome sequencing. Cuma hasilnya belum keluar untuk genome sequencing-nya,” kata BGS, dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, kemarin.

Genome sequencing merupakan cara untuk mengetahui atau melacak mutasi Covid-19. Hal ini dapat membantu melacak jika seseorang telah terinfeksi varian virus Corona baru.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Imigrasi Kemenkumham, Jhoni Ginting mengungkap kronologi masuknya 129 dari India ke sini. Mereka tiba pada Rabu (21/4) dengan pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ988 dari Chennai, India, menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Jhoni lalu merinci, sebanyak 38 orang WN India pemegang visa kunjungan WN India, 46 orang WN India pemegang Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS), 1 orang WN Amerika Serikat pemegang KITAS, 32 orang WN India pemegang Visa Tinggal Tetap (VITAS), dan 12 orang WNI. Menurutnya, seluruh penumpang itu bisa masuk ke Indonesia karena memiliki dokumen perjalanan berupa visa yang termasuk dikecualikan dan boleh masuk sesuai Permenkumham Nomor 26 Tahun 2020.

Dengan kejadian ini, Johni telah menginstruksikan jajarannya untuk menghentikan pelayanan permohonan visa bagi warga India dimulai sejak Kamis (22/4) pukul 12.00 siang. Sementara, bagi warga negara India yang sudah diberikan visa, Ditjen Imigrasi akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mengantisipasi jalur penerbangannya.

“Jadi mungkin masih ada yang dalam perjalanan. Ini akan tetap kami antisipasi. Bila nanti masuk ke Indonesia, kami tetap mengacu protokol kesehatan yang telah ditetapkan,” katanya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (BKS) mengungkap alasan pemerintah tak langsung menutup penerbangan dari dan ke India meskipun kasus Corona di negara tersebut tengah melonjak. Menurutnya, itu dilakukan karena lalu lintas logistik kedua negara masih dibutuhkan. Khususnya terkait dengan distribusi vaksin. “Kita butuh logistik dari dan ke India seperti roping oksigen dan vaksin, dan itu kita lakukan secara aman,” kata BKS, dalam acara yang sama.

 

Sekalipun begitu, Budi memastikan pemerintah Indonesia segera membatasi penerbangan dari dan ke India. Hal ini sejalan dengan ketentuan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah memutuskan menghentikan pemberian visa bagi orang asing yang pernah tinggal atau mengunjungi wilayah India. Hal itu karena melonjaknya kasus Corona di sana. Aturan itu ini akan dimuat dalam Surat Edaran Dirjen Imigrasi Kumham juga dengan lembaga lain terkait.

“Kebijakan mulai berlaku Minggu, 25 April 2021. Peraturan bersifat sementara dan akan terus dikaji ulang,” kata Airlangga.

Untuk WNI dari India tetap boleh masuk ke Indonesia, tapi peraturannya lebih ketat. “Bagi warga negara Indonesia yang akan kembali ke Indonesia dan pernah tinggal atau mengunjungi wilayah India dalam kurun 14 hari tetap diizinkan masuk dengan protokol kesehatan yang diperketat,” ujar Airlangga.

Setelah itu, WNI tersebut diwajibkan melakukan karantina di hotel khusus. “Kemudian lulus tes PCR hasil negatif maksimum 2×24 jam sebelum keberangkatan dan hari pertama kedatangan dan hari ke-13 pascakarantina akan kembali PCR test,” tambah Airlangga.

Terpisah, Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta Romi Yudianto mengungkap, sejak 11 sampai 12 April 2021, orang dari India yang masuk ke Indonesia sudah mencapai 454. Terdiri dari 244 pemegang visa kunjungan, 69 orang pemegang KITAS, 23 pemilik KITAP, 52 pemilik visa izin tinggal terbatas, dan 66 kru alat angkut.

Epidemiolog Windhu Purnomo menyayangkan bablasnya orang dari India masuk ke sini saat negara tersebut dilanda tsunami Corona. “Iya, kok bisa mereka masuk ke Indonesia. Ini tentu bahaya. Karena mereka berpeluang membawa virus Corona varian baru,” katanya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kalau ini dibiarkan, kata Windhu, Indonesia bisa seperti India. Dia mengapresiasi langkah cepat pemerintah untuk segera menutup dan memperketat kedatangan warga negara dari luar negeri yang akan masuk ke Indonesia.

“Meski sebenarnya terlambat, tapi sudahlah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” katanya. [QAR]

]]> India sedang dilanda tsunami Covid-19. Di tengah kondisi itu, banyak warga negeri Bollywood itu “minggat” ke Indonesia. Kita pun sempat kecolongan. Pada Rabu (21/3) saja, ada 129 orang dari India masuk ke sini. Sebanyak 12 orang di antaranya bahkan positif Corona. Weleh.. weleh.. kok bablas ya.

Masuknya warga India ke sini dibenarkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. BGS, sapaan akrab Budi, buru-buru memberikan keterangan mengenai 12 warga India yang positif Corona tersebut.

“Dari 12 penumpang itu, kita lakukan genome sequencing. Cuma hasilnya belum keluar untuk genome sequencing-nya,” kata BGS, dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, kemarin.

Genome sequencing merupakan cara untuk mengetahui atau melacak mutasi Covid-19. Hal ini dapat membantu melacak jika seseorang telah terinfeksi varian virus Corona baru.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Imigrasi Kemenkumham, Jhoni Ginting mengungkap kronologi masuknya 129 dari India ke sini. Mereka tiba pada Rabu (21/4) dengan pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ988 dari Chennai, India, menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Jhoni lalu merinci, sebanyak 38 orang WN India pemegang visa kunjungan WN India, 46 orang WN India pemegang Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS), 1 orang WN Amerika Serikat pemegang KITAS, 32 orang WN India pemegang Visa Tinggal Tetap (VITAS), dan 12 orang WNI. Menurutnya, seluruh penumpang itu bisa masuk ke Indonesia karena memiliki dokumen perjalanan berupa visa yang termasuk dikecualikan dan boleh masuk sesuai Permenkumham Nomor 26 Tahun 2020.

Dengan kejadian ini, Johni telah menginstruksikan jajarannya untuk menghentikan pelayanan permohonan visa bagi warga India dimulai sejak Kamis (22/4) pukul 12.00 siang. Sementara, bagi warga negara India yang sudah diberikan visa, Ditjen Imigrasi akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mengantisipasi jalur penerbangannya.

“Jadi mungkin masih ada yang dalam perjalanan. Ini akan tetap kami antisipasi. Bila nanti masuk ke Indonesia, kami tetap mengacu protokol kesehatan yang telah ditetapkan,” katanya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (BKS) mengungkap alasan pemerintah tak langsung menutup penerbangan dari dan ke India meskipun kasus Corona di negara tersebut tengah melonjak. Menurutnya, itu dilakukan karena lalu lintas logistik kedua negara masih dibutuhkan. Khususnya terkait dengan distribusi vaksin. “Kita butuh logistik dari dan ke India seperti roping oksigen dan vaksin, dan itu kita lakukan secara aman,” kata BKS, dalam acara yang sama.

 

Sekalipun begitu, Budi memastikan pemerintah Indonesia segera membatasi penerbangan dari dan ke India. Hal ini sejalan dengan ketentuan yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah memutuskan menghentikan pemberian visa bagi orang asing yang pernah tinggal atau mengunjungi wilayah India. Hal itu karena melonjaknya kasus Corona di sana. Aturan itu ini akan dimuat dalam Surat Edaran Dirjen Imigrasi Kumham juga dengan lembaga lain terkait.

“Kebijakan mulai berlaku Minggu, 25 April 2021. Peraturan bersifat sementara dan akan terus dikaji ulang,” kata Airlangga.

Untuk WNI dari India tetap boleh masuk ke Indonesia, tapi peraturannya lebih ketat. “Bagi warga negara Indonesia yang akan kembali ke Indonesia dan pernah tinggal atau mengunjungi wilayah India dalam kurun 14 hari tetap diizinkan masuk dengan protokol kesehatan yang diperketat,” ujar Airlangga.

Setelah itu, WNI tersebut diwajibkan melakukan karantina di hotel khusus. “Kemudian lulus tes PCR hasil negatif maksimum 2×24 jam sebelum keberangkatan dan hari pertama kedatangan dan hari ke-13 pascakarantina akan kembali PCR test,” tambah Airlangga.

Terpisah, Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta Romi Yudianto mengungkap, sejak 11 sampai 12 April 2021, orang dari India yang masuk ke Indonesia sudah mencapai 454. Terdiri dari 244 pemegang visa kunjungan, 69 orang pemegang KITAS, 23 pemilik KITAP, 52 pemilik visa izin tinggal terbatas, dan 66 kru alat angkut.

Epidemiolog Windhu Purnomo menyayangkan bablasnya orang dari India masuk ke sini saat negara tersebut dilanda tsunami Corona. “Iya, kok bisa mereka masuk ke Indonesia. Ini tentu bahaya. Karena mereka berpeluang membawa virus Corona varian baru,” katanya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kalau ini dibiarkan, kata Windhu, Indonesia bisa seperti India. Dia mengapresiasi langkah cepat pemerintah untuk segera menutup dan memperketat kedatangan warga negara dari luar negeri yang akan masuk ke Indonesia.

“Meski sebenarnya terlambat, tapi sudahlah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” katanya. [QAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories