1 TNI AD Gabung Ke Teroris Papua Jenderal Andika, Gimana Ini…

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua belum bisa ditumpas sampai habis. Para teroris ini, malah makin menjadi-jadi. Setelah membakar rumah warga dan pesawat, mereka tega membunuh tukang ojek dan anak SMA. Yang tambah menyedihkan, ada satu anggota TNI yang dengan sadar malah bergabung dengan para teroris menyebalkan ini.

Satu anggota TNI ini bernama Lukis Y Matuan. Pangkatnya Pratu. Dia termasuk anggota Yon Infanteri 400 Raider.

Bahasa resminya, Prajurit Raider itu bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TNPB-OPM). Kabar ini dibenarkan Kepala Penerangan Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa. Menurutnya, oknum TNI AD itu telah bergabung dengan teroris Papua sejak Februari lalu.

Saat ini, kata Suriastawa, TNI AD tengah melakukan pengejaran dan mempersempit wilayah penyebaran OPM bersama prajurit TNI tersebut. Menurutnya, hanya ada dua pilihan bagi mereka. Pertama, menyerah dan kembali bergabung dengan NKRI dan membangun Papua.

“Atau terus diburu oleh anggota TNI dan dibabat sampai ke akar-akarnya,” kata dia.

Asisten Operasi Kogabwilhan III Brigjen Suswatyo menyebut, Pratu Lukius bergabung dengan OPM pimpinan Sabinus Waker yang beroperasi di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Suswatyo menyatakan Lukius sempat ditugaskan di Kabupaten Intan Jaya sejak Agustus 2020 hingga Maret 2021. Lukius diperkirakan kabur sejak 12 Februari tanpa membawa senjata, dan saat ini sudah dianggap sebagai pengkhianat dan masuk dalam daftar anggota KKB di Intan Jaya.

“Aparat keamanan dipastikan akan melakukan penindakan bila menemukannya,” ujar Suswatyo.

Bunuh Anak SMA

Kelakukan teroris Papua juga makin menjadi-jadi. Setelah menembak guru dan tukang ojek, mereka juga menembak pelajar SMA asal Kampung Tagaloa, Kabupaten Puncak Ilaga.

 

Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi, Kombes Iqbal Al Qudussy mengatakan, peristiwa itu terjadi Kamis (15/4) pagi. Korban atas nama Ali Mom merupakan pelajar kelas 1 SMAN I Ilaga.

Sebelumnya, korban menerima telepon dari orang tidak dikenal yang memintanya membelikkan rokok dan pinang. Barang tersebut minta diantarkan ke Kampung Uloni, Ilaga, Kabupaten Puncak.

Korban kemudian mengantarkan barang belanjaan tersebut menggunakan sepeda motor. Namun, sesampainya di pinggir jalan Kampung Uloni, dia langsung ditembaki dengan menggunakan senjata api sebanyak dua kali di bagian kepala.

Warganet ikut mengomentari membelotnya 1 prajurit TNI AD ke teroris Papua dan penembakan pelajar. Mereka geram sekaligus bingung, kenapa bisa ada 1 TNI AD yang malah membelot. “Tangkap hidup-hidup,” tulis @cucusumantri142.

“Waduh kok bisa begini?” tanya akun Pencari Kebenaran @aleuyzulqornaen. “Terpapar OPM nih TNI,” tulis @harmuziee.

Sementara akun @AButtuan mengatakan ini sangat berbahaya. “Sudah terlatih di kesatuan malah gabung dengan KKB, padahal sekarang lagi getol-getolnya penerimaan polisi/TNI kuota diperbanyak bagi OAP.. miris dan prihatin,” cuitnya.

Akun @Uki23 juga sangat kesal dengan kelakuan teroris Papua. Apalagi saat ini korbannya sudah pelajar SMA.

“Cuitan Amnesty cuma usut agar gak terjadi pelanggaran HAM baru disertai twist pre-emptive. Belum sekejap, udah ada lagi pelanggaran HAM baru oleh KKB lagi, sekarang korbannya pelajar. Masih gak mau kecam KKB?,” cuitnya.

@ibnupurna juga mempertanyakan kenapa KKB tidak disebut teroris. “Apakah mereka masih layak disebut KKB? Mengapa mereka tidak disebut teroris?” cuitnya. [QAR]

]]> Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua belum bisa ditumpas sampai habis. Para teroris ini, malah makin menjadi-jadi. Setelah membakar rumah warga dan pesawat, mereka tega membunuh tukang ojek dan anak SMA. Yang tambah menyedihkan, ada satu anggota TNI yang dengan sadar malah bergabung dengan para teroris menyebalkan ini.

Satu anggota TNI ini bernama Lukis Y Matuan. Pangkatnya Pratu. Dia termasuk anggota Yon Infanteri 400 Raider.

Bahasa resminya, Prajurit Raider itu bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TNPB-OPM). Kabar ini dibenarkan Kepala Penerangan Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa. Menurutnya, oknum TNI AD itu telah bergabung dengan teroris Papua sejak Februari lalu.

Saat ini, kata Suriastawa, TNI AD tengah melakukan pengejaran dan mempersempit wilayah penyebaran OPM bersama prajurit TNI tersebut. Menurutnya, hanya ada dua pilihan bagi mereka. Pertama, menyerah dan kembali bergabung dengan NKRI dan membangun Papua.

“Atau terus diburu oleh anggota TNI dan dibabat sampai ke akar-akarnya,” kata dia.

Asisten Operasi Kogabwilhan III Brigjen Suswatyo menyebut, Pratu Lukius bergabung dengan OPM pimpinan Sabinus Waker yang beroperasi di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Suswatyo menyatakan Lukius sempat ditugaskan di Kabupaten Intan Jaya sejak Agustus 2020 hingga Maret 2021. Lukius diperkirakan kabur sejak 12 Februari tanpa membawa senjata, dan saat ini sudah dianggap sebagai pengkhianat dan masuk dalam daftar anggota KKB di Intan Jaya.

“Aparat keamanan dipastikan akan melakukan penindakan bila menemukannya,” ujar Suswatyo.

Bunuh Anak SMA

Kelakukan teroris Papua juga makin menjadi-jadi. Setelah menembak guru dan tukang ojek, mereka juga menembak pelajar SMA asal Kampung Tagaloa, Kabupaten Puncak Ilaga.

 

Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi, Kombes Iqbal Al Qudussy mengatakan, peristiwa itu terjadi Kamis (15/4) pagi. Korban atas nama Ali Mom merupakan pelajar kelas 1 SMAN I Ilaga.

Sebelumnya, korban menerima telepon dari orang tidak dikenal yang memintanya membelikkan rokok dan pinang. Barang tersebut minta diantarkan ke Kampung Uloni, Ilaga, Kabupaten Puncak.

Korban kemudian mengantarkan barang belanjaan tersebut menggunakan sepeda motor. Namun, sesampainya di pinggir jalan Kampung Uloni, dia langsung ditembaki dengan menggunakan senjata api sebanyak dua kali di bagian kepala.

Warganet ikut mengomentari membelotnya 1 prajurit TNI AD ke teroris Papua dan penembakan pelajar. Mereka geram sekaligus bingung, kenapa bisa ada 1 TNI AD yang malah membelot. “Tangkap hidup-hidup,” tulis @cucusumantri142.

“Waduh kok bisa begini?” tanya akun Pencari Kebenaran @aleuyzulqornaen. “Terpapar OPM nih TNI,” tulis @harmuziee.

Sementara akun @AButtuan mengatakan ini sangat berbahaya. “Sudah terlatih di kesatuan malah gabung dengan KKB, padahal sekarang lagi getol-getolnya penerimaan polisi/TNI kuota diperbanyak bagi OAP.. miris dan prihatin,” cuitnya.

Akun @Uki23 juga sangat kesal dengan kelakuan teroris Papua. Apalagi saat ini korbannya sudah pelajar SMA.

“Cuitan Amnesty cuma usut agar gak terjadi pelanggaran HAM baru disertai twist pre-emptive. Belum sekejap, udah ada lagi pelanggaran HAM baru oleh KKB lagi, sekarang korbannya pelajar. Masih gak mau kecam KKB?,” cuitnya.

@ibnupurna juga mempertanyakan kenapa KKB tidak disebut teroris. “Apakah mereka masih layak disebut KKB? Mengapa mereka tidak disebut teroris?” cuitnya. [QAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories