1.029 Warga Mengungsi Banjir Di Jaktim Nyaris Tenggelamkan Rumah

Tingginya intensitas hujan di Ibu Kota belakangan ini membuat sejumlah pemukiman warga terendam banjir. Paling parah terjadi di Cililitan, Jakarta Timur, tinggi air nyaris menyentuh atas rumah.

Banjir di Ibu Kota merendam 42 RW di Jakarta Selatan (Jaksel) dan Jakarta Timur (Jaktim) sejak Senin (8/2). Akibat banjir itu, sebanyak 1.29 warga terpaksa mengungsi ke kantor pemerintahan dan tempat ibadah.

Sayangnya, tempat pengungsian tidak layak. Bahkan, tidak memenuhi standar protokol kesehatan. Salah satu daerah yang terendam banjir cukup parah adalah Kebon Pala di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Di sini ketinggian air mencapai 250 centimeter (cm). Terparah kedua, di daerah Cililitan. Tinggi air hampir menyentuh atap rumah.

Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Timur melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir. Kemudian, mereka ditempatkan ke posko pengungsian. Di Kelurahan Kampung Melayu, terdapat empat posko pengungsian, yakni, di kantor kelurahan, SDN 01/02 Kampung Melayu, aula Masjid Ittihadul Ikhwan, dan pos RW 007. Jumlah warga di pengungsian dibatasi untuk mencegah penularan Corona. Di sekolah, pengungsi dibatasi hanya untuk 20 jiwa, posko kantor Kelurahan, 40 jiwa.

Lurah Kampung Melayu, Setiawan memastikan pihaknya berupaya terus mengawasi warga agar tetap menerapkan protokol kesehatan di pengungsian. Yakni, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Tidak semua korban banjir tertangani dengan baik. Misalnya, warga korban banjir Rawajati, Jaktim. Mereka terpaksa mengungsi ke bawah Jalan Layang Rawajati, Jaktim. Kondisi pengungsian sangat tidak layak. Di sini juga warga abai protokol kesehatan. Sebagian pengungsi di kolong tol ini, sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir di Ibu Kota terjadi di dua kota administrasi, yakni Jaktim dan Jaksel.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Sabdo Kurnianto menyebut, secara keseluruhan di Jakarta terdapat 48 RW yang terdampak banjir Jakarta. Di Jaksel, banjir meliputi empat kecamatan dan tujuh kelurahan, di 17 RW dan 38 RT, dengan ketinggian banjir 40-190 cm. Jumlah pengungsinya sebanyak 30 keluarga dengan total 304 jiwa. Sedangkan di Jaktim, banjir meliputi 25 RW dan 112 RTdengan ketinggian 40-275 cm. Jumlah pengungsinya sebanyak 193 keluarga dengan total 725 jiwa.

“Total pengungsi akibat banjir di dua wilayah Jakarta itu mencapai 1.029 jiwa. Sementara total wilayah yang terendam banjir yakni 42 RW dan 150 RT di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,” terangnya. Menurut Sabdo, banjir di Jakarta awal pekan ini terjadi akibat luapan sejumlah sungai yang diguyur hujan deras sejak Minggu, 7 Februari 2021. “Kali Sunter dan Kali Ciliwung meluap. Jadi, warga yang tinggal di sekitar Kali terdampak luapan tersebut,” jelas Sabdo.

Dijanjikan Hotel

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Zita Anjani menilai, Pemerintah Provinsi (Pemprov) tidak siap menghadapi banjir di Jakarta. Hal itu bisa dilihat dari tempat pengungsian yang tidak layak bagi warga terdampak.

Politisi PAN ini mengingatkan, pengungsian yang layak wajib disiapkan karena saat ini situasi tengah pandemi. Zita menagih rencana Pemprov DKI Jakarta yang mau menyediakan tempat mengungsi per keluarga.

 

“Katanya, Pemprov DKI Jakarta akan siapkan tempat mengungsi per keluarga atau per kamar per keluarga. Bahkan, kalau saya tidak salah dengar sempat bilang di hotel ya,” ungkap Zita kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Tapi faktanya, lanjut Zita, banyak warga mengungsi ke gedung sekolah, masjid, ruko dan gedung kelurahan.

Zita mengaku, sudah melihat langsung kondisi pengungsian di Gedung Karang Taruna, Bidaracina RW 11, dan Masjid Kampung Melayu. Di kedua tempat ini, meski bersih, namun tak menerapkan protokol kesehatan. Kondisi ini rentan memunculkan kluster Covid-19.

“Saya pikir ini berbahaya, akan jadi klaster baru. Bahkan bukan hanya Corona ancamannya, penyakit kulit, demam berdarah, dan yang lainnya juga,” imbaunya.

Ia berharap, Pemprov DKI segera menyikapi situasi ini. Sebab meskipun airnya surut, tapi rumah tidak bisa segera ditempati.

“Butuh beberapa hari untuk bersih dan nyaman kembali. Jadi, mereka butuh persinggahan sementara,” sarannya.

Plt Kepala BPBD DKI Jakarta Sabdo Kurnianto berjanji akan mempersiapkan tempat pengungsian patuh protokol kesehatan.

“Kita sudah minta kepada para Wali Kota untuk menyiapkan lokasi pengungsian yang lebih banyak. Kalau bisa hotel bintang satu dan dua, juga lokasi seperti wisma itu disiapkan,” kata Sabdo dalam video YouTube Pemprov DKI Jakarta, Jumat (6/11) lalu.

Sabdo mengatakan, pihaknya tidak akan membuat pengungsi banjir dengan cara penyekatan. Hanya saja, para pengungsi akan dipisahkan setiap keluarga.

“Bagaimanapun kita berupaya memanusiakan mereka. Kalau bisa memang mereka masing-masing menempati satu kamar, baik di GOR, di wisma, ataupun hotel itu lebih baik,” ungkapnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pihakya telah menyiapkan tenda khusus untuk pengungsi banjir yang terpapar Covid-19.

“Bila ada pengungsi di Jakarta punya permasalahan dengan Covid-19, kita siapkan tenda khusus. Jadi tendanya ada bilik- biliknya,” kata Anies dalam diskusi daring yang diselenggarakan Jaringan Masyarakat Siber Indonesia, baru-baru ini.

Anies menyebut, ada 100 tenda khusus yang disiapkan pihaknya. [FAQ]

]]> Tingginya intensitas hujan di Ibu Kota belakangan ini membuat sejumlah pemukiman warga terendam banjir. Paling parah terjadi di Cililitan, Jakarta Timur, tinggi air nyaris menyentuh atas rumah.

Banjir di Ibu Kota merendam 42 RW di Jakarta Selatan (Jaksel) dan Jakarta Timur (Jaktim) sejak Senin (8/2). Akibat banjir itu, sebanyak 1.29 warga terpaksa mengungsi ke kantor pemerintahan dan tempat ibadah.

Sayangnya, tempat pengungsian tidak layak. Bahkan, tidak memenuhi standar protokol kesehatan. Salah satu daerah yang terendam banjir cukup parah adalah Kebon Pala di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Di sini ketinggian air mencapai 250 centimeter (cm). Terparah kedua, di daerah Cililitan. Tinggi air hampir menyentuh atap rumah.

Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Timur melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir. Kemudian, mereka ditempatkan ke posko pengungsian. Di Kelurahan Kampung Melayu, terdapat empat posko pengungsian, yakni, di kantor kelurahan, SDN 01/02 Kampung Melayu, aula Masjid Ittihadul Ikhwan, dan pos RW 007. Jumlah warga di pengungsian dibatasi untuk mencegah penularan Corona. Di sekolah, pengungsi dibatasi hanya untuk 20 jiwa, posko kantor Kelurahan, 40 jiwa.

Lurah Kampung Melayu, Setiawan memastikan pihaknya berupaya terus mengawasi warga agar tetap menerapkan protokol kesehatan di pengungsian. Yakni, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Tidak semua korban banjir tertangani dengan baik. Misalnya, warga korban banjir Rawajati, Jaktim. Mereka terpaksa mengungsi ke bawah Jalan Layang Rawajati, Jaktim. Kondisi pengungsian sangat tidak layak. Di sini juga warga abai protokol kesehatan. Sebagian pengungsi di kolong tol ini, sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir di Ibu Kota terjadi di dua kota administrasi, yakni Jaktim dan Jaksel.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Sabdo Kurnianto menyebut, secara keseluruhan di Jakarta terdapat 48 RW yang terdampak banjir Jakarta. Di Jaksel, banjir meliputi empat kecamatan dan tujuh kelurahan, di 17 RW dan 38 RT, dengan ketinggian banjir 40-190 cm. Jumlah pengungsinya sebanyak 30 keluarga dengan total 304 jiwa. Sedangkan di Jaktim, banjir meliputi 25 RW dan 112 RTdengan ketinggian 40-275 cm. Jumlah pengungsinya sebanyak 193 keluarga dengan total 725 jiwa.

“Total pengungsi akibat banjir di dua wilayah Jakarta itu mencapai 1.029 jiwa. Sementara total wilayah yang terendam banjir yakni 42 RW dan 150 RT di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,” terangnya. Menurut Sabdo, banjir di Jakarta awal pekan ini terjadi akibat luapan sejumlah sungai yang diguyur hujan deras sejak Minggu, 7 Februari 2021. “Kali Sunter dan Kali Ciliwung meluap. Jadi, warga yang tinggal di sekitar Kali terdampak luapan tersebut,” jelas Sabdo.

Dijanjikan Hotel

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Zita Anjani menilai, Pemerintah Provinsi (Pemprov) tidak siap menghadapi banjir di Jakarta. Hal itu bisa dilihat dari tempat pengungsian yang tidak layak bagi warga terdampak.

Politisi PAN ini mengingatkan, pengungsian yang layak wajib disiapkan karena saat ini situasi tengah pandemi. Zita menagih rencana Pemprov DKI Jakarta yang mau menyediakan tempat mengungsi per keluarga.

 

“Katanya, Pemprov DKI Jakarta akan siapkan tempat mengungsi per keluarga atau per kamar per keluarga. Bahkan, kalau saya tidak salah dengar sempat bilang di hotel ya,” ungkap Zita kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Tapi faktanya, lanjut Zita, banyak warga mengungsi ke gedung sekolah, masjid, ruko dan gedung kelurahan.

Zita mengaku, sudah melihat langsung kondisi pengungsian di Gedung Karang Taruna, Bidaracina RW 11, dan Masjid Kampung Melayu. Di kedua tempat ini, meski bersih, namun tak menerapkan protokol kesehatan. Kondisi ini rentan memunculkan kluster Covid-19.

“Saya pikir ini berbahaya, akan jadi klaster baru. Bahkan bukan hanya Corona ancamannya, penyakit kulit, demam berdarah, dan yang lainnya juga,” imbaunya.

Ia berharap, Pemprov DKI segera menyikapi situasi ini. Sebab meskipun airnya surut, tapi rumah tidak bisa segera ditempati.

“Butuh beberapa hari untuk bersih dan nyaman kembali. Jadi, mereka butuh persinggahan sementara,” sarannya.

Plt Kepala BPBD DKI Jakarta Sabdo Kurnianto berjanji akan mempersiapkan tempat pengungsian patuh protokol kesehatan.

“Kita sudah minta kepada para Wali Kota untuk menyiapkan lokasi pengungsian yang lebih banyak. Kalau bisa hotel bintang satu dan dua, juga lokasi seperti wisma itu disiapkan,” kata Sabdo dalam video YouTube Pemprov DKI Jakarta, Jumat (6/11) lalu.

Sabdo mengatakan, pihaknya tidak akan membuat pengungsi banjir dengan cara penyekatan. Hanya saja, para pengungsi akan dipisahkan setiap keluarga.

“Bagaimanapun kita berupaya memanusiakan mereka. Kalau bisa memang mereka masing-masing menempati satu kamar, baik di GOR, di wisma, ataupun hotel itu lebih baik,” ungkapnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pihakya telah menyiapkan tenda khusus untuk pengungsi banjir yang terpapar Covid-19.

“Bila ada pengungsi di Jakarta punya permasalahan dengan Covid-19, kita siapkan tenda khusus. Jadi tendanya ada bilik- biliknya,” kata Anies dalam diskusi daring yang diselenggarakan Jaringan Masyarakat Siber Indonesia, baru-baru ini.

Anies menyebut, ada 100 tenda khusus yang disiapkan pihaknya. [FAQ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories